
"Ini seperti suara wanita kampungan itu!" Batin Jane yang mengenali.
"Trup!" ia langsung buru-buru mematikannya.
"Dasar Kiandra bodoh. Ia tidak hanya lambat dalam bekerja, tapi sangat ceroboh menaruh ponselnya di sembarangan tempat!"
Untuk menghilangkan kecurigaan Jane memanggil seorang pelayan di rumahnya agar berbicara kepada Miranda dan mengaku menjadi Tante dari Kiandra.
***
"Mati?" Miranda merasa heran meletakkan kembali ponsel Kiandra. Baru satu langkah.
"Tlilit!" ponsel itu berbunyi kembali.
"Memanggil lagi!" gumam Mira menerima panggilan itu tetapi tidak menyapa lebih dulu.
"Halo Kiandra!" suara wanita yang lebih tua dari Jane.
"Ouh ini siapa?"
"Saya Jane, Tantenya dari Surabaya!"
"Ouh, jadi ini dari Tantenya Kiandra! Sebentar yah, saya panggilkan!"
"Ouh tidak perlu Nona, jika dia memang sedang sibuk, nanti saya bisa telpon lagi!"
"Baiklah kalau begitu!"
"Trup!"
"Huuft! Syukurlah!" kata Miranda mengelus dadanya.
Tak lama kemudian Kiandra keluar dari kamar mandi yang tengah memandikan Olivia.
"Tadi Tante kamu telpon!"
"Tante? Apa jangan-jangan Tante Jane, gawat!" Gumam Kiandra
"Ouh I...iyah Nona!"
"Telpon balik gih, siapa tau ada yang penting, sini, biar Olivia saya yang pakai kan bajunya!"
"I...Iyah!"
"Tapi mengapa dia tidak curiga yah!" Batin Kiandra berlari mengambil ponselnya dan keluar dari kamar Olivia
***
Percakapan Jane dan kiandra jauh dari lokasi kamar Olivia.
"Dasar goblok kamu! Kamu tau tidak! Jika ketauan, kamu bisa habis di gorok, untung saya punya akal dengan menyuruh pelayan mengaku menjadi Tante kamu!"
"Ma...Maaf Tan, Eh Tante, tapi ini ada yang lebih genting lagi!"
"Genting? Apa? Cepat katakan?"
"Tuan Rangga akan segera meresmikan pernikahannya dengan Miranda, itu artinya Olivia semakin sulit di dapatkan!"
"Dari mana kamu tau, bukankah Rangga hanya sebatas menikahi siri Miranda untuk sekedar mengasuh Olivia!"
"Tanpa sengaja saya mendengar Tuan Rangga sedang memesan sebuah cincin pernikahannya dengan Miranda!"
"Apah?" Mata Jane melotot besar.
"Terus, mengapa kerja kamu sangat lambat?"
"Saya tidak punya peluang untuk menculik Olivia Tante, Tante harus cari cara lain saja. Miranda terus bersama Olivia dan memantau pekerjaan saya, jika dia sedang kuliah dia menyuruh kepala pelayan untuk menggantikannya dan di kamar Olivia juga ada cctv lengkap yang terhubung langsung dengan ponsel Tuan Rangga. Di luar halaman, ada banyak Bodyguard yang mengawasi 24 jam. Tidak semudah yang Tante pikirkan. Saat ini, jika kami keluar, juga ada Bodyguard perempuan yang mengawasi kami?"
"Hem! Benar juga! Baiklah saya akan memikirkannya lagi! Terus berikan saya informasi terbaru!"
"Baiklah Tante?"
"Trup!"
***
(Percakapan Jane dan Fernando menggunakan Bahasa Inggris)
"Halo sayang!" Seorang pria dewasa bertubuh gagah, brewokan tipis bernama Fernando Torres, memeluk Jane dari belakang dan menciumi pundak mulus wanita itu. Pria yang berkisar 50 an sebaya dengan Rusdy, namun pria itu lebih fit dan sehat dan bebas dari kolesterol, encok.
Fernando memberikan rumah kepada Jane keduanya tinggal satu rumah tanpa status suami istri.
"Aku suka sekali kau yang sangat liar di atas Ranjang!"
Jane terkejut dengan kedatangan kekasihnya itu.
"Sayang, kau datang tiba-tiba!"
"Karena selalu ingat kamu dan ingin minta 'jatah' "
"Aku lagi galau!" Rengek manja Jane.
"Galau kenapa sayang!"
"Rusdy akan melimpahkan semua hartanya kepada cucunya itu (Olivia) dan sedikit saja memberinya untuk ku, ini tidak adil. Rangga juga akan menikahi Miranda, aku tidak rela harta Rusdy dinikmati pasangan kampungan itu?" rengekan kecil Jane seperti anak kecil, sekaligus minta diperhatikan. Fernando yang sudah mengerti masalah Jane.
"Tenang sayang, aku akan membantu mu?" Jawab Fernando memutar tubuh Jane langsung menyerang bagian leher wanita yang masih terlihat menggoda meski sudah memasuki usia kepala 4.
Jane menepis serangan Fernando dan mengajaknya bicara lebih serius.
"Bagaimana caranya!" tanyanya dalam wajah cemberut.
"Jangan buru-buru merebut Olivia dulu, itu tindakan yang terlalu ceroboh, pakai cara yang lebih halus dan cantik?"
"Maksudnya!"
"Buat Rangga membenci Miranda sampai Miranda tidak betah dan keluar dari rumah Rangga?"
"Terus!"
"Bukankah kau mengatakan, jika Miranda punya hak asuh kuat yang tidak bisa di gugat oleh Rangga? Jangan biarkan mereka sampai menikah secara hukum yang sah, karena itu mempersulit kamu merebut Olivia? Dengan keluarnya Miranda dari rumah itu, kita bisa mengambilnya lalu merayu Miranda agar menandatangani hak asuh Olivia pindah ke tangan kamu!"
"Tapi bagaimana caranya agar Rangga membenci Miranda!"
"Pakai cara classic saja sayang, tapi sangat jitu, Rangga pernah kecewa dengan Miranda tetapi ia mencintai wanita itu kan? Seperti yang kau ceritakan kemarin? Bagaimana dengan Vino yang bisa kamu jadikan korban dalam perangkap cinta segitiga sampai kedua pria itu beradu bahkan bermusuhan!"
"Hahahaha! You are very smart, I Love u, Darling!" Teriak Jane menciumi dahi licin Fernando.
"I love you, I love you!"
"Iyes...I Like U Baiby!"
"Karena aku sudah memberikan ide brilian, jadi malam ini kau harus bekerja keras untukku!" Fernando menyeret Jane ke atas kasur.
"Ehmm, okey Baiby!" Jawab centil Jane mengelus pipi kekasihnya.
"Aku yang sudah bertahun-tahun mengincar harta Rusdy dan istrinya kenapa jadi Miranda yang begitu mudah menikmati itu semua hanya karena mengurus seorang bayi!
Hahahaha Miranda... Miranda sekali jongos yah tetap jongos dong, tidak akan pernah budak bisa menggeser posisi Tuannya
Dan Konflik ini baru akan di mulai!"
Batin Jane mulai 'bekerja' melayani kekasihnya di atas Ranjang. (Bule punya barang)
***
Kantor Baru Vino Febian.
"Selamat yah Bro! Atas berdirinya perusahaan kamu!" Sapa Rangga memeluk Vino di kantornya yang baru. PT Veron Group.
Ruangan Presiden yang luas dan mewah.
"Terima kasih, kakak! Tapi aku masih butuh bantuan kamu!"
"Hahahaha!" Tawa keduanya berpelukan.
"Tanpa jasa kamu yang terus berjuang mengajariku, 2 tahun menjadi sekretaris mu, aku mungkin akan terus menjadi anak manja yang tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan!"
"Kesuksesan itu, datang dari kemauan kita sendiri, aku hanya membawa tangga untuk mu, karena kau jauh lebih beruntung untuk mencapai posisi ini dari pada aku! kapan peresmiannya?"
"Sekitar satu sampai dua minggu lagi!"
"Ok!"
"Oh Iyah, Malam ini Mami ingin mengajak makan malam, kami ingin datang ke rumah, sekaligus melihat bayi Olivia!"
"Bagaimana jika kami ke rumah Mami saja! Miranda dan Olivia juga ingin jalan-jalan kan!"
"Ahahahahaha, baiklah kalau begitu, aku akan panggilkan EO untuk mempersiapkan semuanya!"
"Tidak perlu!"
"Tenang lah kakanda, kalian hanya tinggal datang bersantai saja!"
"Kabarnya kau akan menikah?"
Vino tersenyum geli.
"Dengan siapa? Itu hanya obsesi Mami saja?"
"Aku harap, kau juga move on dari masa lalu!"
"Siap Bos!" jawab cepat Vino.
"Miranda Putri bukanlah Miranda Agustina!" kata Rangga.
"Hahahaha...Iyah...Tenanglah aku tidak akan bisa merebutnya darimu, hati kalian sudah terikat kuat!"
Rangga hanya tersenyum.
"Gaya party sepertinya bukan masa-masa itu lagi!"
"Ciciye, yang sudah taubat, sudah bisa jadi Suami dan Bapak seutuhnya, selalu menolak jika di ajak Party!" ledek Vino.
Rangga senyum-senyum, malu-mau meong.
"Aku ingin meresmikan pernikahanku dengan Miranda!"
"Ouh Iyah, bagus dong!" sambut Vino ikut bahagia.
"Iyah, aku pikir sudah saatnya!"
"Terus si Otong sudah kagak nangis-nangis lagi dong sudah bertemu dengan si Oting!" Kata Vino dengan gaya yang lucu.
"Hahahaha!"
Tawa bahagia keduanya.
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih🙏🙏 yang sudah mengikuti kisah Miranda sampai Part ini yah, siap menerima konflik yang lebih panas lagi???
Sinetron masih berlanjut😆😆
Bagi kalian yang sudah bosan bisa move on tanpa menulis jejak Bullyan di kolom komentar. Namun bagi kalian yang masih di rasuki jejak penasaran dengan petualangan cinta dan kehidupan Miranda, mohon beri Like, Gift,vote bintang lima dll.
Terima kasih.