
''Duduk sini!'' Yunan menepuk bangku kosong yang ada di sisinya.
''Untuk apa? Aku mau beresin baju kamu dulu,'' tolak Cassandra dari dalam, sedangkan Yunan dan Khalisa ada di balkon.
''Cepetan, ada yang mau aku bicarakan.'' Yunan mendesak.
Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan dia dengan mbak Syima.
Cassandra meletakkan baju dari tangannya lalu mendekati Yunan yang tampak menunggunya. Ia duduk di samping pria itu. Di depan mereka ada tas yang tadi dibawa sang suami.
Hening sejenak
Yunan membuka tas itu dan mengeluarkan semua map yang ada di dalam. Meletakkan di depan Cassandra dan tersenyum. Mengambil pulpen dan memberikannya pada sang istri.
''Pegang ini!''
Cassandra tak banyak bicara. Ia mengambil pulpen itu dan membaca sampul map di depannya.
Sertifikat
Menoleh ke arah Yunan yang belum juga memberikan penjelasan. Menurunkan kedua tangannya tanpa menyentuh barang-barang itu. Ia tahu bahwa itu bukanlah map biasa, namun berkas tanda kepemilikan aset.
''Untuk apa ini?'' Cassandra memelankan suara.
''Itu semua untuk kamu. Aku menyerahkan seluruh hartaku untuk kamu dan Khalisa,'' terang Yunan dua kali.
Apa ini perintah mbak Syima? Bukan ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin dia membuktikan kesungguhannya.
Bukan senang, justru Cassandra sangat kesal pada Yunan. Seolah pria itu menganggapnya matre dan gila harta.
''Jangan salah paham dulu, Sayang. Aku akan jelaskan.''
Yunan beralih duduk di samping Cassandra. Tidak ingin membuat hati wanita itu cemas seperti wajahnya saat ini. Tangannya mengulur mengambil satu map paling atas dan membukanya.
''Ini adalah surat kepemilikan villa di bandung,'' ucap Yunan setelah membaca isinya.
Setelah itu, ia kembali mengambil sertifikat yang lain dan membacanya dengan jelas seperti tadi, dan itu dilakukan seterusnya hingga map itu selesai. Total ada dua puluh lima map yang dibaca. Akan tetapi, hanya satu yang membuat Cassandra tertarik, yaitu perusahan kosmetik.
Namun, ia tetap diam dan mengingat apa saja aset yang dimiliki Yunan tadi. Bahkan kekayaan pria itu melebihi beberapa orang terkaya di kotanya.
''Ini semua atas namaku. Tapi, akan menjadi milikmu kalau kamu tanda tangan di sini.'' Menunjuk materai yang ada di bagian bawah.
''Maksud Kakak apa?'' tanya Cassandra harap-harap cemas.
Betapa tidak, dengan sikap Yunan yang seperti ini justru membuatnya penasaran, apa sebenarnya maksud pria tersebut?
''Kamu takut aku mendua, kan? Kamu takut aku akan berpaling dengan wanita lain. Aku paham, Sayang. Kamu boleh meragukan kesetiaanku karena dulu pernah melakukan kesalahan, tapi asal kamu tahu. Sejak kepergianmu, aku sadar, hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai. Di saat itu aku berjanji, sampai kapanpun akan menunggumu pulang.''
''Sekarang katakan! Bagaimana caraku membuktikan ketulusanku. Mungkin dengan begini kamu gak akan takut lagi, karena seandainya aku melakukan itu lagi, kamu berhak mengusirku dan memiliki semua hartaku.''
Sungguh, kebingungan itu masih melanda hati Cassandra. Sebagai wanita mandiri, ia tidak akan pernah takut menjadi janda, namun ia takut tersakiti karena ulah suaminya.
''Kakak jangan lakukan ini. Aku jadi serba salah.'' Cassandra terisak, ia menyodorkan map itu lagi di depan Yunan. ''Bukan maksudku, membuatmu bingung. Aku hanya butuh waktu untuk percaya lagi padamu.''
Tanpa kata, Yunan memeluk Cassandra. Menepuk punggung sang istri yang bergetar hebat. Tentu ia juga ikut tersayat melihat sang istri menangis karena ulahnya.
''Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin meyakinkanmu kalau semua ucapanku itu tidak bohong. Aku benar-benar ingin kembali padamu, menjaga dan mencintai kamu dan Khalisa,'' ucap Yunan dari hati.
Cassandra melepaskan pelukannya. Tidak tahu lagi harus berkata apa, yang pasti saat ini hatinya sangat percaya dengan apa yang dikatakan Yunan. Bukan karena harta yang dimiliki pria itu, namun kesungguhannya.
''Baiklah, aku terima Kakak lagi. Tapi janji, jangan pernah punya niat untuk menikah lagi, karena aku nggak akan sanggup untuk terluka yang kedua kali, cukup waktu itu.''
Yunan kembali memeluk Cassandra dan mengucapkan terima kasih. mencium pucuk kepalanya berulang kali, berjanji tidak akan melanggar ucapannya sendiri.
Cassandra tidak menerima sertifikat itu satu pun. Ia memasukkannya kembali ke dalam tas dan menyimpannya di kamar. Lalu ia kembali duduk di tempat semula sembari menikmati senja hingga menghilangkan dibalik langit yang mulai gelap.
''Semoga indahnya cinta kita tidak sekedar seperti senja. Dia akan muncul sejenak lalu meninggalkan kegelapan. Aku ingin selamanya indah meski badai menerpa,'' ucap Cassandra.
''Aku akan berusaha mengabulkan keinginan kamu, cinta kita akan tetap indah walaupun umur kita menua,'' jawab Yunan.
Malam ini Cassandra dan Yunan memutuskan tidur di rumah Erlan. Mereka membuat perayaan kecil-kecilan di rumah itu. Menyambut kedatangan Cassandra setelah sekian lama menghilang.
''Besok Laurent pulang ke rumahnya, pasti rumah ini sepi lagi?'' Layin menekuk wajahnya.
''Kamu bagaimana Yunan? Apa kamu juga akan segera memboyong Cassandra ke rumah kalian?''
''Ya, Bu. Kami akan segera pindah ke rumah, nggak mungkin selamanya numpang di rumah ayah. Apa kata orang nanti, pasti mereka mengira aku ini anak yang manja, padahal aku sudah punya pekerjaan sendiri,'' jawab Yunan yakin. Sebab, Cassandra juga sudah setuju mereka akan segera pindah tinggal menunggu izin dari Margareth.
Setelah membereskan beberapa pekerjaan, Yunan menoleh ke arah Cassandara dan Khalisa yang sudah terlelap. Ia bangkit dari duduknya. Menyalakan lampu remang dan mematikan lampu utama. Ia ikut berbaring di samping Cassandra dan memeluknya dari belakang.
Merasa terusik, Cassandra membuka mata. Sadar ada tangan yang melingkar di perutnya. Ia pun beralih menghadap ke arah Yunan yang tampak pura-pura tertidur. Meski ruangan itu sedikit gelap, tapi terlihat jelas bibirnya mengulas senyum.
''Ranjangnya terlalu sempit, bagaimana kalau aku pindah di sofa,'' ucap Cassandra pelan, takut Khalisa bangun.
''Jangan! Aku lebih suka yang sempit, itu artinya kita bisa berdekatan seperti ini.'' Yunan menjawab dengan pelan pula.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Cassandra. Kemudian mereka saling tatap dalam diam dan tersenyum..
''Jangan sentuh aku dulu. Aku belum pasang KB, setidaknya setelah nanti selesai kontrak,'' papar Cassandra jujur.
Berapa bulan lagi selesainya, aku sudah gak sabar menjadi ayah yang siaga dan memenuhi semua permintaan anak kita yang ada di rahim kamu.''
''Jangan dulu, biarkan Khalisa menikmati mempunyai seorang ayah. Kasihan dia, sejak lahir belum pernah merasakan dipeluk ayahnya.''
''Tentu. Aku akan selalu menyayanginya. Bahkan jika mau, setiap hari aku akan mengajaknya ke kantor,'' kata Yunan konyol.