
Bab. 54
"Hari ini meeting sama siapa?" tanya Kendra sesaat setelah masuk ke ruangannya.
Sementara Biru sebagai asistennya pun dengan sigap membuka tabletnya.
"Dengan Pak Atmadja," jawab Biru.
Deg!
Nama itu sangat familiar sekali di telinga Kendra. Namun, di dunia ini pasti ada nama yang sama seperti nama orang tua wanitanya. Eh, belum, lebih tepatnya orang tua dari Dilla.
"Coba liat datanya," ucap Kendra meminta tablet yang di bawa oleh Biru. Dia hanya ingin memastikan kembali, apakah benar mereka orang yang sama atau memang hanya namanya saja yang mirip.
Di detik selanjutnya, sudut bibir Kendra tertarik ke atas. Membentuk sebuah senyuman penuh kepuasan. Beruntung, ia selalu membawa foto hasil USG kandungan Dilla beberapa hari yang lalu, dsn menaruhnya di dalam dompetnya.
"Gue bakalan nikah cepet nih kalau kayak gini," gumam Kendra senang.
"Hah? Apanya?" tanya Biru yang bingung. "Apa hubungannya meeting sama lo nikah apa enggak?" perjelas Biru. Dia sangat penasaran akan hal ini.
Kendra menatap Biru dengan senyuman penuh arti. Di mana hal itu justru membuat Biru semakin penasaran.
"Ntar lo juga tahu sendiri," jawabnya begitu santai. Padahal masih meninggalkan kejanggalan di pikiran Biru.
"Makin hari lo makin aneh, Kend," ujar Biru sembari menggeleng kepala. Lalu mempersiapkan berkas yang akan mereka bahas nanti ketika meeting.
Sedangkan Kendra hanya terkekeh kecil. Memang alam sudah menakdirkan dirinya bersama Dilla. Mau serumit apapun wanita itu mengelak, tetap akan bersama dirinya juga.
"Gue udah cakep belum?" tanya Kendra tiba-tiba di luar kebiasannya.
Biru menaikkan satu alisnya, menoleh ke arah pria itu dengan tatapan penuh curiga.
"Nggak usah terlalu cakep. Kita meeting sama Pak Atmadja, pria paruh baya. Bukan gadis seksi yang masih sinyal," sahut Biru mengingatkan.
"Kalau emang mau ada yang diomongin, ngomong aja. Nggak usah pake muter dulu," kesal Biru sembari memisah berkas yang tidak penting nanti.
"Gue belum pernah cerita ke lo, ya?" bukannya menjawab, Kendra justru melayangkan pertanyaan kepada Biru.
Sementara itu Biru yang sudah selesai menyiapkan berkasnya, pun berdiri tegap dan menatap ke arah temannya yang terlihat sangat aneh. Lalu pria itu menggeleng kepala.
"Cerita yang mana?" dengan malas Biru menanggapinya. Karena sedari tadi Kendra berputar-putar terus.
"Gue hamilin cewek," jawab Kendra dengan sangat santai.
Biru melotot seketika. Dia pikir, Kendra tidak sama seperti Aghata dan Raka. Tetapi ternyata dia tambah lebih parah.
"Gila lo ya!" seru Biru tidak habis pikir. "Anak orang lo rusak, bro!" ingatnya lagi.
Tentu saja Kendra menggeleng kepala. Menolak ucapan Biru barusan.
"Lo salah. Lo ingat pas gue bilang gue habis di perkosa sama cewek perawan?" Biru mengangguk. Sangat ingat betul dengan cerita Kendra yang satu itu. "Nah, dia sekarang hamil. Kebetulan lagi dia mahasiswi Nyokap gue. Dan lebih parahnya, dia anaknya Pak Atmadja yang akan kita temui habis ini."
Biru hampir saja tersedak ketika minum teh yang seharusnya untuk Kendra. Beruntungnya lagi dia tidak menyembur Kendra dengan minuman tersebut sangking kagetnya.
"Kali ini lo beneran gila, Kend!" ucap Biru tak habis pikir.
Sementara Kendra tertawa. "Ini namanya rejeki, Bi. Kalau dia nggak mau kasih anaknya untuk menikah dengan gue, ya ... jangan salahkan gue kalau gue nolak kerja sama ini. Ya nggak?" Kendra memainkan kedua alisnya. Begitu percaya diri kalau pak Atmadja akan memberikan putrinya. Padahal masalah terbesar bukan pada pak Atmadja, melainkan pada wanita unik itu.
"Kalau itu gue nggak mau ikut campur. Lo aja yang ngurus. Jangan narik-narik gue dalam masalah kalian," ucap Biru lebih dulu sebelum Kendra meminta tolong lebih kepadanya.
***
Hai, Ayang! Yuta minta jempol kalian, dong. Karena jempol kalian itu bayaran yang sangat berarti buat Yuta. Terimakasih^^