
Hembusan angin similar menyapu tubuh Miranda, raut sendu penuh keikhlasan dan kepasrahan terpancar di wajah wanita cantik itu.
"Dunia terasa begitu kecil, aku sama sekali tidak menduga, jika calon suami kak Tasya adalah Mas Rangga mantan suamiku pertama. Memang benar kata pepatah, dibalik suksesnya seorang pria, ada perempuan hebat di belakangnya. Kak Tasya adalah wanita itu dan ia sangat pantas untuk Mas Rangga, aku tidak boleh bersedih apalagi sampai cemburu seperti ini!"
"Selamat atas pernikahan kakak ku tersayang! Aku bahagia sekali, melihat senyum kebahagiaan mu! Happy forever "
ucapan caption Miranda di salah satu situs pertemanannya.
"Sendiri itu lebih baik, tanpa pria ataupun kehidupan rumah tangga lagi, aku sudah sangat bahagia!"
***
Hari-hari terus dilalui oleh Miranda dengan tetap fokus belajar. Sebuah kesempatan emas yang tidak di sia-siakan oleh wanita itu, Meskipun terlihat ada teman pria yang mulai mendekati dan menyukainya, ia hanya menutup diri dan tidak terpikir untuk menjalin asmara lagi.
2 bulan menikah, Tasya tidak pernah ke Malaysia menemui Miranda, mereka hanya komunikasi lewat Video call dan lainnya. Tasya masih terlihat happy menikmati bulan madu kecilnya bersama Rangga.
Miranda yang sibuk dengan pendidikannya begitu juga dengan Tasya dan Rangga, meski pengantin baru itu sudah menikah, keduanya masih di sibukkan dengan jadwal masing-masing yang cukup padat.
Rangga terus memacu karirnya sampai ke manca negara dan sering melakukan perjalanan ke luar Negeri. Rangga berencana akan mengambil cuti panjang di hari resepsi pernikahannya nanti bersama Tasya.
"Kapan kamu akan memperkenalkan adik angkat mu kepada ku, sayang!" Tanya Rangga merasa penasaran, Tasya mulai menceritakan tentang adik angkatnya itu kepada Rangga.
"Iyah sabar yang sayang, ia juga masih kuliah!"
Tasya mendekap Rangga. Keduanya tampak tersenyum saling berbagi cinta dan kasih sayang, Rangga belum mengetahui penyakit turunan yang mulai menyerang Tasya.
"Mas, coba lihat ini?" Menunjukkan sebuah Tes pack!"
"Kamu hamil?" tanya Rangga dengan tatapan haru. Pria itu tidak menduga jika istrinya bisa hamil secepat itu.
Tasya mengangguk manis, mereka berpelukan bahagia.
"Aku tidak tau apakah aku harus bahagia dengan kehamilan ini atau tidak!" Batin Tasya.
***
Seiring waktu berlalu, selama masa kehamilan Tasya yang sudah memasuki 4 bulan, kondisi fisik Tasya terus menurun, sehingga jadwal resepsi pernikahan mereka yang sudah rampung, terpaksa harus kembali di tunda. Tasya juga sering menjalani rawat inap secara intensif.
"Tasya, tolong jangan teruskan kehamilan kamu, ini cukup berisiko!" Pinta Triana.
"Tidak, apapun resiko anakku harus lahir, ini cita-cita dan mimpi ku."
"Tapi...!"
"Tolong ana, ini kebahagiaan ku, kau harus menolong ku, bagaimana caranya kehamilan ku ini bisa selamat, aku akan membayar berapa pun biayanya!"
"Bukan masalah biaya? Tapi apa kamu tidak kasihan melihat Rangga, jika kondisi kamu akan semakin hari semakin drop!"
"Aku ingin anak?" Kata Tasya dengan tegas.
Triana tidak mampu berkata-kata lagi, keinginan Tasya tidak bisa di ganggu gugat.
"Andai ada pilihan aku ingin sekali membeli kebahagiaan hidup bersama Rangga dan anakku dengan semua hartaku!" Batin Tasya.
***
"Kakak, apakah sebentar lagi aku akan mendapatkan seorang keponakan?" Senyum ceria Miranda menyapa Tasya dari layar ponselnya.
Miranda juga mengirimkan nilai-nilai terbaiknya kepada Tasya.
"Miranda!" kata Tasya tanpa ia sadari airmata nya menetes di depan layar ponselnya.
"Kakak? Apa kau baik-baik saja!" Miranda merasa bingung mengapa Tasya tiba-tiba menangis.
"Trup!" Tasya langsung mematikan ponselnya. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar Miranda dengan kabar yang tidak baik. Berkali-kali Miranda mencoba menelpon, Tasya hanya mengabaikannya sampai istri Rangga itu mengirimkan sebuah pesan;
"Miranda, jangan pikirkan aku, belajarlah dengan fokus!"
Diam-diam Tasya sudah mengetahui jika Miranda adik angkatnya itu adalah mantan istri Rangga yang pertama.
***
Akhirnya Triana menceritakan semua tentang riwayat penyakit Tasya dan segala resikonya kepada Rangga.
"Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Berapapun biaya penanganannya akan aku bayar!" kata Rangga yang sangat terkejut.
"Sebelumnya, Tasya sudah pernah melakukan terapi, tapi penyakit turunan itu sulit untuk di lenyap kan dan aku merasa Tasya terlalu menganggap remeh penyakit ini." ucap Triana.
***
"Tasya!"
"Mas!" Jawab Tasya menatap, Rangga dengan bibir pucat serta rambut Tasya yang mulai rontok.
"Mengapa kau harus menghadapinya sendiri, apakah aku ini orang lain bagimu?"
Tasya hanya diam saja.
"Tolong ikuti anjuran Triana, gugurkan anak itu!"
"Tidak!"
"Tasya, ini terlalu beresiko dengan nyawamu?"
"Aku tidak ingin kehilangan anak ku, apapun resikonya akan aku lalui"
"Huuuft! Mengapa kau sangat keras kepala Tasya, tolong dengarkan aku! Aku ini suami kamu, aku berhak mengambil keputusan!" bentak Rangga mulai emosi.
"Jangan pernah atur hidupku? jawab tegas Tasya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kita bisa mengadopsi anak sayang?" pinta Rangga.
"Hamil ataupun tidak, aku akan tetap merasakan penyakit ini!" Jawab Tasya membuat Rangga hanya terdiam duduk lesu menatap nasib dirinya yang selalu mengalami kendala dalam berumah tangga sementara, Karirnya terus menemui kemajuan, tidak heran jika banyak wanita penggoda mulai mendekatinya.
"Ok, terserah, aku tau kau memang wanita hebat tapi ternyata kau sangat keras kepala!" Rangga mulai stres, lalu pergi meninggalkan Tasya begitu saja.
"Karena aku tau Mas, sebenarnya kau tidak mencintai ku, kau hanya sekedar sayang kepadaku, sebab itu lah aku lebih ingin berjuang demi anak ku!" Batin Tasya.
***
Rangga terlihat stres dan merasa panik, ia menghabiskan diri dengan minuman yang memabukkan bersama para wanita malam di sebuah Bar eksklusif. Vino yang mengetahui masalah Rangga, langsung menyusul keberadaan sahabatnya itu.
"Bro!" Sapa Vino menepuk pundak Rangga.
Seketika itu Rangga langsung memukul Vino dan menarik kerah lehernya.
"Mengapa kau tidak mengatakan jika Tasya sebenarnya mengidap sebuah penyakit turunan kronis!"
"Aku tidak tau! Aku hanya berteman baik dengan Tasya."
"Bohong?" Bentak Rangga.
"Tenang Bro!"
"Semua wanita itu egois, tidak Tasya ataupun Miranda sama saja!"
"Kau masih mengingat Miranda!"
"Persetan dengan dia, aku benci dia, aku tidak perduli dengan perempuan kampung itu lagi!" jawab Rangga yang sudah setengah mabuk.
"Bagaimana jika Miranda yang di maksud adik angkat Tasya adalah Miranda mantan istrimu?"
"Hahahahaha! Itu tidak mungkin, memangnya nama Miranda hanya satu orang, dari mana jalannya Miranda perempuan kampung bisa kuliah di Negeri Jiran, Goubl*k?"
(Rangga menepuk kecil kepala Vino)
"Miranda adik angkat Tasya itu masih gadis bukan janda!" tambah Rangga mulai sempoyongan.
Vino hanya terdiam.
***
Miranda yang sudah mengetahui masalah Tasya, diam-diam mengurus kepindahan pendidikannya ke Jakarta, melalui proses yang panjang dan cukup rumit akhirnya ia berhasil. Miranda bertekad kembali ke Jakarta demi mengurus sang kakak yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri.
Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Terlihat Miranda yang tampak panik, risau memikirkan tentang penyakit serta kondisi kehamilan Tasya, ia juga merasa bingung bagaimana jika nanti harus bertemu dengan Rangga kembali.
***
🙏 Mohon, Like, Vote dan gift dukung terus Miranda yah guys!🤗