MIRANDA

MIRANDA
Part 25-MRD



Hari ini, hari dimana aku harus menikah lagi yaitu hari yang paling aku takutkan, bukan pernikahan impian dari seorang perempuan, lagi-lagi aku harus melalui pernikahan keterpaksaan tanpa cinta, membuat sekujur tubuhku bergetar hebat, selalu ada kecemasan yang luar biasa dan di hantu i kegagalan.


Aku pernah berjanji dengan diriku tidak akan pernah menikah lagi. Bagiku semua pria itu egois, jahat, hanya ingin menang sendiri. Pernikahan hanyalah ikatan yang membuat aku tidak bisa tersenyum bahagia, membatasi waktu dan kondisi, tetapi demi seseorang yang begitu berarti untuk ku, aku menepis segalanya, aku harus kembali berjuang menguatkan diri ini, kaki ini, untuk tetap tegar dan memberanikan diri melaluinya.


Di hujan i hinaan, rasa benci orang-orang yang tidak mengerti tentang hati perasaanku. Namun seperti ini lah kisah Miranda, cerita cinta dan kehidupan dari perempuan yang malang. Ibarat mendaki sebuah gunung yang sangat tinggi, entah dimana puncak terindah itu, meski sudah ku daki sampai tubuh ini berderai darah dan luka belum juga ku temukan. Sungguh aku ingin sekali memandang puncak indah itu dengan sekujur tubuhku, aku ingin menikmatinya sambil menghirup segarnya udara puncak kehidupan yang masuk melalui hidung, tenggorokan, hingga ke paru-paru.


***


Semua mata tertuju kepada Miranda. penampilan yang membuat setiap siapa saja yang memandangnya merasa pangling.


Pesona janda itu terlihat masih sangat muda bak perawan ting-ting yang belum terjamah pria mana pun dan memiliki daya pikat tersendiri bagi kaum Adam.


Rangga yang sudah menunggu di depan Tuan Kadi, reflek terpana dengan langkah lambat Miranda menuju tempat duduk di sebelahnya. Serta anggun dan cantiknya penampilan calon sang istri.


Jantung Rangga berdetak lebih kencang, seolah-olah itu pernikahan pertama kali ia lakukan. Terjadi tanpa ia sadari, curi-curi pandang pada wajah Miranda yang sama sekali tidak tersenyum kepada siapapun. Miranda terlihat begitu sangat sedih penuh keterpaksaan.


***


Aku pernah berada di atas awan, aku juga pernah merasakan kesombongan, aku juga pernah menyakiti hati seorang pria yang mencintaiku sepenuh hati. Setelah kematian ibu dan adik ku, kiamat itu mulai terasa datang di hidupku. Kini aku menyadari bahwa aku ini hanyalah tunggul yang sudah tidak berarti dan tidak menarik lagi. Ini lah perjalanan seorang manusia yang pada hakikatnya selesai tanpa prediksi.


Tuhan, aku tidak meminta apa-apa lagi dalam hidup ini. Tolong selamatkan anakku, izinkan ia hidup dan menghirup segarnya pepohonan hijau, sawah yang menguning, brisiknya terpaan ombak di tepi pantai, serta merdunya kicauan burung-burung melintasi awan putih.


Wahai Tuhan ku, tolong rubah takdir anakku menjadi lebih indah, kisah cinta yang lebih berwarna, secantik pelangi di awan. Jangan sampai ia merasakan penyakit yang sungguh kejam seperti ku rasakan"


Ucapan Tasya yang terbaring lemah. Ia hanya di rumah menunggu Rangga mengucapkan janji suci kepada perempuan yang ia restu i untuk menjadi istri suaminya.


***


Percakapan Rangga dengan Dokter sebelum akad pernikahan dengan Miranda.


Rangga membayar tim Dokter mahal dari luar Negeri untuk pengobatan sang istri.


"Bapak Rangga, semampu usaha kami untuk mempertahankan Nona Tasya, kami tidak bisa mencegah penyakit yang sudah menyerang cepat pasien namun dengan kecanggihan ilmuan kedokteran, kami upayakan bisa mencegah sel-sel auto imun sejenis lupus, agar tidak diturunkan kepada bayi yang ada di dalam kandungan Nona Tasya!"


"Baiklah, Terima kasih atas kerja keras kalian."


***


"Rangga Dewa apakah kamu siap menikah dengan Miranda Putri!"


"Siap!" Jawab cepat Rangga.


"Miranda Putri apakah kamu siap menjadi istri kedua dari Rangga Dewa!"


"Siap!" Jawab Mira langsung merapatkan bibir merahnya.


"Alhamdulillah, Mari kita mulai!" Ajak Tuan Kadi mulai mengarahkan Rahmat sebagai wali Miranda.


Rahmat mulai menjabat tangan Rangga dengan erat.


“Saya nikahkan Rangga Dewa bin Kasiman dengan adik saya yang bernama Miranda Putri Bin Ramli Tholib dengan maskawin berupa cincin berlian dan seperangkat alat sholat, Tunai"


Langsung di sambut Rangga dengan cepat.


"Saya terima nikahnya Miranda Putri Bin Ramli Tholib dengan cincin berlian dan seperangkat alat sholat, Tunai"


"Bagaimana saksi?" tanya sang Tuan Kadi.


"Sah....Sah...!" ucap Mereka serempak dan Doa mulai dipanjatkan untuk kedua mempelai, agar perjalanan pernikahan mereka tetap utuh Sakina Mawadah Warohmah.


Miranda pun mulai mencium tangan Rangga sebagai suaminya yang sah di mata agama.


Rangga membalasnya dengan mencium lembut dahi Miranda.


***


"Baiklah!" ucap Rangga melambat.


***


Tidak ada resepsi ataupun acara syukuran disana, mengingat kondisi Tasya yang sudah sangat memperihatinkan.


Setelah akad pernikahan itu selesai, tiba-tiba tim Dokter mendesak agar segera dilakukan operasi sesar. Dengan sigap pula Rangga dan tim Dokter membawa Tasya menuju rumah sakit tepatnya di ruang operasi yang sudah di siapkan, kondisi Tasya yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengandung secara normal sampai 9 bulan.


"Sayang kamu harus kuat dan tetap semangat berjuang untuk anak kita!" Rangga mengecup manis dahi Tasya memberi semangat untuk sang istri pertama dan mengantarkannya sampai ke ruang operasi.


Rangga sangat kasihan bercampur haru dengan perjuangan Tasya yang kukuh ingin melahirkan anak mereka.


Dengan setia pria itu menunggu.


Hanya Rangga dan Miranda yang diizinkan berada di area, dimana Tasya akan di Operasi.


Terlihat Miranda datang sudah berganti pakaian dan duduk menunggu kelahiran anak yang sudah di wasiatkan Tasya kepadanya.


Miranda duduk diam membisu, keduanya juga terlihat kaku. Rangga curi-curi pandang ke arah wanita yang baru saja ia nikahi, mereka belum melakukan kewajiban sebagai suami istri di karenakan masih sibuk dengan kondisi Tasya serta gengsi yang menyelimuti keduanya.


Rangga mulai tampak gelisah, mondar-mandir menunggu hasil dari sang Dokter.


1 jam kemudian


Pintu ruang operasi terlihat terbuka, reflek Rangga dan Miranda berebut ingin memasukinya sampai tubuh mereka berlaga ingin terjatuh.


"Aduh!" ucap serentak keduanya.


Keduanya saling menggerutu kesal!


"Dimana mata mu, dasar ceroboh," tegur Rangga.


"Kamu yang ceroboh, dasar kepala batu," hentak Miranda dengan mata seramnya.


"Uh!" ucap kesal Rangga.


Begitu Dokter mulai muncul.


Rangga dan Miranda saling bertanya kepada sang Dokter.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok!"


"Bagaimana kondisi kakak saya Dok!"


"Aku lebih berhak, aku ini suami nya?" Bisik Rangga di telinga Miranda.


"Aku juga berhak, aku ini adiknya!" Miranda tidak mau kalah.


"Maaf kondisi Tasya belum bisa di temui!" ucap salah satu tim bedah.


"Mas Rangga, Miranda!" Panggil Triana dari ruang operasi yang juga ikut serta dalam operasi sesar Tasya.


"Boleh kita bicara sebentar!"


"Dengan saya!" Tanya Rangga.


"Kalian Berdua?"


"Ok!"


"Mari keruangan saya!" Ajak Triana.


Ketiganya berjalan menuju ruang Triana dan duduk menghadap sang Dokter untuk mendengarkan penjelasannya.