
Dua bulan kemudian.
Olivia putri sosok bayi cantik dengan kulit yang putih bersih, ia mulai terlihat menampilkan wajah yang berseri-seri juga sudah lihai menggerakkan tangan dan kakinya, sebagaimana bayi normal lainnya, sehat dan kuat di usia sembilan bulan.
Putri Rangga dan Tasya itu akhirnya sudah bebas dari tabung inkubator hangat pelindung dirinya dan ia sudah bisa di bawa pulang.
"Sayang!" Panggil Miranda dengan suara merdu dan lembut, senyum merekah bibir wanita itu menyambut bahagia saat sang Dokter menyerahkan bayi Olivia ke tangan Miranda sebagai ibu pengganti.
Rangga dan Miranda terlihat bahagia karena kerja keras mereka akhirnya berhasil, mereka juga mengucapkan terima kasih dan saling menjabat tangan kepada para tim Dokter yang sudah merawat Olivia.
"Tidak terasa sudah dua bulan kak Tasya meninggalkan kami!" gumamnya dalam perasaan haru bercampur sedih.
"Miranda?" Panggil dr Triana.
"Iyah Dok!"
"Tolong jaga amanah Tasya yah, Olivia adalah harapan satu-satunya bagi Tasya, bukan dimanjakan melainkan dididik menjadi anak yang membanggakan?"
"Baiklah, Terima kasih yah Dok!"
"Sama-sama!"
***
Hari yang di tunggu-tunggu itu pun tiba. Rangga dan Miranda membawa putri mereka pulang ke rumah dengan para pengawal yang setia mengikuti dari belakang.
Dalam dekapan hangat Miranda, bayi mungil itu tampak tertidur pulas di dalam mobil.
"Kamu harus tinggal di rumah ku?" Kata Rangga.
"Tidak, Olivia pasti lebih nyaman jika tinggal di rumah ibunya!"
"Oh Iyah?"
"Iyah!"
"Baiklah!" Jawab Rangga santai dan terus melajukan mobilnya menuju rumah Tasya.
Saat sampai di depan rumah Tasya.
Miranda turun dengan semangatnya masih dalam kondisi menggendong Olivia.
Betapa terkejutnya wanita itu saat membaca papan besar bertuliskan;
Rumah ini di jual beserta isinya, Informasi lanjut hubungi nomor kantor sekretaris hp : xxxx xxxx xxxx
"Hahπ€―" Membaca tulisan itu betapa terkejut Miranda.
Rangga hanya tersenyum kekeh dari dalam mobilnya.
"Apaan sih?" Miranda kesal lalu masuk kembali ke dalam mobil ingin protes kepada Rangga.
"Jadi gimana? Beneran mau bobo di rumah ini?"
"Tuan Rangga yang terhormat, ini tidak lucu, jangan bercanda!"
"Siapa yang bercanda!"
"Mas, kamu jahat banget sih, kenapa rumah kak Tasya di jual!" Miranda marah sampai wajahnya memerah.
"Sssssst!"
"Sebenarnya rumah ini adalah kado pernikahanku untuk Tasya. Sebelum kematiannya, Tasya ingin rumah ini di jual saja, lalu hasil penjualannya nanti akan di sumbangkan untuk pembangunan masjid di desa-desa yang sangat membutuhkan, jadi aku hanya menjalankan amanah saja deh!" Kata Rangga dengan centil.
Mendengar hal itu Miranda terdiam tidak berani protes ataupun berkomentar lagi.
"Tapi begitu memang lebih baik! Mungkin kak Tasya tidak ingin ada wanita lain bersama suaminya di rumah ini."
"Gimana?" Tanya Rangga menaikkan alisnya.
"Tapi aku ingin mengambil barang-barang ku dulu," pinta Miranda dengan wajah kesal.
"Tidak perlu! Semua kebutuhan mu akan aku penuhi di rumah ku, kamu cukup fokus untuk Olivia?"
"Hanya mengambil tugas kuliah ku saja?"
"Itu hanya masalah kacang goreng!"
"Kacang goreng!" Miranda mengulang ucapan Rangga dengan raut yang polos.
"Sudah aku katakan itu hanya masalah kacang goreng alias masalah yang terlalu mudah. Tidak ada pilihan, rumah Ayah Olivia adalah surga yang paling aman untuknya!"
"Ok! Let's go!" Rangga kembali mengemudikan mobilnya dengan bersiul-siul kecil dan terlihat wajahnya sangat gembira.
"Malas banget tinggal di rumah Rangga, selain menghadapi tingkah laku si kecoa gosong ini setiap hari, aku juga bakalan sering bertemu dengan si Intan yang judes. Enggak habis pikir, gimana caranya dua kakak beradik ini bisa lahir di rahim ibu Rianti yang super sabar dan lembut, Pak Kasiman juga baik banget atau jangan-jangan mereka ini sebenarnya anak-anak mafia yang terlantar?
belum lagi Bi iroh sering bilang jika wanita-wanita Rangga suka datang ke rumahnya mencari perhatian," Batin ngawur Miranda merasa istri yang tidak anggap.
Tiba-tiba ucapan Rianti sang Mertua seperti bergema di telinganya.
"Tetaplah menjadi istri sebagaimana posisi sosok istri yang baik."
"Entahlah, semoga aku bisa menjalani semua ini, terserah Rangga milik perempuan lain, yang penting aku bisa mengasuh Olivia, cinta bukanlah tujuanku saat ini. Semakin Rangga tidak perduli dan mengabaikan kan ku, itu lebih baik."
***
πππππππ
"Surprise, Selamat datang baby Olivia?" sambut para pelayan dengan senyuman manis mereka.
"Selamat Tuan dan Nona!"
"Terima kasih yah!" Senyum sumringah Miranda kepada para pekerja di rumah Rangga.
"Untuk saat ini saya belum mengadakan acara syukuran apapun buat Olivia, karena ia masih terlalu kecil dan kami masih fokus kepada kesehatannya!"
"Baiklah Tuan!"
"Iroh? Tolong bawa Miranda menuju kamar Olivia!"
"Siap Tuan!"
"Mari Nona!"
"I..iyah!"
Iroh membawa Miranda serta baby Olivia yang masih tertidur pulas dalam gendongan Miranda menuju kamar spesial yang sudah di siapkan oleh sang Ayah!
"Tlek" pintu terbuka!
"Wah, mewah sekali!" komentar pertama yang keluar dari bibir Miranda.
Terlihat Kamar tidur bayi super mewah dan sangat nyaman, dilengkapi kamar mandi yang sangat luas serta tempat bermain anak.
Rangga juga memberikan seorang asisten pengasuh bayi profesional untuk membantu Miranda.
Lemari besar yang berisi perlengkapan lengkap untuk bayi Olivia.
Tak lama kemudian Rangga terlihat masuk ke kamar putrinya.
"Bagaimana, ini adalah kamar Olivia. Anak kesayangan ku. Bagus atau tidak?" ucap Rangga dengan bangga.
"Bagus, tapi mengapa disini tidak ada kasur untuk tempat tidur dewasa hanya ada keranjang bayi?" tanya Miranda.
"Untuk siapa? Kamu harus tidur di kamar ku, karena tidak ada lagi kamar yang kosong di rumah ini, untuk Babysitter tidak boleh tidur di kamar ini" kata balik Rangga dengan nada paling mengerti.
"Maksudnya Mas, Mas akan membiarkan Olivia yang masih kecil ini di malam hari bobo sendiri, minum susu sendiri, pipis sendiri, dan juga cebok sendiri?" ucap Miranda dengan nada lembut.
Mendengar percakapan sang majikan, Iroh tersenyum tertahan sambil mengulum bibirnya.
Rangga sempat terbengongπ³.
"Iyah juga yah?" gumam Rangga sambil garuk-garuk kecil kepalanya.
"Gimana sih disain profesional ini, buat naik tensi darah saja!" gumam Miranda yang sudah kesal dengan Rangga.
"Yah sudah, untuk urusan itu terlalu mudah, nanti akan aku siapkan kasur disini?"
"Hem, Artinya ia belum bisa tidur di kamar ku dong!" gumam Rangga menatap Miranda dari belakang yang sedang menurunkan bayi Olivia di atas kasur bayi dengan lembut."
"Persiapkan kasur di kamar ini?" perintah Rangga pada Iroh.
"Baik Tuan," Sang kepala pelayan itu pergi meninggalkan kamar Olivia.
Terlihat Miranda yang sedikit membungkuk memperbaiki posisi tidur Olivia di keranjang bayi.
Rangga terus menatap area bokong Miranda yang menggoda.
"Duh si Otong mulai kepanasan lagi!" kata hati Rangga senyum-senyum sendiri.
langkah Pria itu terus mendekati Miranda dari belakang. Saat Miranda berdiri sempurna ia pun berbalik badan, lalu menubruk tubuh kekar Rangga yang tanpa ia sadari sudah berdiri di belakang dirinya.