MIRANDA

MIRANDA
Part 62-MRD



Sebagai ungkapan terima kasih, Vino menjamu tamunya dengan makan siang.


Terlihat anggota Fernando itu sedang membius dan menyekap seorang pelayan restoran lalu menyamar sebagai pelayan yang membawa makanan itu menuju Apartemen Vino.


sistem kerja yang sangat mulus, mengamankan setiap cctv yang bekerja sama dengan pihak Apartemen, semua dilakukan oleh anggota dan Bodyguard Fernando.


Pelayan samaran itu mulai menghidangkan satu per satu makanan, cemilan berserta minuman yang telah di sediakan ke setiap masing-masing.


"Kak, Miranda pulang lebih dulu saja yah?"


"Sebaiknya makan siang dulu yah, masih ada yang harus kamu lengkapi lagi!


Miranda melihat jam tersisa yang masih panjang.


"Iyah Baiklah!"


Tanpa ada rasa kecurigaan mereka makan seperti biasa, meneguk minuman sampai habis karena merasa haus.


Setelah makan, Vino berbincang-bincang dengan para jaksa dan Miranda masih melengkapi berkas yang akan segera di bawa.


Tidak lama kemudian.


"Haaa (Miranda menguap) mengapa aku sedikit pusing dan sangat mengantuk sekali!" gumamnya langsung tertidur di atas meja.


Miranda yang tidak kunjung keluar, akhirnya Vino masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Miranda? Tertidur?" batin Vino masih tidak curiga dan menganggap perempuan itu hanya benar-benar mengantuk. ia pun spontan mengangkat tubuh Miranda, Vino sempat merasakan de Javu dengan masa lalu bersama kekasihnya.


Meletakkan Miranda dengan lembut di atas kasur tamu.


"Ah, sadarlah Vino, ia bukan kekasih mu!" Batin Vino pergi meninggalkan Miranda dan menyerahkan berkas yang sudah sempat terlengkapi oleh istri Rangga itu.


Setelah memastikan para jaksa itu keluar.


"Arkh!" Tiba-tiba Vino juga merasakan sakit kepala yang hebat.


"A...aku yakin ada sesuatu di minuman itu!" Katanya berjalan berlari ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan sisa makanan.


cairan yang membuat tubuh terasa lemas, pusing dan ingin tidur, khusus diberikan kepada Vino dan Miranda.


Sekelompok pria membuka pintu Apartemen Vino dengan alat khusus tanpa merusak. Sebelumnya cctv di area Apartemen telah diamankan.


Vino dalam sayup-sayup mata memandang sempat merasakan ada sekelompok pria masuk ke dalam kamar mandi berjalan mendekatinya.


Ia mencoba memberikan perlawanan namun gagal, tubuhnya begitu tidak berdaya.


***


Rangga dan Lukas kembali ke Indonesia lebih awal. Rangga mengerjakan cepat semua pekerjaannya demi bisa segera bertemu dengan Miranda dan Olivia.


Terlihat Rangga mulai menaiki pesawat dan ia baru memiliki waktu untuk membuka ponsel pribadinya, puluhan pesan di WhatsApp terlihat. dan langsung mengetikkan kata "Miranda" di kolom pencarian.


Merasa lelah membaca pesan. Pria itu menelpon istrinya.


"Tuuut!" Nada kosong yang tidak terjawab.


Ponsel Miranda berdering lebih dari 5 kali dari panggilan tidak terjawab Rangga.


"Sedang apa dia?" Batin Rangga kembali membaca pesan dari Miranda tentang keberadaannya di Apartemen Vino.


"Ouh! Baiklah, ternyata mereka sedang sibuk!"


Rangga mencoba menelpon Vino, Nadia dan Atir, mereka semua dalam kondisi tertidur sehingga mengabaikan panggilan Rangga.


"Kemana mereka?" gumam Rangga mengerutkan dahinya.


Saat Rangga ingin menelpon Iroh ia membatalkannya.


"Ah! Sebaiknya aku langsung ke Apartemen Vino saja!" Batin Rangga merebahkan diri sejenak.


***


Pesawat tiba Jakarta.


"Lukas!"


"Iyah Pak!"


"Turunkan saya di Apartemen Vino!"


"Baik Pak!" Mobil mulai melaju menuju kediaman Vino dan Miranda.


Dalam perjalanan pulang, Rangga tampak bahagia melihat i kotak cincin mewah pernikahannya dengan Miranda, sambil senyum-senyum sendiri dan merasa tidak sabar ingin memberikan kejutan indah nan istimewa itu kepada sang istri.


Setelah sampai.


"Tidak perlu, sebaiknya kamu pulang saja, kamu juga sangat lelah kan?"


"Baik Pak!"


***


Langkah cepat Rangga terus berjalan menelusuri lantai demi lantai hingga sampai di area tujuan. Meski dalam kondisi sangat lelah, pria itu begitu tampak bahagia ingin segera bertemu kepada Miranda dan memberikan kotak cincin yang ia bawa serta tidak sabar ingin melihat reaksi bahagia Miranda.


Rangga memiliki password yang bisa bebas masuk ke ruang gedung Apartemen Rangga.


Miranda tersadar lebih dulu.


"Haduh kepala ku pusing sekali!" keluh Miranda berusaha bangkit masih dalam kondisi memegangi kepalanya.


"Ouuuhhhhhhh 😱" ia begitu terkejut ketika melihat Vino tertidur di sampingnya.


"Tidak, apa yang terjadi? Bukan kah? Tadi aku sedang menulis di atas meja!" dengan tangan bergetar penuh dengan rasa takut yang tidak tertahankan Miranda berusaha merangkak bersembunyi memakai pakaian yang berserakan di lantai.


"Siapa yang melakukan ini, sungguh biadab, tidak mungkin kak Vino melakukannya kepadaku, aku tidak merasakan apa-apa!" pikirnya.


"Haduh mengapa jadi begini?" setelah memakai pakaian lengkap Miranda panik kebingungan, akhirnya ia membangunkan Vino.


"Aaah!" Vino yang belum 100% dalam kondisi sadar.


"Kak Vino, ayo banguuuuuuun!" Miranda mengguyur tubuh Vino.


Vino akhirnya bangkit meski kepalanya masih dalam kondisi sangat pusing.


"Lihat pakaian kakak sudah terbuka, pasti ada orang usil yang sedang menjebak kita!" kata Miranda ketakutan.


Vino berusaha mengingat kejadian sebelumnya, terakhir yang ia sadari, dirinya ada di kamar mandi dan melihat sekelompok orang tidak di kenal menerobos masuk ke dalam Apartemennya. Ia juga masih ingat meletakkan Miranda di kamar tamu bukan di kamar utama.


"Miranda? Vino?" Seketika Rangga datang dan sangat shock melihat istrinya satu kamar dengan sahabatnya sendiri yang masih berpakaian terbuka. Jantung dan darah Rangga seolah-olah berhenti. Tas kecil berisikan kotak cincin pernikahan terjatuh dari tangan Rangga.


"Mas Rangga!" Miranda berlari mendapati suaminya.


"Jangan sentuh aku!" jawab Rangga kesal.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Rangga menarik tangan Miranda keluar.


"Mas, kamu jangan salah paham dulu!"


"Jawaaaaab!" bentak keras Rangga kepada Miranda membuat wanita itu terkejut hebat.


Vino bergegas memakai pakaiannya dan menghampiri mereka.


"Bro, bisa kah kau tenang sedikit?"


"Bruk!" tanpa basa-basi lagi Rangga langsung meninju keras Vino.


"Aaaaaaaah!" Miranda menjerit.


"Aku harus tenang, suami mana yang bisa bersikap tenang saat melihat istrinya tidur dengan sahabatnya sendiri!" Rangga begitu emosi di tambah lagi dengan kelelahannya.


"Mas Rangga tolong hentikan, kak Vino tidak salah apa-apa!" jerit Miranda, ia berusaha memisahkan keduanya tapi Rangga mengabaikannya, membawa paksa Vino dengan cepat ke sebuah ruangan lalu menutup pintu.


Rangga tampak bringas menghajar Vino sampai babak belur. Tapi Vino tetap tidak membalas meski kemampuan bertarungnya jauh lebih hebat.


"Aku tidak menyentuh Miranda kata Vino!"


Rangga menarik kerah baju Vino, hidung dan mulutnya penuh darah.


"Apakah kau tidak bisa berhenti mencintai masa lalu mu! Sadarlah Vino, Miranda ku bukan Miranda mu!" kata Rangga dengan wajah yang sangat marah.


"Katakan kau masih percaya dengan ku?" ucap Vino.


"Untuk apa?"


"Mulai detik ini, aku tidak percaya lagi denganmu dan menyesal telah mengenalmu?" jawab Rangga menghempaskan tubuh Vino lalu melangkah keluar membuka pintu spontan Miranda masuk.


"Mas Rangga tolong percaya aku, kami tidak melakukan apa-apa, aku bersumpah, ini hanya sebuah jebakan kotor!" Miranda menangis berlutut di kaki Rangga.


Rangga menarik tubuh Miranda berdiri menatapnya dengan mata yang sangat merah.


"Kau kejam Miranda, Aku sangat benci kepadamu, tau kah kau? Aku sudah menempa cincin mahal pernikahan kita, tapi semua itu sia-sia, sungguh aku jera mencintai mu. Tolong, tolong pergi dariku sejauh mungkin!"


Miranda tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa meneteskan lelehan airmata yang deras membanjiri pipinya.


Vino bangkit menantang Rangga ia benar-benar tidak terima dengan tuduhan Rangga.


Terlihat Kiandra mulai mengatur rencana membawa lari Olivia berdasarkan perintah Jane.