MIRANDA

MIRANDA
Part 40-MRD



"Ayo naik! Kita harus segera ke rumah sakit!" ucap Rangga dari mobilnya.


"I...iyah!" Miranda berlari cepat mendapati mobil Rangga.


Setelah mendapat kabar dari Vino, Rangga begitu laju mengemudikan mobilnya.


"Mas! Ayo buruan!"


"Ini juga sudah terlalu cepat, Mira!" ucap Rangga.


***


Terlihat seseorang tengah berdiri fokus menatap baby Olivia.


Tergores sedikit rasa tidak tega dari hati sang Dokter.


"Demi Kematian kakak yang cintanya terabaikan oleh Tasya, aku harus melakukan ini, aku benci semua yang membuat ia bahagia," Batinnya yang memiliki keterkaitan dendam dengan Tasya.


Saat jarum suntikan itu mulai mendekati bayi mungil yang tidak berdosa itu.


Vino dengan sigap menangkap jarum tangan lalu merapatkan tubuhnya kepada si Dokter dan begitu usilnya pria itu meletakkan dagunya di bahu sang pelaku.


Sontak Dokter itu terkejut hebat dengan dua bola mata yang membesar.


"Cek...cek...cek...cantik-cantik kenapa jahat? Waktu kecil enggak di sekolahin sama Mama!" ucap Vino.


Pria itu menjatuhkan suntikan itu lalu menginjaknya sampai hancur


"Si...siapa kamu!" Hentak wanita itu.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang seorang Dokter lakukan di ruang bayi di malam-malam yang sepi seperti ini! Apakah memberi suntikan cairan beracun pada pernapasan bayi?"


"A...aku seorang Dokter," ucap gugupnya menunjukkan card indentitas kedokterannya.


"Masih tidak mengaku juga?"


😏😏


"Kau terlalu amatiran!" hentak Vino mulai emosi menolak tubuh wanita itu hingga jatuh tersungkur dengan cepat pula 10 bodyguard pria bertubuh besar mengarahkan pistol kedap suara mereka, siap menembaki kepala wanita itu.


Sang pelaku tercengang ketakutan, keringat di dahinya mulai bercucuran, ia menelan paksa air ludahnya dan tidak pernah menduga Tasya mendapatkan pengawalan super ketat bak seorang presiden yang di hormati.


"Ma..Ma..afkan aku!" Merasa ketakutan Dokter akhirnya mengakui aksi kejahatan yang ia lakukan, keringat yang begitu deras terus membasahi tubuhnya, sebuah kejahatan yang baru kali itu ia lakukan.


"Pilih salah satu yang kau mau!"


"Mati di tempat?"


"Di penjara seumur hidup?


"Karirmu sebagai Dokter akan hancur dan selamanya terpuruk di jalanan?"


"Mengalami cacat kebutaan?"


"atau jadi tawanan ku selama yang aku inginkan!"


Vino Febian langsung memberikan pilihan mengeksekusi sadis kepada pelaku. Banyak pembunuh bayaran yang menolak permintaan Jane, sejak datangannya pengawalan ketat dari Vino.


***


Rangga dan Miranda berlari cepat menuju rumah sakit. Malam semakin larut.


"Kamu ke kamar Tasya? Biar aku ke kamar Olivia!"


"I...Iyah!"


Saat keduanya masuk di dua kamar yang berbeda. Suasana sudah terlihat sepi dan tenang, layaknya tidak terjadi apa-apa.


Miranda mendekati Tasya dan melihat kondisi kakaknya itu masih memejamkan matanya.


"Semua baik-baik saja!" Batinnya.


Begitu juga dengan ruangan Olivia.


***


Rangga bergegas menelpon Vino.


"Kamu ada dimana?"


"Terlambat, semua sudah beres!"


"Tidak sia-sia dong, aku punya Asisten sekaligus adik yang baik seperti kamu!" Ledek Rangga.


"Jika kau mengabaikan kakak ipar ku, dan hanya bersenang-senang dengan istrimu muda mu saja, aku akan memotong lehermu!" Ancam Vino.


"Hahaha, bukan kah kita sudah impas! Kau juga mengirimkan para wanita di tengah-tengah makan malam kami kan?"


"He😏 itu tidak sebanding!"


"Jangan sampai aku punya anak yang kedua, kau belum juga menikah!" kata Rangga.


"Aku akan menunggu janda istri kedua mu!" Jawab canda Vino.


"Heh, mau jadi pebinor!"


"Boleh juga!"


"Dimana Dokter itu?"


"Aku sudah mengikatnya dibagasi mobil ku!"


"Busyet, gila loh, kalau dia mati gimana?"


"Aku hanya tinggal mengumumkan, hanya menuruti perintah Rangga!"


"Dasar!"


"Hei, jangan, aku punya dua istri yang harus ku jaga hatinya!"


"Itu bukan urusanku!"


"Hayo lah adikku yang ganteng, bukan kah kau juga seorang pemain wanita, tolong jangan bawa ke rumah ku, kau cukup banyak Apartemen untuk mengurang wanita itu."


"Mengapa harus aku yang repot!"


"Aku rasa dia cantik, tidak masalah jika menjadi mainan mu di tengah malam!"


"Tidak tertarik!" jawab ketus Vino.


"Trup!" Vino mematikannya dengan cepat.


"😏 cukup bagus juga kerjanya! Pantas belakang Kakeknya sering memanggilnya ke Tokyo! Bagus lah sudah tidak menjadi anak manja lagi!" batin Rangga.


Sejenak Rangga mengingat kembali ucapan Vino.


"Aku akan menunggu janda istri kedua mu itu!"


"Heh! Dasar anak nakal, apakah sebenarnya ia juga menganggap jika Miranda putri adalah Miranda Agustina? Sama seperi Tasya. Apakah Vino serius juga menyukai Miranda!"


Batin Rangga mulai cemas.


***


"Mas Rangga!" Panggil Mira membuyarkan lamunan Rangga.


"Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Miranda.


"Sepertinya tidak ada!"


"Syukurlah!"


"Aku akan memperketat lagi keamanan disini!" kata Rangga.


"Benar Mas!" jawab Miranda mengangguk setuju.


"Ayo kita pulang!"


"Tapi Mas, Mira ingin tidur disni saja."


"Kenapa? Bukan kah kau ingin mengerjakan tugas kuliah mu?"


"Aku rasa tidak masalah jika terlambat mengerjakannya. Kita tidak bisa melepaskan kak Tasya dan Olivia begitu saja, untungnya ada kak Vino yang mau membantu!"


"Apa kau serius ingin berjaga disini?"


"Iyah!"


"Kalau begitu aku temani saja!"


"Tidak usah Mas, besok pagi-pagi Mas harus ke kantor, jangan sampai di antara kita mengalami drop kelelahan!"


"Apa kau marah dengan para wanita tadi!"


"Tidak!"


"Lalu mengapa kau meninggalkanku pergi!"


"Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian?" Jawab Mira menundukkan kepalanya.


Rangga hanya terdiam tersenyum tipis.


Saat keduanya berdiam diri berhadapan di ruangan Olivia.


Rangga menarik pinggul Miranda secara tiba-tiba dan langsung mengecup manis bibir Miranda.


"Ehm!" Teriak terpendam Mira. Namun ia tetap membiarkan bibir Rangga menikmati bibirnya sampai puas.


"Mas! Jangan!" Miranda akhirnya menolak dada Rangga.


"Jangan lupa, aku butuh hasrat yang harus kau puaskan!" Bisik Rangga.


"Tapi aku tidak bisa!" Jawab Mira hanya dalam hati.


Rangga mengelus manja rambut Miranda.


"Istriku yang baik!" Batin Rangga.


"Baiklah, kalau begitu, aku pulang dulu, jika terjadi apa-apa, jangan lupa hubungi aku, bukan pria lain!" Jawab tegas Rangga.


"Iyah!"


"Tetap saja rasa cemburu Mas Rangga sampai sekarang tidak hilang-hilang" batin Miranda.


Setelah Rangga pergi, Miranda mulai membersihkan diri, semua perlengkapan pakaian serta stok makanan di kulkas sudah tersedia di ruangan Olivia. Selama koma, Ruangan Tasya masih belum bisa di pindahkan ke ruangan Olivia dan belum bebas di masuki sembarang orang.


***


Terlihat wanita berparas cantik dan manis berusaha membuka ikatan dalam mulut yang tersumpal di dalam mobil.


Vino berbohong kepada Rangga, ia menaruh si Dokter di belakang kursi supir, bukan di bagasi mobil. Ia mengamankan Dokter itu dan terpaksa membawanya ke sebuah Apartemen milik pribadinya.


"cyiiiiiiit" rem dadakan Vino yang membuat tubuh sang Dokter terhempas ke depan membuat kepalanya menubruk kursi mobil.


"Aw!" pelaku menahan rasa sakit.


"Jangan pernah berpikir untuk melepaskan diri, atau aku akan mencincang tubuhmu membuang mu ke parit," Ancam Vino membuat wanita itu terdiam tidak berkutik.


"Yah Ampun dia bisa tau! Apakah aku bertemu dengan seorang psikopat atau memang sosok Bodyguard yang sungguh profesional, benar-benar nasib hidupku sudah berakhir?" batin wanita itu hanya bisa meringis.


***