
"Mira kamu kenapa?" tanya Rangga begitu panik lalu mengusap tetasan darah yang keluar dari hidung Miranda dengan jarinya.
"Aku tidak apa-apa!" Jawab ketus Mira membuang tangan Rangga lalu berjalan mendekati Ardi.
"Mas, maafkan perlakuan kasar suami Mira, saya yakin dia hanya salah paham saja!"
"Jadi dia suami kamu?" ucapan Ardi dengan wajah tidak senang.
"Iyah Mas!"
"Mengapa kamu tidak bilang jika sebenarnya kamu sudah memiliki suami!"
"Mira kan sudah mengatakan jika sudah menikah!"
"Aku pikir kamu hanya bercanda!"
Mira hanya menunduk menahan malu.
"Yah sudah lah, kalau begitu kamu tidak perlu lagi bekerja denganku, ini gaji mu!"
Ardi menyodorkan uang sebesar Rp 50 ribu kepada Mira.
"Bilang sama suami kamu itu, kalau sebenarnya kamu ikut aku hanya bekerja! Bukan sedang menggoda lelaki lain!" ucap Ardi kesal meninggalkan Mira.
"Iyah Mas, Maaf!" Jawab Mira masih dalam kondisi menunduk malu.
"Heh, sontoloyo!" Rangga menarik baju Ardi saat berjalan ingin memasuki mobilnya.
"Tanpa bekerja dengan mu, Aku masih bisa memberi makan istriku!" Bisik gengsi Rangga dengan giginya yang rapat.
"Ukh!" Ardi menghentakkan bahunya menunjukan wajah masam lalu masuk ke dalam mobil.
"Dasar banci, di ajak duel malah ngumpet...Huui, Cemen Loh!" teriak Rangga saat mobil Ardi sudah start pergi.
Mira menghapus air matanya lalu mulai berjalan menjauhi Rangga.
Seketika itu Rangga mengejar.
"Mira, ayo! Naik ke motor!"
"Lepasin! Aku benci sama kamu!" hentak Miranda dengan mata merahnya.
"Benci itu benar-benar cinta!" ledek santai Rangga.
"Hiks...hiks...!" Rengek Mira masih kesal kehilangan pekerjaan karena tingkah suaminya.
"Duiiiiit saja di otak kamu, Ayolah!" Rangga menarik lembut tangan Mira mengajaknya naik ke atas motor, lalu mengambil tisu dan membersihkan bercak darah di hidung Mira. Meski awalnya menolak, akhirnya Mira terlihat pasrah dalam diam dengan bibir yang manyun. Rangga begitu detail membersihkan darah di wajah wanita itu.
"Sakit yah? Aku minta maaf tidak sengaja!" kata Rangga.
"Mas! Mengapa kamu bisa-bisanya melakukan hal memalukan seperti ini, kamu tuh kasar banget...hiks..hiks!" Rengekan kesal Mira memukuli dada Rangga.
"Sekarang kamu ikut aku, nanti aku jelaskan!"
Akhirnya Rangga membawa istrinya menuju suatu tempat.
***
Sebuah motor model lama melaju mengitari perjalanan pedesaan yang masih asri, sejuk dan indah. Melalu pematang sawah, kebun, pepohonan, di jalan aspal menuju tempat wisata pantai pasir putih. Rambut lurus Mira yang hitam melambai-lambai diterpa angin.
Suara khas sepeda motor Rangga bernyanyi-nyanyi menghiasi kebisuan mereka. Terlihat raut wajah kusut Mira yang mulai memudar, sejenak ia menikmati perjalanan indah bersama sang suami.
Sementara Rangga dalam raut ceria dengan sikap bucin yang menggemaskan. Perlahan tangan kiri Rangga menarik lembut tangan Mira agar memeluknya dari belakang. Mira pun semakin merapat lalu menyandarkan pipi dan tubuhnya ke pundak Rangga, tetapi melukiskan raut wajah yang lelah dan jenuh.
***
"Rasanya aku ingin bertanya kepada semua wanita di dunia ini, apakah mereka akan bertahan dalam sebuah hubungan pernikahan tanpa cinta dan tanpa nafkah. Aku tidak tau apakah ia memang benar mencintaiku atau tidak. Selama hidup bersamanya yang aku rasakan hanyalah kesulitan. Ia suka memaksa dalam segala hal. Aku jenuh dan sulit mencintai nya, aku ingin lepas darinya tapi aku takut. Meski dia lembut tapi sangat arogan. Aku juga tidak ingin membuat ibu sedih, membuat kehidupan ibu semakin sulit, ibu juga sudah banyak terhutang untuk membayar pengobatan Ayah kemarin, aku ingin ibu tenang!" Batin perih Miranda.
***
Perjalanan demi perjalanan keduanya pun sampai di tepi pantai pasir putih nan indah.
"Akhirnya kita ke pantai juga!" Seru bahagia Rangga memarkirkan motornya dan membuka jaketnya dengan senang.
Sejenak Mira memandangi suasana pantai dengan matanya yang sipit. Segala penatnya sedikit terobati.
"Waktunya sangat tepat siang menjelang sore!" Kata Rangga dalam hati yang riang.
"Ayo sayang!" Menarik tangan Mira dan mencari lokasi duduk yang enak.
Rangga membeli satu buah kelapa muda dan beberapa jajanan. Keduanya duduk beralaskan seadanya, sangat sederhana dan jauh dari kata mewah.
"Ini minumlah, kamu pasti haus, capek kan!" ucap manis Rangga pada Mira.
Wanita muda nan polos itu pun, menyerup air kelapa muda, tenggorokannya yang kering terasa lega.
"Mas tidak mau?"
"Sedikit saja, tadi aku sudah makan dan minum di warung Bu Inur!"
"Kamu sudah makan?" Tanya Rangga.
"Sudah?"
"Makan dimana?"
"Tadi makan siang dengan mas Ardi di pasar!" Jawab polos Mira.
("Jadi si kecoa gosong itu selam ini setiap hari Minggu makan siang berdua dengan istriku!" gumam kesal Rangga raut wajahnya kusut mengalihkan pandangannya ke pantai, ia ingin protes, marah tetapi tidak bisa)
Sambil menyerup air kelapa, Mira memperhatikan Rangga yang tiba-tiba terdiam memandangi jauh ke lepas pantai.
"Kenapa Mas!"
"Tidak apa-apa, minumlah!" Kata Rangga sambil mengelus lembut rambut Mira.
Sejenak suasana hening dan keduanya menatap keindahan pantai bersama.
Rangga masih menutup mulutnya dengan rapat sampai akhirnya ia pun bicara.
"Mira!" Panggilnya, kedua mata mereka saling menatap.
"Aku minta maaf jika selama ini, aku belum bisa membahagiakan mu, jika selama ini orang-orang menyepelekan kehidupan rumah tangga kita dan memandang sebelah mata, lalu kau merasa risih dan berusaha ingin mencari uang."
Rangga menggenggam tangan istrinya.
"Aku memang bukan lelaki yang baik, aku sering menyusahkan orang-orang yang menyayangiku terutama kedua orang tuaku. Awal pertemuan kita memang terlalu memaksakan tapi aku sudah jatuh cinta denganmu. Dan cinta ini mengubah pola hidupku yang santai, pemalas tetapi aku ingin berhasil. Aku sangat cemburu jika kau berada di samping orang lain.
Mengapa aku memukul Ardi? Pandanganku sebagai pria, dia itu menyukai mu dan memanfaatkan kepolosan mu juga kebutuhan uang yang kau cari! Dan tanpa kau sadari, kau memberi peluang kepadanya. Perselingkuhan itu semua di awali dari jejak yang biasa saja, sampai menjadi hal yang luar biasa. Sebagai suami wajar jika aku bertindak lebih awal, meski memang sedikit kasar."
Miranda terdiam menatap fokus wajah Rangga.
"Mira! Aku pinta yang terakhir kali kepadamu, percayalah denganku. Aku mohon kau tetap bertahan di samping ku, aku mengerti kondisi kita saat ini memang sangat menyedihkan. Orang-orang sangat sepele dengan kita, Tapi beri aku waktu dan kesempatan untuk menjahit sayap kemampuan ku agar bisa terbang menggapai dunia. Kau adalah orang pertama yang akan aku bawa terbang untuk meninggalkan kehidupan yang sulit ini!" Kata Rangga dengan mata berkaca-kaca.