
Rumah Kediaman Vino di Kalimantan Timur.
Pukul 21.08 WITA
Sebuah ruangan kerja dalam ruang interior terbaik milik Vino Febian, ia masih bekerja bersama leptopnya. Setelah bekerja dengan laporan, Vino mulai memantau profit penjualan Apartemen dan Ruko mewah dalam kurun waktu yang ditargetkan dari sebuah aplikasi Marketing VERON, kemudian iseng melihat data pembelinya. Vino mendapati salah satu daftar nama pembeli itu adalah Sania Lauren. Kedua bola mata pria itu fokus tertuju pada alamat rumah Sania.
Sejenak pria itu berpikir sambil menyandarkan kepala di kursi kerjanya.
"Huuuft, ternyata Kalimatan ini terasa sempit, aku bisa bertemu kembali dengan perempuan itu?" ucapnya dalam hembusan nafas yang berat.
"Tidak di sangka ternyata gadis cilik yang imut itu adalah putrinya!"
Sejenak Vino mulai menyadari dan teringat dengan ucapan Miranda Bella yang sama sekali belum pernah melihat penampilan sosok sang Ayah sejak lahir.
"Bocah kecil tentu berkata jujur yah!" Vino mulai mengerutkan dahinya.
"Bisa jadi Sania menikah lalu suaminya meninggal atau memang benar merantau? Tapi jika Sania memiliki suami yang sedang bekerja di luar kota, setidaknya ia menemui sang putri yang sudah cukup besar!"
"Jika benar, Miranda belum pernah melihat Ayahnya, lalu siapa Ayahnya? Artinya...Sania tidak menikah?...atau Jangan-jangan, dia hamil setelah malam itu?" batin Vino mulia bertanya-tanya dan terbayang dengan adegan panas bercintanya bersama Sania, mulai krasak-krusuk dengan kepalanya.
"Mungkinkah Miranda Bella anakku?"
"Aaaarggg!" Vino terlihat begitu pusing, lalu menutup leptopnya.
**
Kediaman Sania.
Sesampai di rumah, Sania mengeluhkan tindakan sang putri kepada Antonius.
"Miranda, dengar Mama baik-baik, jangan pernah lagi pergi sembarangan tanpa izin dan sepengetahuan Mama, jika kamu tetap bandel, Mama enggak akan bawa kamu kemana pun!"
"Hem, Baiklah!" jawab Santai Miranda dengan suara nyaringnya sambil bergaya masa bodoh si bocah cilik.
"Kakek, Om itu tampan sekali, jadi Mira terbuai dengannya, pakaiannya bagus, ia juga membelikan ku banyak jajanan yang ku mau, sepertinya dia orang terkaya di Kalimantan ini!"
"Hahahaha," tawa Antonius mendengar ocehan lugu sang cucu.
"Siapa namanya!"
Miranda menepuk jidatnya,
"Argh...Mira lupa bertanya?"
"kau pasti merugi!" ucap si Kakek.
"Mira ingin bertemu dengannya lagi!" rengek anak kecil itu.
"Baiklah, Kakek akan menyuruh Mama kamu, untuk mencari pria itu lagi!"
Antonius hanya tertawa melihat celotehan polos cucunya yang sangat cerdas berbicara. lama keduanya bercerita, akhirnya Miranda tertidur pulas. Antonius memberikan selimut hangat untuk Miranda.
Sementara itu Sania mulai terlihat gusar di kamarnya.
"Tlek!" pintu kamar Sania terbuka.
"Ayah?"
"Apa Kau masih sibuk!"
"Ti...tidak Ayah!"
"Boleh, Ayah masuk!"
"Iyah!"
Antonius duduk sejenak.
"Tampaknya, Miranda terlihat bahagia bertemu dengan seorang pria yang ia sendiri tidak tau namanya siapa? Apakah kau mengenal pria yang diam-diam membawa cucu ku itu!"
"Kenapa Ayah bertanya soal itu?"
"Ayah takut, Pria itu akan datang lagi menemui Miranda, saat ini banyak modus penculikan anak, kau jangan ceroboh, jika tidak yakin membawa Miranda keluar, lebih baik ia tinggal saja di rumah! Miranda bocah yang sangat aktif, daya rasa penasarannya cukup besar!"
"Maafkan Sania Ayah!" jawaban wanita itu dalam raut yang penuh dengan kecemasan.
"Yah sudah, Ayah istirahat dulu yah?"
Sania masih menatap langkah kaki pria yang sangat ia sayangi itu dari belakang.
"Ayah?" panggil Sania membuat Antonius terhenti.
"Pria itu adalah Vino?" kata Sania yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sang Ayah.
"Vino??" gumam Antonius, mulai berpikir.
"Sania bingung sekali Ayah, apa yang harus aku lakukan, aku sangat terkejut, jantungku serasa berhenti tiba-tiba dia sedang bermain bersama Miranda. Apa jangan-jangan dia tau jika Miranda adalah anaknya, dan dia datang kesini untuk mengambil Miranda dariku? Ayah...Sania takut sekali jika itu benar terjadi!"
Sania hanya terdiam.
"Sania, Miranda juga butuh figur seorang Ayah.
Semakin hari, ia akan semakin besar, pasti dia akan terus bertanya soalnya Ayahnya. Sekarang saja, ia sudah sangat detail bertanya kepadaku.
Dimana Ayahku Kakek? Sedang apa dia? Apakah dia tidak rindu denganku? Mengapa Kakek bisa tidak tau keberadaan Ayahku?"
Kau harus pikirkan itu, tidak lama lagi ia akan masuk TK dan SD, tentu sosok Ayah berperan besar disana!"
"Bagiamana jika Vino tidak perduli?" tanya Sania.
"Tidak masalah, Sejak lahir, kita sudah terbiasa membesarkan Miranda tanpa seorang Ayah, kelak pun anak itu akan tau semuanya! Maksudnya Ayah adalah jangan kau tutup atau halangi Vino jika ia mencari tau tentang kalian!"
"Baiklah Ayah!"
Sania menjadi tenang saat mendengar tanggapan dari Antonius.
***
Dua hari berlalu, rasa penasaran Vino semakin membara. Tapi ia bingung bagaimana caranya bisa bertemu kembali dengan Sania dan Miranda.
Sampai akhirnya ia menemukan cara manis. Selain berhadiah sepeda motor langsung.
Vino menambahkan fasilitas disain interior gratis untuk 10 orang yang beruntung dari 100 orang pertama yang membeli Rukonya. Tentu Sania adalah salah satu pembeli beruntung itu.
Team Marketing menelpon Sania.
"Selamat Iyah Ibu, untuk kepastiannya sore ini di harapkan datang ke kantor Marketing Pusat, langsung bertemu dengan Bos utama kami, Jangan lupa membawa si adik kecil!" ucap si staf.
"Tapi anak saya sangat aktif sekali, nanti jadi merepotkan Kalian lagi!"
"Tidak apa-apa ibu, kita ingin memberi bingkisan khusus buat si adik kecil! Siapa tau dengan membawa si adik, harga Ruko bisa nego kembali, karena Bos kami sangat menyukai anak kecil... hehehe!" tawa kecil sang Marketing
"Ouh begitu, baiklah!" jawab Sania senang.
"Trup." Panggilan terhenti.
"Andai kata harga Ruko itu bisa nego lagi, cukup lumayan juga. Di tengah kesulitanku, kehadiran Miranda selalu membawa rezeki melimpah!" batin Sania bergegas pulang dari Rumah Sakit untuk menjemput putrinya.
***
"Apa kau yakin membawa Miranda?" tanya Antonius.
"Yakin Ayah! Ini hanya sebentar saja!"
"Lagian besok aku libur, Tina (pengasuh Miranda) juga akan kembali!"
"Baiklah, kalau begitu kamu tetap fokus pada Miranda!"
"Baik Ayah😊!"
Sore itu juga Sania mendatangi kantor besar Marketing Veron yang tidak jauh dari rumah Vino.
Dalam antrian 10 pembeli, Sania berada di urutan terakhir membuat wanita itu harus menunggu lebih lama dari perkiraannya. Miranda si bocah cilik sudah terlihat bosan. Sania juga sudah kewalahan memantau putrinya yang aktif. Entah mengapa Staf pegawai disana ikut membantu mengawasi Miranda. Seakan-akan mereka sudah di tugaskan.
"Tenang ibu, kami akan memantaunya!" ucap mereka.
"Terima kasih yah!" ucap Sania berkali-kali dengan rasa malu.
**
Tiba-tiba Tiga orang staf penting berpakaian sangat rapi dari PT VERON datang menyapa Sania.
"Dengan ibu Sania!"
"Iyah, benar!" saut wanita itu dengan cepat berharap ia segera bertemu dengan team disain untuk Ruko yang menjadi pilihannya.
"Khusus ibu Sania, mari ikut saya, Ibu adalah pembeli yang sangat beruntung sekali, karena langsung bertemu dengan Direktur Utama kami. Ibu juga bisa nego kembali soal harga Ruko yang pernah ibu minta kemarin."
Wajah kusut Sania kembali sumringah mengikuti langkah para staf yang berpakaian sangat rapi itu.
Saat ingin menaiki mobil.
"Maaf, ini mau kemana yah?" tanya Sania mulai ragu
"Langsung bertemu dengan Direktur Utama kami, tidak apa-apa ibu, lokasi Kediamannya sangat dekat, terletak di belakang kantor ini!"
"Ouh begitu!"
Miranda Bella tampak senang, karena ia sudah bosan berada di kantor Marketing.
"Tentu aku tidak perlu khawatir, ini perusahaan properti yang sangat besar di Indonesia!" batin Sania yang akan segera di bawa oleh para staf langsung menuju kediaman (Rumah) Vino.