MIRANDA

MIRANDA
Part 49-MRD



"Sepertinya itu Tuan Vino, Sania harus pergi Ayah!"


Wanita itu bersiap-siap dengan mengambil beberapa potong pakaiannya dan mengganti seragamnya dengan pakaian biasa.


"Bolehkah Ayah bertemu dengan pria bernama Vino itu, sebentar saja!" Pinta Antonius.


"Baiklah, Sania akan mencoba memanggilnya untuk masuk!"


Perempuan itu berlari menghampiri Vino di dalam mobil. Sania sangat terkejut ada seorang wanita yang memeluk mesra Vino di dalam mobil.


"Lama banget kamu!" hentak Vino dengan wajah masam.


"Maaf!"


"Masuk!"


"Bolehkan Ayah ku bertemu dengan Tuan!"


"Untuk apa?"


"Hanya ingin bertemu sebentar saja?"


"Pasti Ayahnya berpikir jika aku ini suka dengan anaknya, Heh😏!" batin angkuh Vino.


"Enggak ah, rumahmu terlalu kotor, aku jijik!" Jawab Vino membuang wajahnya.


"Ih sombong banget ni manusia!" kutuk Sania dalam hati yang sabar.


"Ouh! Begitu!"


"Sudah cepaaat!"


"Sebentar, aku mengambil tas ku dulu!"


Sania masuk ke dalam rumah mengatakan kepada Ayahnya jika Vino tidak ingin bertemu dengan sang Ayah, sekaligus mengambil tasnya.


"Tidak apa-apa Sania, tetap ucapkan terima kasih kepadanya, tolong jaga dirimu baik-baik yah!"


"Baik Ayah!"


"Ayah juga!"


Mencium dahi sang Ayah.


Setelah menitipkan sang Ayah dengan perawat. Sania berlari masuk ke dalam mobil Vino.


"Mas, mau ngapain wanita jelek ini ikut kita!" protes pacar Vino di dalam mobil.


"Biasalah, Mami butuh tukang sapu di rumah!" jawab Vino santai.


"Ouh! Pantas penampilannya hancur banget, ternyata seorang pelayan!"


Wanita Vino tidak perduli dengan kehadiran Sania di mobil, ia tetap genit bersandar di pundak Vino sesekali nakal menciumi telinga dan pipi pria itu.


"Dasar perempuan murahan, prianya saja tidak begitu respon, masih di sosor juga, benar-benar enggak nyaman banget melihat mereka bermesraan seperti ini! Huuft!" Sania menggerutu dalam hatinya.


Tidak lama kemudian, wanita Vino itu pun turun di depan rumah yang mewah. Seorang putri dari pengusaha kaya.


Perempuan itu ingin mencium bibir Vino. Dengan sigap Vino menolak, kurang sopan jika ada yang melihat.


"Ih kamu gemesin deh Mas! Jadikan kamu melamar aku!"


"Iyah-iyah nanti aku datang yah!" Jawab Vino senyum-senyum cengengesan.


Meski mendengar jelas, Sania pura-pura tidak menghiraukan mereka.


"Terima kasih Beib!" Teriak wanita itu melambaikan tangannya dengan genit ke arah Vino.


"Dah sayang!" balas Vino menunggu sampai sang pacar masuk ke dalam rumah.


"Woi, ayo pindah ke depan! Lu pikir gua supir pribadi Loh!" kata Vino dengan nada galaknya.


"I...Iyah!"


Dengan cepat Sania berpindah duduk ke depan Vino.


Sania menggeser jauh duduknya.


"Aku baru tau wanita yang bernama Miranda itu rela menjadi istri siri Rangga demi ingin mengurus Olivia! Apa ia punya kesepakatan dengan Tasya? dan sepertinya ia juga tertindas dengan Rangga. Tante Jane juga masih berambisi besar menginginkan bayi kaya itu," ucapan Sania dalam hati.


***


"Tlililit" ponsel Vino berbunyi.


"Vino sayang! Pulanglah Nak! Nenek dan Kakek mu sudah datang dari Jepang!"


"Iyah Mi, ini juga menuju pulang!"


"Kakek dan Nenek akan hadir di peresmian perusahaan mu nanti, mereka juga bawa foto-foto calon istrimu yang sangat cantik serta berkualitas dari Tokyo! Kau...tinggal pilih saja," ucap sang bunda kegirangan.


"Hem!"


"Apa kau tau, mami sudah sangat ingin menimang cucu dari anak satu-satunya milik mami ini!"


"Hem!"


"Bagaimana Kondisi Rangga?"


"Hari ini Olivia sudah bisa di bawa pulang!"


"Syukurlah, kemungkinan kami akan melihatnya!"


"Iyah Mi!"


"Trup?" Percakapan mereka berakhir.


"Aku tidak ingin menikah, bebas lebih baik, ribet dengan hubungan yang terikat, banyak wanita yang mau di ajak bersenang-senang!" batin Vino.


"Ouh Iyah Tuan! Jika Sania boleh tau!"


"Ouh, Iyah aku lupa!"


"Sekali lupa, aku akan denda 10 juta!"


"Baik!"


"Siapa pengasuh Olivia Tuan?"


"Apa kau masih berniat ingin menculik Olivia atau membunuhnya!"


"Sama sekali tidak?"


"Em!"


Suasana sempat hening


"Namanya Kiandra!" kata Vino menunjukkan foto Kiandra dari ponsel pintarnya.


"Kiandra?? Sepertinya wajahnya tidak asing dan orangnya juga tidak baik.


"Kenapa? Apa kau punya masalah dengannya?"


"Hanya ingin tau saja," jawab wanita itu santai.


"Apa Tuan menyukai Miranda adik Tasya, hingga Tuan juga ikut melindungi Olivia!"


"Bukan urusan kamu dan kalau ia, memang kenapa? Sampai detik ini, belum ada wanita lain yang bisa menggantikannya di hatiku!"


"Cinta memang hanya satu kali terjadi, saat kita tidak bisa memilikinya, itu terasa sangat tidak adil!"


"Sok tau kamu?"


"Aku juga mencintai seorang pria yang tidak pernah mencintaiku, dari itu aku mulai paham tentang perasaan Kak Juno! Memang kita seperti terlihat manusia paling bodoh saat begitu patuh kepada orang yang sebenarnya tidak mencintai kita!"


"kita tidak sama, Miranda tetap membalas cintaku, hanya saja kematian telah merampasnya dan dalam sepanjang hidupku, aku tidak pernah di tolak oleh wanita, tapi jika menolak sudah bosan!"


"Ouh!" Sania terdiam dan mengalihkan pandangannya ke depan.


Mobil Vino terus melaju kencang menuju rumah orang tuanya.


***


Pukul 23.00 malam hari. Terlihat Rangga membolak-balikan tubuhnya terbaring gelisah di atas kasur yang empuk. Merasa penasaran ia bangkit dan berjalan masuk ke kamar Olivia.


Membuka perlahan pintu kamar dengan pelan, lalu memperhatikan suasana kamar yang sangat sunyi.


Langkah Rangga menghampiri anaknya yang tertidur pulas di atas keranjang bayi yang sangat nyaman.


Setelah memandang bahagia bayi Olivia yang mungil, pandangannya beralih kepada wanita yang sedang tertidur pulas di atas sofa, kondisi laptop Miranda terlihat masih menyala.


Rangga melihat banyak tugas kuliah Miranda yang terbengkalai akibat terlalu sibuk dengan Olivia. Merasa tidak tega. Pria itu mengambil leptop nya dan menyelesaikan beberapa poin tersulit yang bisa ia kerjakan.


"Mas, Rangga!" Mira terbangun saat semua sudah hampir selesai.


"Sudah hampir 80% tugas kamu selesai!"


"Tapi nanti aku jadi tidak pintar Mas!"


"Memang kamu tidak pintar kan dari dulu, jika kamu cerdas tidak mungkin kamu salah memilih suami!"


"Itu saja yang di bahas!" gumam Miranda, bibirnya cemberut.


"Sini duduk!" Rangga memerintahkan Miranda agar duduk mendekati dirinya.


"Lebih rapat lagi!"


Miranda lebih merapatkan.


Rangga mengajari Miranda dengan tekun hingga pukul 12 malam hari.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga!" Batin Mira merapikan buku dan leptopnya.


"Kamu mau tidur dimana?"


"Tentu di sini Mas, menjaga Olivia, biasanya anak bayi akan bangun tengah malam dan tidak tidur lagi!"


"Ouu!"


"Mas tidur lah, besok pagi mau kerjakan!"


"Iyah!"


Rangga keluar dari kamar, namun tidak berapa lama ia balik lagi membawa bantal dan kembali masuk ke dalam kamar Olivia.


"Loh!" ucap Mira sempat terbengong melihat Rangga membawa bantal.


"Aaah, enaknya!" seru pria itu terbaring santai di kasur kamar Olivia.


"Mas tidur disini!"


"Iyah, memang kenapa!"


"Ouh, enggak apa-apa!" Kata Mira.


Keduanya sama-sama terbaring di atas kasur.


"Dua tahun lebih sudah, kami tidak tidur bersama seperti ini lagi, terkadang hidup seperti berada di awang-awang banyak hal yang terjadi tapi tidak di sadari! Aku juga tidak tau, apakah ia akan menjadi jodohku sampai akhir atau ini hanya sementara. Tak ingin berharap lagi karena aku tidak pantas!" batin Miranda berbalik membelakangi Rangga dalam jarak yang jauh.


Reflek lelaki itu bergeser dan memeluk Miranda dari belakang.


"Haaaaah😳!" Miranda terkejut.


"Aku lupa bawa guling dan aku tidak bisa tidur tanpa guling!" ucap gengsi Rangga.


"Perlu Mira ambilkan Mas!"


"Ouh tidak perlu!"