MIRANDA

MIRANDA
Part 68-MRD



Miranda terus menatap Vino dalam pandangan yang semakin kaku.


"Baiklah!" Jawaban singkat Miranda.


("Tujuanku hanyalah Olivia," gumamnya)


"Bagus!" sambut Vino dengan cepat dalam senyum tipisnya.


("Tidak ku sangka secepat ini ia langsung menjawabnya" batin lelaki itu)


Vino mulai mengerakkan pasukannya, ia juga menurunkan sebagian Bodyguard sang kakek dari Jepang, bagi Vino mengalahkan Fernando tidak lah mudah. Vino sudah mengatur rencana bagus untuk menghadapi Jane dan kekasihnya.


"Apa aku perlu ikut Tuan?" tanya Sania


"Tidak perlu, tugas mu hanya duduk manis menungguku di Apartemen, siapkan semua perobatan luka dan masak bubur yang enak!" Jawab Vino.


"Ouh! Baiklah!"


***


Terlihat Rangga dan para anak buahnya terkapar lemas di lantai dalam kondisi penuh luka dan darah segar.


Rangga yang tidak menduga jika ia akan melawan pasukan Fernando yang sudah memiliki keahlian khusus bertarung, Rangga juga tidak mempunyai persiapan matang untuk menghadapi serangan brutal mereka. Ayah Olivia itu meringkuk menahan rasa sakit di wajahnya yang penuh luka darah, area mata lebam, juga perut serta kaki dan tangan yang serasa hampir patah.


"Aduh sakit!" keluhan Rangga meringis-meringis di atas lantai begitu juga dengan anak buahnya yang lain.


Langkah sepatu Jane mendapati Rangga terdengar jelas di telinga pria itu.


"Bagaimana Mas Rangga? Masih ingin berjuang atau tanda tangan dua surat yang sudah aku siapkan!"


Rangga reflek langsung meludahi sepatu Jane.


"Ouh!'


"Aku sudah katakan, lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan hak Olivia kepadamu?" Tantang Rangga tidak memiliki rasa takut sedikitpun meski kondisinya sudah lemah.


"Hahaha, Baiklah kalau begitu, jika kau masih belum menyerah dan tidak ingin melakukan apa yang aku inginkan, aku akan memanggil Miranda untuk menyerahkan hak asuh Olivia kepadaku!"


Rangga memaksa kakinya sekuat tenaga untuk menendang Jane namun dengan cepat anak buah Jane menghalau kaki Rangga.


"Jangan pernah kau sentuh Miranda? Aku akan membunuhmu!" Bentak Rangga.


"Ahahahahaha, memangnya sekarang kau bisa apa, heh? Kau bisa apa dengan kondisi mu saat ini (Jane menjitak kepala Rangga) Ayo... bunuh aku, jika kau bisa! Apa kau masih berharap teman mu itu mau datang membantu mu lagi? Hahahahaha? Dia sudah sangat membenci mu?" kata Jane dengan mata besarnya.


"Gantung dia? Aku ingin kematiannya di saksikan oleh Miranda dan Olivia!" Perintah Jane bersiap menuggu kedatangan Miranda yang berjanji akan datang ke lokasi itu.


Tiga pria kekar langsung menyeret Rangga dan bersiap menggantungnya.


***


Tidak lama kemudian. Mobil Miranda tiba di lokasi.


"Masuklah, jangan takut, hadapi Jane dengan keberanian kamu, aku akan ada di belakang mu!" pesan Vino yang sudah bersiap mengepung lokasi itu.


"Baiklah, terima kasih kak!" balas Miranda.


Miranda keluar dari mobilnya dan berjalan dengan santai. Lalu ia pun masuk untuk segera bertemu dengan Jane, langkahnya mulai melambat.


"Halo Miranda! Apa kabar sayang! Sejak kematian Tasya kita belum pernah bertemu lagi, aku harap kau baik-baik saja!" ucap manis mulut Jane.


"Aku tidak butuh sambutan busuk mu itu, dimana Olivia?" Tantang Miranda.


"Oou! Tenang, Olivia aman bersamaku, kau tidak perlu khawatir, aku ini kan Oma nya, tentu aku juga sangat menyayanginya?" Jawab Jane.


"Oma? Bukan kah kau sudah bercerai dari Tuan Rusdy, apa yang kau inginkan Nenek sihir!"


"Hahahaha, kau mengatakan ku Nenek sihir? Baiklah, tidak masalah dan aku punya kejutan spesial untukmu!" ucap Jane menunjuk kepada Rangga yang sudah berdiri di tiang gantungan dalam kondisi tangan terikat, mulut di sumbat, serta kalung tali yang siapa merenggut nyawanya.


Miranda sangat shock dan merasa iba melihat kondisi Rangga yang sangat parah.


Rangga yang menunduk lemah berusaha mengangkat kepalanya.


"Ahahahahaha, apa kau merasa kasihan dengan pria yang sangat kau cintai ini?"


"Lepaskan dia, dasar perempuan laknat!" Saat Miranda ingin menyentuh Jane, sontak anak buah si nenek sihir menghalaunya dengan cepat.


"Ahahahahaha, Tenang sayang, jangan gegabah dulu! Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin, permintaan kamu, akan segara aku kabulkan, asal kau berkenan menandatangani surat penyerahan pindah tangan hak asuh Olivia kepadaku!"


"Eeemm!" Rangga berusaha menjerit dalam mulut tersumpal sambil menggelengkan kepalanya pertanda agar Miranda tidak melakukan perintah Jane.


Reflek Miranda menoleh ke arah Rangga.


"Percaya kepada ku, begitu kau menandatangani surat ini, aku akan tetap menjadikan kau sebagai ibu asuh Olivia!"


"Miranda aku mohon jangan lakukan itu!" batin meronta Rangga hanya bisa menggeleng.


"Vino, Bantu aku!" Rangga yang masih berharap Vino datang membantu dirinya dan ia sangat menyesal telah memutuskan hubungan dengan sahabat terbaiknya itu.


"Bagaimana?" tanya kembali Jane melihat raut wajah Miranda yang sedang kebingungan.


"Aku tidak akan pernah menyerahkan Olivia kepada siapapun!" Jawab tegas Miranda menantang Jane.


"Baiklah kalau begitu, kau lebih memilih ingin menyaksikan kematian Rangga. Olivia akan kehilangan seorang Ayah?"


Jane memerintahkan anak buahnya agar melepas pijakan yang menahan kaki Rangga di tiang gantungan.


Miranda mulai bingung.


"Aku harap Vino segera masuk! Apakah anak itu benar-benar bisa di andalkan!" batinnya mulai cemas.


"Tu...Tunggu!" ucap Miranda.


"Apa kau berubah pikiran?" tanya Jane.


"Baiklah, tapi lepaskan dulu Mas Rangga!"


"Hahahaha tentu sayang, percayalah kepadaku!" ucap manis Jane.


Rangga mulai meronta agar Miranda tidak mendekati surat itu.


"Bagiamana ini? Mengapa Vino belum datang Juga!" batin Miranda mulai mendekati surat itu. ia sangat gugup mengambil pulpen yang telah tersedia.


"Yes, sebentar lagi, aku akan jadi konglomerat hebat, menyatukan harta Tasya dan si bodoh tua itu (Rusdy)" ucap Jane dalam hati, wajahnya terlihat sangat bahagia.


Miranda tinggal menggoreskan coretan di atas surat peralihan asuh Miranda dalam jantung berdetak kencang sambil terus berkata;


"Vino datanglah!"


Tiba-tiba serangan anak panah itu terbang melayang tepat mengenai penjaga Rangga dan tali yang menggantung Rangga. Tajamnya anak panah, mampu memutus tali yang mengikat leher Rangga.


"Vino!" kata Rangga dalam wajah bahagianya.


Vino masuk dengan puluhan pengawalnya. sebagian anggota Fernando di luar sudah di amankan oleh pasukan Vino.


"Hei Nenek sihir, skenario dari Drama mu ini akan aku rubah menjadi ending yang lebih seru!" kata Vino dengan lantang.


"Sialan, anak keparat ini masih tetap muncul!" wajah Jane yang sumringah kini berubah menjadi sunder bolong yang sedang kehausan darah.


Dengan sigap Jane menangkap tangan Miranda agar segera menggoreskan coretan di atas kertas itu. Namun dnegan cepat Miranda merobek kertasnya.


Anggota Fernando vs Vino mulai bertarung sengit.


Vino bergegas cepat menolong Rangga di tiang gantungan dan menurunkannya.


"Terima kasih adikku!" kata Rangga ingin memeluk Vino seperti biasa.


"Jangan sentuh aku, aku bukan adikmu, kedatanganku kesini hanya karena kekasih ku Miranda yang ingin menyelamatkan Olivia?"


"Ke...kekasih😳?" batin Rangga terdiam.