MIRANDA

MIRANDA
Part 77-MRD



"Intan! Sudah berapa kali ibu katakan. Jangan pernah mencampuri urusan pribadi adikmu, tapi kamu selalu saja suka mencari masalah dengannya, kamu tau sendiri kan! Rangga itu paling tidak suka jika hal-hal pribadinya di usik oleh orang lain, Ibu sama Bapak saja masih berpikir bicara soal itu."


"Tapi dia perlu cari istri baru, Bu! Agar bisa di perkenalkan kepada Perusahaan secepatnya."


"Kamu coba pikir yang waras, cari pasangan hidup itu tidak mudah, apalagi Rangga sudah punya anak!"


"Bu, soal Olivia, tidak perlu khawatir, banyak sekali perempuan yang mau mengurusnya, Olivia itu bayi kaya raya, dia saja dapat warisan triliun dari ibunya, belum lagi perusahaan dan aset lain, kalian saja yang norak banget, Apa-apa harus perempuan kampungan itu, yang Intan jodohkan kepada Rangga, semuanya berasal dari perempuan yang baik-baik suka pada bayi dan juga berkelas. Tidak mungkinkan, seorang kakak tega mencarikan wanita sembarangan untuk adiknya sendiri!" ucap Intan dengan mulut judesnya.


"Sekali lagi kamu bicara soal Miranda dan Rangga, Bapak akan tampar mulut mu, tidak perduli jika ada suami kamu disitu, mulut mu ngomel terus, persis seperti induk ayam yang mau bertelur🐔 " kata Kasiman dalam wajah memerah siap memukul Intan.


Intan terdiam dalam wajah cemberutnya.


"Huuft, sebel! Kenapa semuanya pada belain Miranda, apa sih istimewanya wanita itu, enggak habis pikir deh lihat orang tuaku yang udik ini! Apa karena mereka sama-sama tinggal di kampung! Sehingga membuat pikiran mereka terlalu sempit."


***


"Tlililit" mendengar ponselnya terus berdering Miranda bergegas mengambilnya.


Kak Vino? batinnya.


"Iyah Kak?"


"Kamu sudah di Jakarta?"


"Mira terpaksa kak, tidak tega membiarkan Olivia, kondisinya sering sakit-sakitan dan tubuhnya sangat kurus!" jawab sedih Miranda.


"Iyah, itu mungkin lebih baik! Fokus lah dengan amanah Tasya!" pesan Vino.


"Baik Kak?"


"Apa Rangga masih kasar dengan kamu?"


"Tidak! lagian Mira hanya bekerja disini, sebagai Babysitter, bukan untuk yang lain?"


"Ok? kapan kita bertemu untuk mengurus skripsi kamu?"


"Nanti Mira kabarin yah Kak!"


"Baiklah! Jaga dirimu kamu baik-baik!"


"Terima kasih kak!"


"Tapi kau yakin baik-baik saja kan!"


"I...Iyah!"


"Trup!"


Percakapan mereka pun berakhir.


***


Sejenak Miranda terbayang dengan perlakuan kasar Damar yang pernah memukulnya di atas ranjang, rasa takut itu sudah sembuh berkat batuan Tasya, namun perlahan muncul kembali.


"Ampun Mas... Ampuun, sakit sekali!" teriak Miranda meringis, menangis sambil memohon.


"Dasar perempuan tidak berguna, kau itu memang perempuan sampah, yang memilih meninggalkan suami demi pria lain. Ahahahahaha!" tawa Damar mirip Iblis yang mengerikan.


Miranda juga terbayang dengan perkataan kasar Rangga;


Aku tidak ingin, Olivia diasuh oleh perempuan pel*cur seperti dia?"


"Aaargh!" jerit kecil Miranda.


"Hatiku sudah begitu lelah, aku hanya ingin sendiri!" ucapnya menjatuhkan kepalanya di atas meja.


Sampai pukul 23.00 wib kondisi rumah Rangga begitu sepi, terlihat semua sudah tertidur. Intan juga sudah kembali ke rumahnya.


Miranda masih sibuk dengan bahan-bahan skripsinya.


***


Setelah melihat hasil laporan kantor, Rangga merebahkan diri di atas kasur. Namun ia tidak bisa tidur akibat terus membayangkan hal-hal indah bersama Miranda. Terlihat ia begitu gelisah di atas ranjang kemudian bergegas bangkit dan berjalan menuju kamar Olivia, lalu mencoba melekatkan daun telinganya di depan pintu.


"Apa dia sudah tidur?" batin Rangga yang sebenarnya ingin ngobrol dan bicara lagi bersama Miranda.


Semua Cctv di setiap sudut kamar Olivia sudah di nonaktifkan kecuali area tempat tidur sang bayi.


Rangga begitu ragu membuka kunci password kamar Olivia namun keinginannya yang begitu kuat ia pun memberanikan diri.


Reflek Miranda langsung bangkit sambil berkata;


"Siapa?" berjalan ke arah pintu.


Begitu melihat sosok Rangga.


Pria itu tersenyum cengengesan😁


"Aku hanya ingin mencium putri kesayangan ku sebelum tidur!"


"Ouh! Silahkan!" Miranda memberi hormat kecil lalu kembali ke meja belajarnya.


Setelah mencium kecil dahi Olivia dan memperbaiki sedikit selimut Putrinya. Pandangan Rangga kembali tertuju kepada Miranda.


"Bagiamana caranya agar lebih lama berada di kamar ini!" batin Rangga mulai mencari akal.


ia mengangkat anaknya dan menepuk-nepuk kecil pipi Olivia berusaha membangunkan putrinya.


"Ayo Nak bangun, bantu Papa agar lebih lama berada di kamar ini bersama ibumu!" bisik Rangga.


Tiba-tiba Olivia terbangun dan menangis kecil.


Miranda bergegas menutup leptopnya dan menghampiri Rangga.


"Bukannya tadi Olivia sudah tidur?"


"Saat aku menciumnya dia terbangun, mungkin ia ingin bermanja-manja dengan Papanya!" jawab Rangga santai.


"Bukannya kata Iroh ia sudah mahir menggendong Olivia, mengapa ia tidak pandai juga!" batin Miranda memperhatikan cara Rangga menggendong.


"Mas, cara menggendongnya salah!" tegur polos Miranda, ia tidak tau jika mantan suaminya itu sengaja melakukannya agar bisa berdekatan dengan dirinya.


Tangan keduanya sempat bersenggolan.


Otong pun terhentak "What's 😯????"


"Ouh begitu yah, hehehehe!" tawa cengengesan Rangga.


Aroma parfum maskulin Rangga yang begitu melekat di hidung Miranda membuat gairah si Oting pun bangkit dari kuburan kesedihannya. Tidak bisa di pungkiri setiap wanita normal yang berdekatan dengan pria menarik seperti Rangga, pasti akan tertarik dengan pesonanya, ditambah lagi keduanya sudah pernah melakukan hubungan pasutri.


Miranda berlari krasak-krusuk menjauhi Rangga menuju meja belajarnya.


"Jika ia menangis lagi, panggil saya?" teriak Mira dari jauh.


"Kenapa anak itu?" batin Rangga mengerutkan dahinya.


"Kegenitan banget si kamu Ting! itu bukan otong mu lagi, dosa tau!" ucap Mira memukul kecil si Oting miliknya.


"Kenapa belum tidur!" Miranda terkejut melihat Rangga yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang perempuan itu, sambil menggendong Olivia yang mulai tertidur.


"Se...sebentar lagi!" jawab Miranda gugup.


"Biar aku saja yang menyelesaikannya, nanti aku tinggal mengajarkannya kepadamu, semua bahan-bahan data mengenai sekretaris sudah lengkap aku miliki," kata Rangga.


"Terima kasih Mas! Ini tinggal sedikit lagi!" jawab Miranda fokus melihat laptopnya.


Merasa tidak enak, Miranda akhirnya menutup leptopnya dan menyudahinya.


Rangga kembali meminta Miranda agar membantunya meletakkan Olivia di keranjang bayi yang empuk, lagi-lagi pria itu terlihat tidak pandai padahal jika Miranda tidak ia tampak mahir sekali walaupun lambat.


"Ia pasti akan tertidur lelap setelah menyaksikan Papa dan Bundanya sedang mengiringi tidurnya malam ini," ucap Rangga tersenyum melirik ke arah Miranda.


Miranda tidak membalas senyuman itu. Ia terlihat cuek.


"Sebaiknya Mas tidur saja, besok pagi mau ker...."


Belum selesai Miranda bicara, Rangga langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur membuat Miranda terbengong kaku.


😳😳😳😳


"Aaaaaarh, enak yah tidur disini?" kata Rangga dengan senyum menggodanya menatap Miranda sambil menarik-narik tubuhnya, menghilangkan rasa pegal.


"Mau apa si kecoa gosong ini, aku tidak sanggup jika ia ingin mencari masalah lagi, jangan bilang ia ingin memaksaku memuaskan nafsunya di ranjang ini!" ucap geram Miranda mulai bersiap-siap memukul Rangga.


"Dia begitu fokus melihat i ku, aku yakin sekali dia pasti kangen berat ingin melakukannya bersama ku lagi, seperti dulu Tasya memohon-mohon ketagihan!" batin sombong Rangga.