MIRANDA

MIRANDA
Part 16-MRD



Dua hari kemudian.


Jalan kehidupan ku yang seperti di bawa oleh derasnya air bah, lalu terdampar lagi entah dimana? Semoga kali ini bersama orang yang benar-benar ingin menolong ku. MIRANDA


***


"Tliit!" Bunyi sensor sistem kunci yang canggih terbuka secara otomatis dari sebuah pintu Apartemen mewah milik Tasya Kamila di Kuala Lumpur.


"Ayo Masuk!" Ajak lembut Tasya kepada Miranda yang masih bengong dalam penampilannya yang lusuh.


"Dokter bilang, kamu hanya perlu istirahat dan minum vitamin saja!"


"Iyah kak!"


Keduanya berjalan menuju ruang tamu Apartemen yang lumayan luas.


"Oh Iyah kak? Bagaimana jika aku pulang saja ke Indonesia, bisakah kakak menguruskan nya?" Tatapan permohonan Miranda.


"Duduklah dulu! Pria yang kau tusuk itu adalah seorang pengusaha kaya, tidak semudah itu lepas darinya. Semua barang-barang kamu yang tertinggal di hotel telah di sita oleh mereka sebagai barang bukti. Untungnya tusukan itu tidak terlalu dalam, sehingga ia tidak mati, saat ini korban sedang terbaring di rumah sakit, jadi kasus ini tidak terlalu berat.


Aku masih memperjuangkan mu, aku juga sedang mencoba melobi, bagaimana caranya agar bisa mengajukan pihak perdamaian dengan mereka tanpa harus beradu di pengadilan dan juga minta perlindungan dari pihak pemerintah kita melalui KBRI yang ada di Kuala lumpur, bahwa kamu salah satu termasuk korban perdagangan manusia.


Mantan suami kamu yang bernama Damar itu juga sedang dalam pencarian polisi atau buronan baik pihak Indonesia maupun Malaysia. Jadi kamu bukan menjadi korban pertama."


"Hiks...tubuhku seperti sedang berbalut kotoran binatang, aku jijik sekali pernah bersetubuh dengan pria bajingan itu. Hiks...hiks...!" tangis Miranda.


"Sudahlah Miranda, jangan pernah menyesali setiap apa yang terjadi denganmu, berhenti menangis. kau tau! Kita tidak akan bisa menikmati indahnya mentari, jika belum merasakan gelapnya malam, semua orang pasti menemui masalah. Masa lalu itu adalah pelajaran berharga untukmu!"


"Terima kasih banyak kak! Aku berhutang Budi kepada kakak!"


Miranda tidak menjelaskan kepada Tasya jika ia sudah menikah 2 kali. Wanita itu bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan semua masalah hidupnya.


"Sekarang kamu makan yah! Aku ganti baju dulu!"


"Baik kak!"


Tasya bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


***


"Tlililit?"


"Sayang kapan balik?" tanya Rangga merebahkan dirinya di kasur.


"Kangen?" ucap manja Tasya sambil membuka blazernya.


"Yup!"


"Hem, entar deh, masih ada urusan sedikit lagi."


"Pokoknya begitu kamu pulang, aku langsung bawa kamu ke KUA!"


"Kawin lari begitu!"


"Apalah itu, yang penting kita kawin!"


"Hehehehe 🤭 enggak sabaran banget sih!"


"Terserah, pokoknya aku mau kamu!"


"Iyah...Iyah!"


"Sudah makan!" tanya Rangga.


"Sudah! Lagi apa Mas?"


"Lagi mikirin kamu?"


"Gombal!"


"Kok tau, Hahaha?" tawa Rangga.


"Enggak lucu ah!"


"Eh, Sayang! Sudah dulu yah, aku mau kerja lagi!" Pinta Rangga.


"Lembur terus!" Ledek Tasya.


"Demi kamu!"


"Ummmmach😘"


"Ummmmach juga😘" balas Rangga.


Seketika itu, hati Tasya berbunga-bunga, ia salah satu orang yang banyak membantu kemajuan karir Rangga mulai dari awal hingga lelaki itu tertanam Budi kepada Tasya. Rangga juga sudah melupakan dan mengikhlaskan kehilangan Miranda meski perempuan desa itu sebenarnya adalah cinta pertamanya.


***


"Tlilit!"


"Triana?" batin Tasya melihat layar ponselnya yang kembali berdering (Teman Tasya, ia seorang Dokter spesial dalam)


"Malaam, Dokter syantiik, jam segini, masih kerja aja nih!" Sapa manja Tasya.


"Cha (panggilan kecil Tasya) hasil LAB kamu sudah keluar? Kapan kamu ada waktu datang ke klinik atau kita bisa ngobrol santai dimana aja kamu mau?"


"Aku masih di KL say, entar yah, begitu sampai ke Jakarta, langsung cus deh ke tempat kamu!"


"Hasilnya?" tanya Tasya balik.


"Hmm, entar aja deh gue jelasin!"


"Ok!"


"Trup!"


***


Setelah berganti pakaian. Tasya menatap Miranda yang sedang berdiri terpaku memandang i sebuah pajangan foto keluarga Tasya.


"Apa ada yang aneh?" Sapa Tasya dari belakang.


"Eh, Maf kak?" Mira terkejut.


"Apa kau merasa sedang melihat dirimu disana?" Tanya Tasya mengambil foto adiknya.


Miranda memperhatikan.


"Kalian sangat mirip kan? Hanya saja wajah adikku sedikit lebih bulat, sedangkan kamu lebih tirus. Tetapi untuk Mata, hidung dan bibir kalian sangat mirip? Namanya Miranda Agustina!"


"Oh Iyah? Apa ia masih kuliah?" senyuman Miranda menatap Tasya.


Tasnya menggeleng.


"Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu?"


"Ouh, Maaf kak!"


"Tidak apa-apa, Ibu ku juga sudah meninggal saat melahirkan dirinya, Ibu kami memiliki riwayat penyakit keturunan auto imun berjenis lupus, sedangkan adik ku mengalami gagal jantung disaat usianya akan mencapai 20 tahun dan semua itu terjadi tiba-tiba saja, begitu cepat, bagai mimpi buruk di malam hari. Ayah ku sudah lama menikah lagi. Ia hanya sibuk dan perduli dengan keluarganya yang baru!"


"Ouh!"


"Aku sudah terbiasa hidup sendiri, untungnya ibu seorang pengusaha kaya yang memang sudah terlahir dari keluarga Bangsawan, ia banyak mewariskan hartanya untukku sehingga untuk urusan finansial, aku tidak begitu kesulitan!"


Miranda hanya mendengarkan curhatan singkat Tasya, tentang kehidupan yang tidak kalah sulit.


"Hidup mandiri, pahit, getir kehidupan juga aku lalui seorang diri, jadi kamu jangan merasa terpuruk sendiri. Selagi masih ada kesempatan, bangkit lah!"


"Iyah kak?"


"Ayok kita ke area Lobi!"


Area Lobi Apartemen yang luas dan nyaman sekaligus menatap indahnya gemerlap lampu di kota Kuala Lumpur.


"Disain Apartemen kakak sangat bagus?" puji Miranda mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin melihat wanita yang sudah menolongnya itu bersedih.


"Apartemen ini baru saja aku beli, untuk urusan interiornya, di rancang langsung oleh calon suamiku!"


"Jadi kakak akan menikah?"


"Insya Allah, Do'a kan yah, semoga semuanya lancar!"


"Pasti calon suami kakak itu orangnya sempurna!"


"Hahahaha, Mira... tidak ada yang sempurna di dunia ini! Percayalah!"


Senyuman polos Miranda.


"Kakak yakin kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik!"


"Aku tidak ingin menikah lagi kak, sendiri lebih baik!"


"Kakak tidak bilang sekarang! Tapi NANTI!" Tasya memahami kejiwaan Miranda yang trauma akan pria dan pernikahan.


Tasya menatap senyum kebahagiaan kepada Miranda.


"Apa kakak sedang menatap Miranda Agustina!" tebak Miranda.


Tasya mengangguk.


"Boleh aku memeluk mu?"


seketika Miranda langsung merangkul Tasya,


keduanya saling berpelukan dan sama-sama meneteskan airmata.


"Aku merasakan ada jiwa adikku yang hidup di tubuh wanita malang ini!" Tasya.


"Untuk pertama kali aku merasakan pelukan hangat dari seorang kakak, sejak kecil aku selalu cemburu jika ada temanku yang memiliki kakak perempuan!" Miranda.


Setelah pelukan itu terlepas, Tasya memegang lembut kedua pipi Miranda, sebuah tatapan tajam yang meyakinkan seseorang.


"Mau kah kamu menjadi adik angkat ku?" tanya Tasya dalam mata berkaca-kaca.


Sebuah pertanyaan yang mengejutkan hati Miranda. Perasaannya campur aduk antara senang dan merasa takut.


"Jangan takut Miranda, aku tulus menolong mu, aku akan mengubah mu menjadi wanita yang lebih terhormat dalam kelas Bangsawan!" pernyataan tegas Tasya yang bisa membaca raut ketakutan dari wajah polos Miranda.


Tasya percaya, jiwa adiknya hidup di dalam tubuh Miranda.


***