MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Hiks...Hiks...😭


Sania masih tampak menangis di atas kasurnya dalam perasaan penuh kesedihan, namun ia puas telah mencurahkan kekesalannya kepada Vino yang selama ini tidak bisa dia ungkapkan.


Tidak ada pilihan lain, Vino masuk kembali ke dalam mobil dengan perasaan bingung dan harus berbuat apa?


"Hari ini aku lelah sekali?"


"Tapi sebenarnya ini semua adalah salah Raka, Pria bodoh itu yang membuat Sania hancur dan aku harus menjadi pelampiasan semua kekesalannya!" keluh Vino.


Sejenak ia menyandarkan diri mencari ketenangan di kursi mobilnya dan akhirnya meninggalkan kediaman rumah Sania. Sambil menyetir mobil, Vino masih teringat di awal-awal setiap rekam perlakuannya yang jahil kepada wanita lemah itu sampai hari-hari kebersamaan mereka yang sebenarnya terlihat saling membantu.


Sania yang akhirnya mampu menebus semua biaya kuliah kedokterannya yang sempat tergantung.


***


Ingatan Vino saat menyetir mobil


"San, Bersihkan Apartemen gua sekarang?"


(Suasana Apartemen Vino yang setiap dua kali satu pekan mirip kapal perang)


"Tapi aku masih ada kerjaan Tuan. Mungkin nanti malam bisa aku kerjakan."


"lu enggak paham apa yang gua perintahkan"


"Ba...baiklah!"


***


"Penampilan lu cakep dikit dong, lusuh banget gua malu tau! Apalagi ada pas teman-teman gua."


"Sania di mobil aja Tuan."


"Terus yang bawa barang-barang gua siapa?"


***


"Sayang, dia siapa sih kenapa kamu suka bawa-bawa perempuan jelek ini Kemana-mana!"


"Asisten ngurus keperluan gua!"


"Ou, bukannya kamu ada sekretaris!"


"Iyah dia perlu juga, bawa barang-barang gua, bersihkan Apartemen, pakaikan sepatu gua, siapin makan, bisa sebagai supir juga, kan lumayan, kadang Mami juga butuh dia."


"Ouh begitu"


***


Suruh ini, suruh itu tanpa gaji tetap dan bonus.


Sania harus ada saat Vino membutuhkan terutama saat sedang darurat, tidak mengenal waktu juga tidak bisa menolak kecuali urusan ranjang.


Menghibur hati Vino di kala sedang boring atau galau. Mereka sering bersama, terkadang bisa jadi teman atau musuh.


Sania tidak pernah marah kepada Vino, ia tetap ceria dan sabar.


Sampai kebersamaan itu menjadi kebiasaan di hari-hari Vino dan ia mulai nyaman dengan kehadiran Sania.


***


Mentari kembali bersinar, hari yang baru sekaligus lembaran baru di hati para pejuang kehidupan seperti Sania.


Pernikahan Rangga dan Miranda sudah tinggal menghitung hari. kesibukan Vino terus meningkat, namun ia tidak lupa melihat ponselnya, ingin memastikan apakah ada panggilan atau chat yang masuk dari Sania. Ia Ingin menelpon, mendengar suaranya atau sekedar membelikan coklat yang belakangan sering Sania minta kepada Vino. Tapi pria itu kehabisan nyali dan malu besar.


Tiga hari menyehatkan diri di rumah, Sania menyempatkan waktunya mencari pekerjaan baru di luar Jawa yang penawaran gajinya lumayan tinggi untuk golongan dr muda seperti Sania, sekaligus mengasah kemampuannya sebagai dr yang minim pengalaman.


Sania mulai bergerak meninggalkan semua kenangan masa lalu yang kelam dan berduri.


Ia sudah tidak betah dengan lingkungan pekerjaan yang diisi oleh teman-teman yang selalu iri dan menyudutkan dirinya ditambah lagi Sania sering bersama Vino. Banyak yang menebar fitnah bahwa Sania menggoda Vino agar bisa menopang ekonominya yang sedang terpuruk. Vino yang terkenal royal duit kepada para kekasihnya.


"Perempuan kalau sudah tidak punya uang lagi yah jual diri!" sindiran pedas dari teman-teman kerja Sania.


***


"Maaf Sania, demi menegakkan peraturan ketat untuk para dokter yang bekerja di rumah sakit ini, kami terpaksa harus memecat kamu dengan alasan absen yang terlalu banyak serta suka meninggalkan jam kerja secara tiba-tiba."


"Tapi bukankah saya sudah mencari penggantinya Pak!"


"Buktinya tidak ada yang menggantikan kamu!"


"Ouh begitu, baiklah, terima kasih!" Sania hanya bisa menunduk tidak bisa membantah lagi.


Dengan perasaan sabar dan tegar, wanita itu mengambil barang-barang kecilnya di dalam loker, ia kecewa besar, Sania lagi-lagi di tipu oleh temannya yang sudah ia bayar untuk menggantikan absen dirinya. Protes hanya menghabiskan waktu dan tenaganya.


Sania merasakan hancur dan semakin terpuruk berada di titik Nol. Namun wanita itu tetap semangat karena sang Ayah terus memberikan dukungan besar.


Dua hari di drop out dari Rumah Sakit, Sania akhirnya mendapat panggilan kerja baru. Semangatnya kembali berkibar.


Sania begitu bahagia dan langsung melakukan interview online di kamarnya.


"Apakah anda bersedia di tempatkan di provinsi Kalimantan!"


"Iyah saya, bersedia Pak!" jawab lugas perempuan itu.


***


"Ayaaaaah!" jerit perempuan itu memanggil Ayahnya.


Antonius begitu terkejut sang putri berlari histeris kegirangan mendapati dirinya.


"Ayah, Sania akhirnya mendapat pekerjaan baru! lihat ini Ayah!" (menampilkan hasil print bukti kelulusan Interview terakhir)


"Benarkah?"


Mengangguk cepat


"Tapi tidak apa-apa kan Ayah, jika kita harus keluar dari Jakarta!"


"Tidak apa-apa Nak!" Antonius langsung memeluk erat putrinya.


"Tidak apa-apa sayang! Ayah sangat-sangat bangga kepadamu!" Antonius menciumi kepala anaknya.


**


Vino mulai resah dan gelisah, sudah berhari-hari tidak mendapatkan kabar tentang Sania. Pria itu menyempatkan waktu lewat dari rumahnya saat malam hari sepulang dari kantor. Sesekali Sania tampak keluar rumah. membuat jantung Vino berdetak hebat meski hanya bisa diam-diam memantau sang pujaan dari dalam mobil, cukup membuat Vino bahagia.


"Syukurlah, Dia baik-baik saja!" batin Vino tersenyum manis.


Pria itu juga memerintahkan seseorang agar memberi kabar kepada Sania bahwa dirinya Sedang sakit meskipun sebenarnya Vino dalam kondisi sehat, berbohong demi mendapatkan simpatik. Namun tetap tidak mendapat tanggapan dari Sania. Wanita itu hanya fokus pada karirnya.


***


Sebuah Mobil mewah terparkir tepat di depan rumah Sania.


Rangga dan Miranda turun dari mobil, mereka ingin mengundang secara langsung keluarga mantan kekasih Tasya itu agar hadir dalam pesta pernikahan mereka.


*


"Mba Miraaaa!" jerit kecil Sania keluar dan menyambut Miranda yang sedang hamil muda.


Antonius pun mempersilahkan pasangan yang berbahagia itu masuk ke dalam rumah dengan keramahannya.


"Mba Mira cantik banget!"


"kamu juga sayang!"


Mereka saling bertanya kabar dan bercengkrama bahagia bersama, namun tidak ada menyinggung tentang Tasya dan Vino.


"Mas Rangga dan Mba Mira, sebelumnya Sania minta maaf yah! Benar-benar tidak bisa hadir di pesta Mba Mira dan Mas Rangga, karena Sabtu ini, Sania ada karantina pelatihan khusus kedokteran di Jakarta pusat selama tiga hari. Setelah itu Sania akan di tempatkan bekerja di kalimantan!"


"Ouh Iyah, tidak apa-apa Sania, karir dan masa depan kamu itu jauh lebih penting, kejar terus cita-cita kamu dan kamu harus tetap semangat. kalau kamu merasa jatuh, bangkit lagi, jatuh bangkit lagi sampai kamu kuat dan tidak akan pernah jatuh lagi, meskipun terjatuh itu hal yang sudah biasa kamu hadapi!" nasihat Rangga yang sudah menelan pahit, asamnya kehidupan dari titik nol.


"Terima kasih banyak Mas Rangga, Terima kasih atas pengertiannya!"