MIRANDA

MIRANDA
Bab 38-MRD



Terlihat Jane Anita berjalan santai ingin memasuki ruang Tasya dan bayinya.


"Maaf, Anda di larang masuk!" ucap para pengawal.


"Apa kalian tidak tau saya ini siapa? Saya ibu dari Tasya!" hentak Jane dengan nada menantang.


"Siapa pun anda, Tuan Rangga dan Vino hanya mengizinkan orang-orang tertentu saja yang boleh memasuki ruangan ini, sudah ada di dalam daftar!"


"Sial!" Batin Jane merasa kesal dalam wajah bengisnya.


Ia tidak berputus asa, tetap mencari cara untuk membuat Tasya semakin menderita.


***


Makan malam yang cukup romantis, simpel namun tetap terkesan mewah.



Rangga membooking area roof top restoran agar makan malam mereka terlihat tenang dengan keindahan bertabur bintang dan megahnya gemerlap lampu-lampu kota.


"Wah indah sekali!" Batin Mira terpesona dengan suasana yang ada, seperti pada umumnya, seorang wanita sangat bahagia dengan hal-hal yang berbaur surprise.


"Ayo duduk!" Rangga menarik kursi untuk mempersilahkan kepada Miranda dengan senyum manisnya.


"Mengapa tiba-tiba dia berubah menjadi baik, Romantis sekali, Rangga yang aku kenal itu tidak Romantis!"


Sejenak Miranda terbayang dengan keinginannya dulu, saat keduanya sedang tiduran bersama di atas kasur yang jelek.


***


"Sayang, Jika nanti disain ku laris manis di pasaran, lalu aku punya banyak uang, kamu mau makan apa selain martabak mesir?" tanya Rangga mengelus manja rambut halus sang istri.


Wanita itu bergegas bangkit mengambil sebuah majalah, memperlihatkan gambar makan malam romantis di sebuah kota. Mas, aku itu mau makan malam seperti ini lo Mas! Makan malam yang romantis, berdua di atap gedung dengan bertabur bintang serta lampu-lampu kota yang indah, mirip seperti di film-film itu Lo Mas!" ungkap keluguan Mira sambil tertawa kecil di samping Rangga.


"Iyah...Iyah... Aku list deh keinginan kamu!" Jawab Rangga mengangguk-angguk kecil.


"Hahahaha (Miranda mencubit dagu Rangga) tapi Mira hanya bercanda kok, Mas! Makan malam seperti itu, pasti menghabiskan jutaan rupiah kan? Lebih baik kita beli beras berkarung-karung, agar tidak kelaparan," ungkap sederhana Mira kala itu, saat kehidupan mereka masih dalam kesulitan.


***


"Aku tidak pernah membayangkan, keinginan bercanda itu, ternyata bisa menjadi kenyataan, dan dia masih mengingatnya"


"Ayo, malah bengong!" Panggil Rangga kembali.


"I...Iyah," Miranda bergegas duduk.


Tidak lama kemudian para pelayan datang membawa hidangan makanan-makanan lezat dari karya para koki berkelas internasional.


Keduanya mulai makan bersama.


"Enak?" tanya Rangga


Mira mengangguk malu-malu.


"Enakan mana sama martabak mesir?"


Mira tersenyum lalu menunjukkan ke arah makanan yang di piring tanpa berkata-kata.


Rangga tersenyum manis.


"Lalu, berapa ronde bisa kita lakukan malam ini?" Tanya Rangga mulai genit.


"Apa-apa an sih Mas," jawab Mira malu-malu.


"Hahahaha" tawa Rangga lagi.


"Mas, apa kamu tidak membenci ku lagi?"


"Ehm, masih ada juga sih?"


Miranda terdiam, keduanya masih menikmati makanan.


Setelah selesai makan.


"Mas, baik seperti ini? Apa karena perintah kak Tasya?"


"Yah, kurang lebih begitu lah!" Jawab Rangga sambil menikmati sebatang rokoknya.


"Mas Rangga yang terlalu mencintai Kak Tasya, aku tidak boleh cemburu, kau harus sadar Mira, kau bukan siapa-siapa, tidak bisa disamakan dengan kak Tasya, kebahagiaan ini hanya pemberian juga belas kasihan, mungkin begini cara kak Tasya untuk mengatasi rasa trauma ku terhadap lelaki. Ia harus mengandalkan Rangga! Kak Tasya rela berbagi segalanya untuk ku" Batin Mira menyalahkan dirinya.


"Kenapa?" Tanya Rangga melihat Miranda melamun.


"Enggak apa-apa!" Jawab Mira gugup.


Tiba-tiba Rangga menyodorkan cemilan manis kepada Miranda.


Sejenak Miranda merasa terbengong juga takjub.


"Enggak usah Mas!"


"Ayo lah! Kau juga istriku kan?"


Akhirnya Miranda menerima suapan Rangga.


"Aku belum pernah membahagiakan kamu, juga membalas semua kebaikan mu, meski aku membenci mu, tidak bisa di pungkiri kau sudah banyak membantuku, terutama dalam merawat Olivia. Aku tau belakangan ini kau cukup stress menghadapi Tasya dan Olivia."


"Terima kasih!"


"Iyah Mas!"


"Mira! Tidak semua para lelaki itu jahat, mungkin aku pernah melakukan kesalahan terhadap mu, tapi kau tidak perlu takut kepadaku. Memang hidup seperti itu, butuh perjuangan! Sama seperti pernikahan kita!"


Miranda hanya terlihat diam.


"Hanya saja, aku tidak enak makan malam seperti ini, di saat kak Tasya sedang koma!" ucap Mira.


"Tasya itu memang baik, tapi ia wanita yang memiliki watak keras, hampir semua keputusannya tidak bisa di tantang!" Jawab Rangga.


"Jujur aku lebih nyaman bersama kamu!" batin Rangga menatap Miranda.


Angin malam yang sejuk mulai menyapu wajah keduanya yang saling memandang dalam jantung yang berdebar-debar.


"Aku belum bisa menikahi kamu secara resmi, karena aku punya alasan tersendiri!"


"Tidak apa-apa Mas, Mira tidak keberatan. Tapi, Jika nanti Mas Rangga ingin menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih berkelas, tolong ceraikan Mira!"


Rangga hanya tersenyum menatap wajah manis Miranda.


"Yah, Kita lihat saja nanti!" jawab cepat Rangga.


"Siapa di antara kita yang tidak ingin berpisah!" gumam Rangga.


***


Secara kebetulan Vino datang menuju Rumah sakit, tanpa sengaja ia melihat seorang Dokter wanita sedang berbincang dengan Jane Anita di sebuah lorong tersembunyi.


"Itukan Tante Jane!" Batin Vino.


Tak lama Vino mengintai dengan Topi dan jaket hitamnya, dua wanita itu berpisah, mereka hanya mengobrol singkat, kemudian Jane pergi meninggalkan sang Dokter.


"Dokter itu benar-benar mencurigakan!" Batin Vino melihat ke arah si Dokter wanita yang wajahnya tertutupi sebuah masker tebal.


"Busyet, tu Dokter Bodynya ok banget, Astaga... Dadanya coy 🤤 ukuran favorit gua, kagak kecil kagak besar! Yupi-yupi" Batin Vino si CEO, sekaligus sekretaris mesum Rangga.


Vino mulai berjaga-jaga di sekitar ruang khusus Tasya dan Olivia.


Ia pun meminta kepada suster untuk masuk ke ruang Tasya.


"Sampai detik ini kamu belum bangun juga, Tasya, mengapa nasibmu jadi begini?"


"Meskipun sebagian orang banyak yang membenci kamu, tapi secara keseluruhan kamu the best! Juga telah menjadi kakak yang baik untukku!" Vino merasa iba terus menatap Tasya yang masih terbaring lemah.


Vino akhirnya keluar dari ruang Tasya.


"Dimana Bos kalian?" Tanya Vino kepada para Bodyguard Rangga.


"Maaf Tuan, kami tidak tau?"


"Hem, Miranda juga tidak kelihatan!"


Vino berinisiatif menelpon Lukas sekretaris pengatur jadwal Rangga.


"Tuan Rangga sedang makan malam dengan Nona Miranda Bos!"


"Ehm! Terima kasih"


Vino langsung menutup telponnya.


"Aaargh, sialan, gua berjaga-jaga di rumah sakit buat istrinya, si kecoa gosong malah asyik-asyik kencan dengan istri muda, awas Lo, gua kerjain!" ucap Vino mulai beraksi gokil.


***


Sehabis makan, Miranda bergerak ke arah tembok kaca, berdiri memandangi indahnya gemerlap lampu kota serta bintang yang bersinar. Sebuah pemandangan malam di kota Megapolitan yang dulu hanya ada di dalam hayalannya kini telah menjadi nyata.


"Indah sekali! Aku suka suasana seperti ini!" gumam Mira terus menatap suasana malam yang cerah sebagai penghilang penat dalam pikirannya. Wanita itu tampak mulai memegang lengannya, merasa kedinginan, rambut halusnya melambai-lambai tersapu angin malam.


Melihat hal itu Rangga bangkit dari duduknya, berinisiatif membuka jas tebal yang ia pakai, lalu menggantungkannya di bahu Miranda.


Sebuah aksi romantis yang classic namun tetap menjadi favorit di hati wanita yang tubuhnya sedang kedinginan.


"Eh!" ucap Mira merasa terkejut.


*****


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Guys, soal pembahasan kecirit sudah clear yah! Author sudah revisi Dua Bab sekaligus 😁 Maaf🙏 sudah buat kalian jijik, hanya sekedar ingin menggambarkan sebuah trauma ketakutan tingkat tinggi seseorang.