MIRANDA

MIRANDA
Part 50-MRD



Sesampai di rumah orang tua Vino, terdengar suara musik seru, lantunan irama DJ yang bergema dari arah ruang keluarga dan TV.


"Hais!" Batin Vino saat mendekati ruangan yang brisik itu.


Terlihat orang tua Vino serta Kakek dan Neneknya sedang berpesta kecil dengan minuman anggur, bernyanyi bersama.


"Selamat dataaaaaang sambut mereka dengan riang gembira!"๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ•บ๐Ÿ•บ


"Oh anak Mami!" ucap Melani Silvi ibu kandung Vino Febian, Ibu cantik itu langsung memeluk erat sang anak yang jarang sekali pulang. Vino lebih suka menghabiskan waktunya di Apartemen.


Pandangan mereka tertuju kepada Sania wanita tahanan Vino dan memperhatikan penampilan wanita berpenampilan sederhana dari atas sampai bawah.


"Siapa dia?" bisik Melani kepada Vino.


"Bukannya Mami butuh Asisten?"


"Mami pikir dia calon istri kamu!"


"Hahahaha! Vino belum katarak Mi, enggak mungkin juga cari tampang calon istri beginian, seperti Mama dan Papi katakan tidak hanya bibit dan bobot, penampilan juga di butuhkan!" ucap Vino merasa geli.


"Ouh!"


"Ayo cepat kenalkan diri kamu!" perintah Vino.


"Ii..Iyah!"


"Nama saya Miranda Sania!"


"Ouh nama yang cantik seperti wajahnya!" puji Nenek Vino dengan senyum manisnya.


"Saya baru saja lulus dari kedokteran!"


"Loh! Jadi kamu seorang Dokter?" ucap heran Fudo Gin, Ayah vino.


"Benar Om!"


"Lantas mengapa kamu ingin menjadi seorang Asisten Vino?"


"Karena Tuan Vino itu Sultan, jadi saya ingin cari modal om, buat bisa buka praktek dan sekolah spesialis lagi!" senyum Miranda Sania.


"Hahahaha!" Tawa semuanya merasa aneh dan lucu dengan ucapan apa adanya Miranda Sania.


"Heh๐Ÿ˜!" senyum sinis Vino.


"Yayayayayaya yang pasti ini bukan akal-akalan kamu kan Vin," ucap Fudo Gin, Ayah vino.


"Maksud papi!"


"Yah sudah, Miranda, cuci piring di dapur, jangan sampai ada yang pecah jika kau ingin mendapatkan gaji yang besar!"


"Baik Tante!"


"Sepertinya Olivia dalam kodisi terancam!" batin Sania.


***


Malam itu Pelukan hangat Rangga yang membuat Miranda tidak berkutik.


Pelan-pelan ia menggeser tubuhnya namun Rangga menarik kembali tubuh Miranda lebih erat.


Tanpa di sadari wanita itu tersenyum senang.


Setelah dua jam tertidur bersama suami tercinta. Miranda terbangun, ia mendengar sayup-sayup tangisan Olivia, bayi mungil itu menangis histeris akibat kehausan. Miranda terbangun gelagapan membuatkan susu untuk Olivia, setelah itu sang bayi mulai mengajak ibu angkatnya bermain sampai menjelang subuh. Setelah sholat, Miranda merasakan kantuk yang luar biasa hingga ia tertidur di bawah keranjang bayi Olivia.


Saat Rangga terbangun ia melihat sang istri tertidur pulas, pria itu tersenyum sambil berkata dalam hati;


"Tidak salah jika Tasya menitipkan anaknya kepada Miranda!" Rangga mengangkat istri mudanya itu agar tidur dengan posisi yang baik di atas kursi.


***


Rangga bersiap-siap pergi ke kantor, setelan mandi dan sarapan.


"Iroh!"


"Saya Tuan!"


"Siapkan sarapan sehat buat Miranda dan jangan lupa beri ia vitamin!"


"Baik Tuan!"


***


Pukul 08.00 wib pagi hari Miranda terbangun.


"Haduh, tidak biasa tidur pagi (begadang) kepalaku pusing sekali!" batinnya.


"Eh๐Ÿ˜ณ!" Miranda merasa ada yang berubah.


"Apa dia yang memindahkan aku?" Wanita itu tampak berpikir.


"Kiaandraaaa!" panggil Miranda.


"Iyah Nona!"


"Apa kau sudah memandikan Olivia!"


"Sudah Nona, saya juga sudah memberikan susunya!"


"Terim kasih, saya mau mandi dulu!"


"Tlilit!"


Panggilan dari ponsel no Name di ponsel Kiandra dengan sigap wanita itu keluar dari kamar Olivia.


"Iyah Nyonya!" Jawab Kiandra dengan nada berbisik.


"Ingat, tanamkan dulu kepercayaan mereka kepada mu, baru kau bisa menjalankan tugas mu yang sesungguhnya, tidak perlu ceroboh dan terburu-buru seperti wanita bodoh bernama Sania!"


"Baik Nyonya!"


"Saya akan berikan kamu bayaran fantastis, jika visi menculik Olivia berhasil!"


"Terima kasih Nyoya!"


***


Ruang makan


"Silahkan Nona sarapan dan minum vitamin," pinta Iroh.


"Terima kasih Bi! Apa Tuan Rangga sudah pergi!"


"Sudah Nona!"


"Apa sebaiknya aku membeli mobil saja, memberanikan sendiri menyetir agar tidak merepotkan Rangga! Tapi uangku belum begitu banyak!" batin Miranda.


(Pemberian Tasya juga masih dalam pengurusan)


Setelah selesai dengan urusan Olivia, Miranda mempercayakan asuhan anaknya kepada Kiandra, terlihat ia mulai siap-siap akan berangkat kuliah.


"Tlilit!" suara ponsel Miranda berbunyi.


"Siapa ini?" batin Miranda tetap menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


"Halo!"


"Siapa kamu!"


"Hahaha!"


"Sepertinya aku mengenal suara ini!" batin Miranda.


"Kamu tentu tidak asing kan dengan suara Jane yang lembut ini!"


"Mau apa kamu?" hentak Miranda.


"Ow, saya hanya ingin menawarkan, bagaimana jika kita gantian mengasuh Olivia, tentu kau masih muda dan banyak urusan?"


"Maaf Nyonya besar, saya tidak berminat!" jawab Miranda dengan tegas.


"Trup!" Miranda langsung mematikan telponnya.


***


"Kurang ajar, lihat saja nanti, aku akan membinasakan kamu Miranda, karena sudah berani menghalangi ku!" batin Jane dengan sorotan mata yang tajam!


***


"Dasar Perempuan gila!" batin Miranda menggenggam erat ponselnya.


"Lagi bertelepon dengan siapa?" sapa Rangga di telinga Miranda.


Reflek wanita itu terkejut.


"Mas Rangga! kok sudah ada di rumah saja!"


Rangga terdiam sejenak.


"Mau jeput Mira yah, Mas!" ledek wanita itu.


"Hahaha, bukan, ada dokumen yang ketinggalan!"


"Mas, Mira pergi kuliah dulu yah, soal Olivia Kiandra bisa mengatasinya?"


"Naik apa?"


"Apa Mira boleh pinjam mobil?"


"Boleh!"


"Alhamdulillah!"


"tapi..!"


"tapi apa?"


"Hanya ada satu mobil yang bisa kamu pakai, yang lain aku tidak mengizinkannya karena tidak cocok untuk wanita!"


"Baiklah, tidak masalah!"


Akhirnya Rangga memberi kunci kepada Miranda, wanita itu terlihat senang dan langsung berlari cepat menuju garasi.


"Asyik, kalau begini kan aku tidak perlu lagi tergantung kepada Rangga, bisa beli mainan kecil di Babyshop buat Olivia setelah pulang kuliah nanti!" gumam Miranda masuk ke dalam mobil.


Mesin mobil tidak ingin hidup dan berjalan meski Miranda sudah berkali-kali menyalakannya.


"Huuuft kok enggak bisa sih?" batinnya mulai menggerutu.


Miranda terus berusaha namun gagal.


Rangga sengaja memberikan mobil yang baterainya sudah harus di ganti.


"Aaargg kalau begini bisa telat!" Miranda memukul stir bertanda kesal. keluar dan melihat deretan mobil lainnya.


"Mulai dari Rumah dan mobil milik kak Tasya, semua di jual oleh Rangga? Benarkan semua ini keinginan kak Tasya yang tidak ingin ada wanita lain dan Rangga memakai bekas barang-barangnya?"


"Banyak mobil disini tapi tidak bisa di gunakan, mau minta mobil kepada Rangga? Tapi ah, aku malu?"


"Apa Rangga sengaja memberikan mobil yang rusak!"


"kalau begini aku bisa terlambat?"


"Malu banget setiap jam kuliah selalu telat, sampai sudah di cap dengan sebutan Mis Telat!"


Dengan wajah yang kusut Miranda kembali menemui Rangga di ruang kerjanya yang sedang bersiap-siap kembali ke kantor.


"Ini! Aku naik Taxi saja?" Miranda menyerahkan kunci mobil kepada Rangga.


"kenapa?"


"Mobilnya rusak!"


"Rusak!"


"Hem!


Rangga berusaha mengingat.


lalu tertawa cengengesan.


"Ouh, Iyah, aku lupa jika baterai mobilnya harus di ganti!"


"Menyebalkan sekali, katakan saja tidak boleh di pinjam๐Ÿ˜ก, ih Rangga pelit dari dulu selalu pelit! lebih baik cari Taxi Langganan saja!" gerutu Miranda bergegas turun.


***


"Tiiiiin!"


Rangga menyapa dengan mobilnya!


"Mau ikut enggak!"


"Enggak, Naik Taxi saja!" ucap Mira membuang wajahnya.


"Jika mau naik Taxi, kamu harus berjalan 300 meter lagi ke depan, ini kawasan rumah yang tidak bisa di masuki Taxi ataupun ojek online!"


"Benar juga yah! Sepertinya aku tidak punya pilihan daripada telat!" batin Miranda bergegas naik ke dalam mobil Rangga.


Rangga tersenyum tipis.


Di dalam mobil keduanya masih terlihat malu-malu untuk saling bicara, kaku dan tampak salah tingkah. Pertama kalinya Rangga mengantar Miranda kuliah di jadwal siang.


Tanpa sengaja mata Miranda melirik kebelakang.


"Ada buket bunga??? Untuk siapa yah??? Cantik banget lengkap dengan coklat batang pula?"


"Yang pasti itu bukan untuk kamu Miranda?" batinnya tidak ingin berharap dan kembali memandang ke samping jendela.


***


Di lain tempat di waktu yang sama. Diam-diam Jane sudah kembali ke Jakarta, secara tersembunyi Rusdy menjebak wanita itu agar datang ke sebuah Apartemen menawarkan sebuah perencanaan bisnis.


Setelah Jane bertelepon dengan Miranda seorang menjerat leher Jane secara dadakan dari belakang dengan sebuah tali yang keras. Seseorang yang sudah ada di dalam Apartemen itu.


***


Sory yah guys ๐Ÿ™ update nya lama akibat kesehatan mata Author yang sedang terganggu. Jangan lupa di Like dan Gift sebanyak-banyak yah. Terima kasih.