MIRANDA

MIRANDA
Part 66-MRD



"Nona!" sambut Iroh begitu bahagia menerima panggilan Miranda.


"Mengapa Bibi tidak berinisiatif menelpon saya?" Nada Miranda marah bercampur kesal.


"Nona jangan salah paham dulu, dari semalam sore Bibi berusaha menelpon tapi ponsel Nona tidak bisa di hubungi?"


("Ada apa yah dengan ponselku, dari semalam aku juga tidak bisa menghubungi Kiandra, sulit melakukan panggilan ataupun menerima telpon dari siapapun! Apa ini juga salah satu sistem kerja si Jane, perempuan laknat itu" gumam Miranda)


"Ouh, Bi! Sekarang dimana Olivia?" tanya Miranda penuh dengan rasa cemas.


"Nona tidak perlu khawatir, Kiandra sedang membawa bayi Olivia untuk melakukan imunisasi!"


"Apa dia hanya sendiri?"


"Tuan Rangga tetap memberinya pengawal seorang pria!"


"Ouh Syukurlah!" Miranda mulai tenang.


"Bagaimana kondisi Nona?" tanya Iroh.


Miranda mulai menceritakan kronologis kejadian yang menjebak dirinya agar bercerai lagi dengan Rangga, dari awal sampai akhir kepada sang kepala pelayan itu.


"Tampaknya Tuan juga sangat stres Nona, semoga, kekeliruan ini segera berakhir!"


"Iyah, Mira sangat menghawatirkan keadaan Olivia, itu saja!"


"Tentu Tuan tau apa yang terbaik untuk putrinya! Jujur, Bibi ingin Nona lah yang tetap mengasuh Olivia meskipun kalian sudah tidak menjadi pasangan suami istri lagi?"


"Entahlah, harapan Mira juga seperti itu, Bi! Yah sudah, saya mohon, Bibi tetap berikan informasi apapun yang terjadi dengan Olivia!"


"Siap Nona!"


"Terima kasih!"


"Trup!"


Miranda terduduk lesu di atas kasur.


"Memang aku punya surat kuasa untuk mengasuh Olivia, tapi aku bisa apa menghadapi Rangga!"


Kak Tasya! Maafkan Mira! Aku tau, Olivia adalah hartamu yang paling berharga."


ucapnya dalam wajah kesedihan.


**


"Mba? Bagaimana?" tegur Sania menyapa Miranda.


"Mas Rangga tetap memberikan pengawalnya untuk mengantarkan Kiandra ke rumah sakit, semoga Olivia baik-baik saja!"


"Iyah, apa Mba! Tidak perlu memberitahu Tuan Vino!"


"Aku rasa tidak! Vino juga lagi sibukkan, apalagi mereka sedang bertengkar!"


"Baiklah!" jawab Sania.


"Tlililit!" Ponsel Sania berdering sehingga mengantarkan Langkah perempuan itu keluar dari kamar.


Panggilan dari Vino


"Iyah Tuan?"


"Bagaiman kondisi Miranda?"


"Sudah baikan, hanya saja dia sangat menghawatirkan kondisi Olivia yang sedang di bawa oleh Babysitter itu untuk melakukan imunisasi hari ini!"


"Biar itu menjadi urusan Rangga?"


"Iyah Tuan!"


"Pastikan ia dalam kondisi baik-baik saja, kemungkinan, petang ini gua baru bisa melihat kalian di Apartemen! Sudah ya."


"Ouh Iyah, Tuan?"


"Ada apa?"


"Nona Bella mencari Tuan ke Apartemen dan minta di lamar hari ini karena sedang mengandung anak Tuan!" Kata Sania apa adanya.


"Jika dia datang lagi, berikan dia minum air mineral yang banyak, mungkin ia sedang bermimpi?" Jawab santai Vino.


😳😳😳 mendengar jawaban Vino Sania hanya terbengong.


"Trup!" Vino langsung menutup panggilannya.


***


"Kita lihat saja nanti, apakah Rangga bisa mengatasinya sendiri atau dia akan tetap memanggilku minta tolong! Kakakku, Wong Deso itu memang sangat lugu, tapi ia begitu egois sampai tangan ini terasa gatal ingin menjitaki kepalanya, ia tidak mengerti bagaimana cepatnya cara kerja musuh yang tidak mudah di atasi!" Batin Vino yang cukup kecewa, geram dengan Rangga yang tidak memercayai sebagai adik angkat yang setia.


*


Miranda yang ingin sekali menelpon Rangga dan mengatakan;


"Tolong waspada terhadap Kiandra"


Sampai terus menatap nomor lelaki itu di layar ponselnya, tapi tetap saja ia tidak berani menelpon Rangga.


*


Begitu juga Rangga ternyata sedang menatap nomor ponsel Miranda di meja kerjanya. Ia bingung harus berkata apa.


"Bagaiman cara memulainya lagi?


Arrrrg, dasar konyol!" Rangga membuang ponselnya begitu saja di atas meja kerjanya. Berdiri menatap jendela kaca besar sambil mengisap satu batang rokok.


Tidak lama kemudian ia bergerak menuju rumah sakit ingin melihat kondisi imunisasi Olivia.


***


Di Susana jalan raya, Atir dengan santai membawa mobil majikannya itu tanpa pernah berpikir ada bahaya kembali yang akan mengintainya. Saat mobil berhenti di lampu merah, Atir dan satu orang pengawal itu tidak menyadari jika mobil milik Miranda sudah di kelilingi dengan mobil para anggota Fernando. Sepeda motor yang di tunggangi dua orang bertutupkan helem besar dengan lihai merapatkan Moge mereka dan membidik pelan ban belakang agar kempes dalam perkiraan kurang lebih 1 km.


Begitu aksi berhasil. Para musuh melaju lebih dulu dan menunggu di depan agar menghilangkan kecurigaan. Sania yang terus memberikan titik lokasi keberadaan mereka.


Di titik 1 km kemudian. Mobil berhenti karena mengalami masalah ban belakang.


Seketika itu pula Pasukan mobil Fernando muncul dengan menawarkan pertolongan. begitu Atir dan si pengawal lengah, dalam hitungan cepat pula pistol kedap suara mereka menembak sang supir dan satu orang pengawal itu sehingga mereka tidak bisa berdaya lagi.


Dengan cepat pula Kiandra membawa Olivia berlari masuk ke mobil musuh lalu pergi bersama pasukan Fernando. Sebelumnya Kiandra sudah mendapatkan arahan melalui pesan WhatsApp dari Jane.


"Kiandra....ternyata kau...!" upat Atir tidak menduga Babysitter itu adalah pengkhianat besar majikannya, terlihat ia sedang menahan sakit tembakan di bahu kirinya.


Sang pengawal dengan sigap menelpon Rangga yang juga sedang dalam perjalanan.


"Apah! Sial!" Makian Rangga yang sangat geram, terkejut mendengar laporan dari pengawalnya yang masih bisa bicara meski dalam kondisi terluka. Rangga langsung memacu mobilnya menuju rumah Jane, setelah menelpon anak buahnya agar sebagian ikut dengannya dan beberapa lainnya membawa Atir dan si pengawal menuju rumah sakit agar mendapatkan pertolongan.


"Awas kau Jane, hari ini kau harus mati di tanganku!" ucap geram Rangga yang tidak pernah terpikir jika Jane mendapatkan dukungan dari Fernando. Rangga mulai mempersiapkan senjata tajam dan pistol khusus miliknya di dalam mobil.


***


Kiandra terlihat bahagia saat menerima honor besar dari Jane.


"Kerjamu sangat bagus Kiandra aku puas sekali!" Puji Jane


"Terima kasih Nyonya!"


"Senang bekerja sama dengan mu!"


"Sama-sama Nyonya!"


Kiandra ingin melangkah pulang.


"Eits, kau mau kemana?"


"Bukan kah tugas saya sudah selesai Nyonya!"


"Tunggu dulu say, jangan buru-buru, aku tidak ingin repot mengurus bayi sial ini, tunggu ibu penggantinya datang ke rumah ini untuk mengurusnya di rumah ku, kau baru boleh pergi dan tugasmu sudah selesai."


"Ouh Baiklah!"


Begitu Olivia sampai di tangan Jane, bayi cantik menggemaskan itu menangis histeris. Serasa sang bayi bisa merasakan aura jahat dari sang nenek tiri.


"Dasar bayi sial?" Makiannya kepada Olivia.


"Ini?" Jane langsung menyodorkan kepada Kiandra dan menghampiri Fernando.


*


"Jika misi ini berhasil, aku minta 20 persen dong sayang, dari harta si bayi!"


"Beres, kamu tenang saja!" jawab Jane mengelus dagu brewok Fernando.


"Hahahaha, sebentar lagi kita akan menyambut kedatangan tamu istimewa yaitu Rangga dan Miranda!" ucap bahagia Pria asal Australia itu.


"Ahahahahaha!" tawa kemenangan Jane.