MIRANDA

MIRANDA
Part 72-MRD



Miranda mulai menghidangkan manis suguhan teh dan beberapa cemilan kering untuk Rianti dan Kasiman.


Rianti menyerahkan bingkisan parsel buah kepada Narwati sebagai oleh-oleh kedatangan mereka.


"Maaf yah Bu, Pak! Miranda belum sempat ke rumah!"


"Hehehe, tidak apa-apa Nak Mira?" jawab cengengesan Rianti.


Percakapan mereka di awali dengan canda dan tawa sampai pada akhirnya Rianti mulai bicara inti kedatangan mereka.


"Bu Narwati, kedatangan kami kesini, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan Rangga kepada Miranda. Tolong maklumi sikap kasar putra saya yah Bu! Sebenarnya... dia itu anak yang baik, penyayang, hanya saja ia memang sedikit trauma, ketika nak Miranda pernah meninggalkannya. Sifat Rangga dari kecil, memang sangat tidak suka jika barang kesukaannya di pakai oleh orang lain, biarpun itu Intan sendiri. Ia akan marah besar kepada kakaknya."


"Iyah Bu! Enggak apa-apa, mungkin Miranda bukanlah jodoh yang tepat untuk Mas Rangga!"


"Terima kasih banyak yah Mir! Terus terang, ibu sebenarnya malu datang kesini!" Jawab Rianti penuh haru.


"Mungkin mereka ini sama-sama anak paling kecil yah? Jadi masih sama-sama masih egois!" kata Kasiman dengan senyumannya.


"Iyah sudah lah Bu, Pak. Yang lalu biarlah berlalu! Lagian Rangga itu sekarang sudah pria mapan, terpandang, Miranda bukan lagi perempuan yang pantas ada di sampingnya! Sebenarnya, saya lebih tenang jika dia ada disini daripada merantau!" kata Narwati.


"Ah, tidak juga Bu, kami tidak pernah memandang status. Jika memang sudah jodoh anak kami, artinya itu lah yang tebaik pilihan Allah. Baik buruk manusia itu kan selalu ada dan kita tidak tau nasib rezeki seseorang! Jujur, kami sangat senang jika Miranda menjadi menantu kami?" jawab Rianti.


Miranda hanya terdiam dan menunduk.


"Oh Iyah Mir, Dua hari lagi ibu ingin ke Jakarta, karena Olivia sekarang sering sakit-sakitan, tubuhnya juga kurus!"


Sontak Miranda terkejut mendengarnya.


"Sakit-sakit an Bu?" menatap Rianti.


"Iyah, ini fotonya?" Rianti menyerahkan ponselnya.


Saat Miranda melihat foto kondisi fisik Olivia, ia hampir meneteskan airmata.


"Bukannya Iroh bilang ia baik-baik saja, memang aku tidak meminta fotonya? Kasihan sekali, baru beberapa hari mengapa anak gadis ku jadi jelek begini!" batin sedih Miranda.


"Terkadang merawat anak bayi tidak semuanya serasi dan cocok, bahkan ibu kandung sendiri pun ada yang tidak serasi merawat anaknya.


terakhir saat Mira kirimkan foto Olivia kepada ibu, ia terlihat sangat montok dan ceria?" ucap Rianti dalam wajah lesu.


"Iyah Bu!"


"Sejak ia kecil, kakeknya pernah bilang, jika tangan Miranda ini sangat dingin jika mengasuh anak-anak!" sambut Narwati.


"Ouh begitu!" Angguk Rianti.


"Apakah Nak Miranda bersedia lagi mengasuh Olivia, Bapak minta tolong sekali, Nak?" tanya Kasiman dalam raut memohon.


"Tapi Pak, kak Intan sepertinya tidak suka jika Miranda yang mengasuh Olivia!" jawab lesu Miranda.


"Jika dia suka berkata kasar kepada kamu, telpon saja Bapak, Bapak akan datang ke Jakarta khusus untuk menampar mulutnya!" Jawab Kasiman penuh emosi.


"Mir, kamu tau sendiri kan jika Intan itu dari dulu mulutnya cerewet sekali. Ibu juga sering bertengkar dengannya."


"Iyah Bu!"


"Dia itu mirip seperti Bapak rewel dan cerewet!"


"Kamu kok jadi salah in aku sih!" Protes Kasiman menyenggol bahu istrinya


"Ih Memnag benar kan😏?" Jawab masam Rianti membuang wajahnya.


Miranda dan Narwati hanya tersenyum tipis.


"Jadi bagimana Mira? Apa kamu mau ikut ibu ke Jakarta kembali mengasuh Olivia lagi?"


Wanita desa itu terlihat bingung memberikan jawaban kepada orang tua Rangga, seketika itu ia memandang ibunya.


"Jangan plin-plan, kasih jawaban yang pasti!" ucap Narwati.


"Emmm, Berikan Miranda waktu untuk memikirkannya lagi yah Bu, Pak. Mira janji, dua hari ke depan, Mira akan datang ke rumah untuk memberikan kepastian jawabannya!"


"Iyah, Baiklah Nak, kami akan menunggu jawaban mu. Sekali lagi, Bapak berharap kepadamu, tolong maafkan kesalahan Rangga. Masalah kalian berjodoh ataupun tidak! Bapak tidak mempermasalahkan itu lagi, tapi coba lah pikirkan Olivia, bukankah Alm Tasya sudah menitipkannya kepadamu."


Miranda hanya bisa tertunduk. Hati kecilnya ingin sekali memeluk Olivia kembali.


"Kamu jangan khawatir Nak Mira, Bapak sudah buat perhitungan kepada Rangga, untuk tidak cari masalah lagi dengan kamu."


Percakapan malam itu pun selesai, Rianti dan Kasiman kembali pulang, masih dalam menunggu jawaban Miranda.


***


Dua hari berjalan, Miranda tampak kasak-kusuk menjalani aktifitasnya, ia mulai terlihat gelisah bercampur bingung. Membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur.


Selalu teringat dengan ucapan Tasya hingga masuk ke dalam mimpinya.


"Miranda, jangan tinggalkan Olivia! Tolong, aku mohon!"


"kak Tasya?" teriak kecil Miranda, tubuhnya terhentak bangun dari tidur dan sudah hampir menjelang subuh.


Suara Tasya yang serasa Nyata membangunkan Miranda pagi di hari kedua itu.


Ia mengusap dahinya yang penuh keringat.


*


"Bagaimana yah Bu! Apakah Miranda balik lagi kerumah Mas Rangga?" tanya Miranda kepada ibunya di meja makan, ia ingin mendapatkan jawaban yang bulat.


"Pergilah, kasihan bayi itu?" jawab singkat Narwati.


Namun Miranda masih bimbang dan terlihat melamun. Raut wajah yang sudah lelah. Takut ingin melangkah lagi.


"Miranda?" Narwati mencoba menguatkan putrinya.


"Iyah Bu!"


"Dengarkan hati kamu, bukan orang lain, hati tidak pernah bohong!" Narwati menepuk kecil dada putrinya itu.


Miranda mengangguk.


"Sampai sekarang, Ibu tidak berniat mencari pengganti Ayah mu, karena apa? Alasannya bukan tidak ada yang mau lagi, atau sudah tidak pantas. Jika Ibu mau itu bisa terjadi. Hanya saja, Ibu sudah merasakan cukup dengan Ayahmu, mencari yang baru belum tentu mengantarkan kebahagiaan kita di akhir hayat. Baik buruknya dia, sudah ibu terima dengan ikhlas.


Ibu tau kamu itu tidak salah Nak! Mungkin ini sudah jalan takdirmu dalam mencari jodoh, penuh dengan ujian dari yang Maha Kuasa. Ibu berharap kau bisa mendapatkan suami yang sayang dan bisa membahagiakan kamu, itulah do'a ibu selalu untukmu.


Nak! Ketika kita bisa menerima kelebihan pasangan, maka kita harus sanggup menerima kekurangannya! Tidak ada tebu, yang manis dua sisi."


"Terima kasih yah Bu!" peluk Miranda dengan jatuhan air matanya.


***


Pagi itu juga, Miranda memberikan kabar gembira kepada Rianti bahwa ia berkenan kembali mengasuh Olivia.


*


Rianti langsung memberi kabar kepada Rangga.


πŸ“±πŸ“±


"Jadi, Miranda! Beneran mau Bu?" tanya Rangga kesenangan sampai ia melompat dari kasurnya.


"Tapi Rangga, kamu harus tau, tujuan Miranda hanya untuk Olivia, ia hanya ingin menjadi Babysitter Putri mu saja, sama seperti pelayan yang lain di rumahmu dan jangan pernah mencari masalah lagi dengan dia, ini peringatan terakhir dari Bapak dan Ibu!" hentak Rianti dengan tegas kepada putranya itu.


"I..Iyah Bu!"


"Yah sudah, kemungkinan sore ini kami akan berangkat!"


"Ouh Iyah Bu, Rangga sudah beli jet pribadi, kalian naik itu saja!"


"Jet pribadi itu apah?"


"Pesawat pribadi loh Bu!" Rangga tersenyum dengan ucapan polos ndeso ibunya.


"Ah yang benar saja, ada pesawat pribadi, sudah ah! Naik pesawat yang biasa saja, ibu Ndak biasa!" tolak Rianti yang kurang mengerti.


"Bu' Ibu tenang saja, biar Rangga yang mengatur semuanya. Mau bahagia ndak?" tanya lembut Rangga kepada ibunya. Pria yang sejak kecil begitu manja dan sayang kepada ibunya meskipun terkadang tingkah laku sang anak membuat tensi kedua orangtuanya naik turun.


"kamu bicara apa toh?" kata Rianti sambil tersenyum.


**