MIRANDA

MIRANDA
Part 52-MRD



Terlihat Miranda sedang berdiri membayar barang belanjaan di kasir.


Rangga mulai membuka ponselnya yang sengaja ia silent, pria itu tidak ingin di ganggu oleh siapapun saat fokus bersama Miranda.


"😲 Gawat Vino sudah 10 kali melakukan panggilan???" Batin Rangga terkejut karena Vino tidak pernah mencoba menelpon dirinya lebih dari 5 kali.


"Ada apa yah?" batinnya bertanya, Rangga kembali menelpon.


"Halo Bro? Apa ada urusan penting?"


("Kasih tau enggak yah, tapi jika tidak di beritahu, pasti akan lebih bermasalah lagi!" Batin Vino sempat terdiam)


"Oi! kenapa diam?"


"Menurut pengakuan Rusdy, Jane memiliki niat buruk kepada Miranda dan Olivia. Awalnya Rusdy ingin menghabisi nyawa Jane, namun sepertinya mertua mu yang sudah keropos itu malah mengalami serangan balik yang mengenaskan, sehingga sekarang dia sedang terbaring lemah di rumah sakit, ada dua tusukan keras Jane yang menjadi PR bagi Dokter, satu di bagian perut dan satu lagi di kakinya!"


"Apah?" Rangga merasa tidak percaya, terlihat dahinya mengerut tajam.


"Jika kau masih menganggap ia sebagai mertua, datanglah untuk melihatnya!"


"Jadi perempuan iblis itu, lagi-lagi mencari masalah dengan ku!"


"Hem!"


"Em, aku yakin! Ada seseorang yang berdiri di belakang perempuan itu, karena keliatannya ia semakin kukuh melangkah. Lihat saja nanti, jika dia berani mengganggu keluargaku, aku akan langsung menghabisinya!"


"Tapi jangan terburu-buru karena kekasih Jane itu bukanlah orang sembarangan!"


"Sepertinya kau terlalu takut!" kata Rangga.


"Gua tau siapa yang akan kamu hadapi dan gua berusaha tidak ingin ikut campur!"


"Baiklah terima kasih yah Bro! Sepertinya kau menantu yang di akui, sayang putrinya sudah meninggal!" ucap Rangga.


"Heh!" Tawa tipis Vino.


"Baiklah, aku akan datang melihat mertuaku itu!"


"Mas! Sudah selesai" tegur Mira.


"Sudah dulu yah Bro!"


Suara Miranda terdengar jelas di telinga Vino.


"Ok!"


Percakapan mereka pun berakhir.


***


Mengapa aku selalu saja merasakan De Javu jika sedang melihat Miranda, bahkan mendengar suaranya, aku merasa ia seperti masih hidup kembali!" Batin Vino terduduk mengingat kenangan manisnya saat bersama sang mantan yang sudah lama pergi untuk selamanya.


"Tuan. Lihatlah, aku bawa Roti hangat untukmu, apa kau mau?" sapa Sania datang menghampiri Vino setelah bekerja, Rumah sakit itu juga tempat Sania bertugas.


Vino memperhatikan Sania yang asyik mengunyah dalam pandangan mata yang tidak semangat.


"Makanlah!" Kata Vino jutek membuang wajahnya ke depan.


"Ini steril Tuan, harganya juga mahal, hari ini aku baru saja gajian!"


"Oh Iyah?"


"Memang kau posisi Dokter yang penting disini!"


"Belum, selain aku baru saja tamat, aku belum punya pengalaman banyak! Tentu aku masih tahap bekerja dan belajar!"


"Ouh! Pantaslah gaji mu tidak besar!"


"Tapi cukuplah untuk diriku, ditambah lagi gaji dari Tuan?"


"Semua keperluan kamu sudah ditanggung, kamu masi tetap minta gaji? Sampai detik ini reputasi kamu masih baik-baik saja, seharusnya itu sudah cukup membayar semua pelayanan yang tidak seberapa!"


Sania terdiam.


"Karena ini steril dan mahal, gua makan!"


"Tidak di gaji juga tidak apa-apa kok Tuan! Hehehehe?" Tawa cengengesan Sania yang sempat dilirik Vino.


"Coba kamu berdiri?" pinta Vino.


"Berdiri?" Sania buru-buru mengunyah roti yang ada di mulutnya dengan cepat berdiri di depan Vino.


Pria itu memperhatikan dari atas sampai bawah sambil berkata dalam hatinya;


"Mengapa perempuan satu ini, sedikit lebih cantik saat mulai terlihat memakai seragam doang, aneh! Apa jangan-jangan di seragamnya ada pemikat di mata ku."


"Pu...Putar? Untuk apa?"


"Aku katakan berputar?"


"Ada apa sih?" gumam Sania mulai bingung namun ia tetap berputar.


"Hem, Yupi dan bokongnya lumayan timbul!" batin Vino.


"Sudah duduk lah?"


"Ada Apa Tuan? Apa ada noda di belakang baju ku?" Sania berusaha melihat punggung di belakangnya.


"Bukan di belakang baju loh, tapi di mulut yang belepotan, jorok banget sih kamu, gua enggak habis pikir kenapa kamu bisa jadi Dokter!"


Sania buru-buru membersihkan mulutnya dengan telapak tangannya.


Vino terkejut.


"Astaga pakai tangan? Apa kamu tidak membawa tisu?" Vino buru-buru mengambil tisu kecil dari sakunya dan melempar ke pangkuan Sania.


"Iyah? Maaf Tuan!" Wanita itu cepat-cepat mengambil tisu dan mengusap mulutnya.


"Gua saja pria selalu bawa tisu, apalagi kamu seorang wanita dan berprofesi Dokter?"


"Iyah Tuan!" ("Bawelnya si es Vino ini, padahal yang kotor itu mulutku" gerutu Sania😬)


"Ouh iyah, batalkan saja rencana untuk merubah nama kamu menjadi Miranda!" kata Vino.


"Ke...kenapa?"


"Karakter Miranda benar-benar tidak ada di dalam diri kamu dan benar-benar tidak cocok, Gua juga ingin move on dari masa lalu!" Setelah berkata seperti itu, Vino pergi begitu saja meninggalkan Sania.


Wanita itu terdiam memandangi langkah Tuannya dari belakang dan mulai berbicara dalam hatinya;


"Pria itu benar-benar sangat mencintai kekasihnya yang sudah lama pergi, bahkan masih perduli dengan keluarga si wanita. Terus mencari karakter Miranda di jiwa setiap wanita dan berharap Miranda bisa ada atau pun kembali lagi di dunia nyata. Apakah ia berpikir jika Miranda istri Rangga juga kekasihnya dulu. Karena terlihat ia begitu terobsesi. Aku jadi iri, andai pria yang aku cintai bisa memberikan kesungguhan cinta seperti itu, sebesar apapun cobaan itu, mungkin airmata ini tidak akan jatuh membanjiri pipi dan hidup ini begitu indah. Tidak bisa memiliki cinta, itu sangat sakit, aku bisa merasakannya.


Apa yang di katakan Tuan Vino memang benar, mereka saling mencintai, hanya saja, takdir kematian yang memisahkan. Berbeda dengan kisah ku, aku mencintai seseorang yang tidak pernah bisa membalas cinta ku.


Sebenarnya dia baik, setidaknya dia sudah banyak menolongku. Bagaimana aku bisa menolongnya? Agar ia bisa keluar dari masa lalu pada seorang wanita yang selalu menjeratnya. Tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hadir kembali, Apalagi keluarganya terus mendesak agar ia menikah dan memiliki keturunan," Sania sambil menyandarkan kepalanya.


***


Di dalam Mobil Rangga.


"Kamu beli apa saja?" tanya Rangga.


Miranda mengeluarkan satu per satu mainan kecil penghibur bayi itu dengan semangat.


"Lucu yah Mas!" memperhatikan kepada Rangga.


Rangga hanya tersenyum manis.


"Terima kasih yah, kamu sudah berkenan merawat Olivia, biar demi apapun itu!"


"Iyah Mas, aku juga sudah menganggap Olivia sebagai buah hati ku sendiri?"


Terlihat Raut wajah Rangga yang tampak tenang namun kepikiran dengan kondisi mertuanya.


"Mulai hari ini, aku akan berikan kamu supir pribadi dan Bodyguard perempuan."


"Bodyguard perempuan? Untuk apa?"


"Jika terjadi apa-apa, mungkin aku akan sulit mencari ibu pengganti seperti kamu!" jawab Rangga.


Wanita itu tersenyum tipis.


"Aku tidak apa-apa kok! Mas?"


"Tolong jangan membantah?"


"Tapi Pak Atir kan sudah...?"


"Aku akan memanggilnya kembali!"


"Perhatian dan kedekatan ini justru akan semakin membunuh ku?" batin Miranda yang curi-curi pandang ke arah Rangga.


"Ada Apa? tanya Rangga yang sadar, jika Miranda memperhatikannya.


"Ouh! Tidak ada apa-apa Mas!" jawab Miranda gugup.


"Atau semua ini karena ada ancaman dari Tante Jane!" batin Miranda mulai menyadari.