Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 76. Jengkel



Bab. 76


Saat makan malam bersama dengan keluarga besar, untuk kali pertamanya. Wajah Dilla tampak ditekuk sedari keluar dari kamarnya. Bahkan wanita dengan rambut yang masih basah tersebut sama sekali tidak membuka suaranya. Walaupun ada mertuanya di sana.


"Dilla, kamu kenapa? Nggak enak ya masakan Mama?" tanya bu Mawar yang memperhatikan menantunya tidak seperti biasanya.


Rambut yang basah, tidak mengangkat wajahnya dan lebih banyak diamnya tersebut membuat bu Mawar penasaran. Karena selama ini ia kenal dengan Dilla, gadis itu merupakan perempuan yang ramah dan banyak bicara. Walau terkadang bicaranya tanpa disaring.


Ditanya seperti itu oleh mama mertuanya, terlebih lagi beliau merupakan orang yang sangat ia hormati, membuat Dilla mengangkat wajahnya. Menatap ke arah mertuanya tersebut. Sesekali wanita itu membenarkan rambutnya dan dengan sengaja menaranya agar menutupi bagian leher.


Bergerak gelisah sambil menjawab pertanyaan bu Mawar.


"Enak kok, Ma. Cuma bau bawang nya bikin perut Dilla kurang nyaman. Maaf," cicitnya yang tentu saja hanya sebuah alasan saja.


Yang sebenarnya terjadi, ia sangat kesal pada pria yang duduk di sebelahnya dengan raut sangat sumringah tersebut. Tampak begitu jelas pancaran bahagia di wajahnya. Bahkan pria itu senyum-senyum sendiri dari tadi.


Bu Mawar menatap ke rah putranya sendiri. Pasti dia lah penyebab mood Dilla seperti ini. Sedangkan Kendra sendiri terlihat sangat senang.


Bu Mawar menghela napas panjang. Bisa-bisanya Kendra tidak peka sama sekali. Gemas dengan putranya sendiri, bu Mawar memukul lengan Kendra sedikit lebih keras. Tidak peduli di meja makan tersebut ads besannya.


"Kamu itu, sudah dibilangin jangan dulu. Masiiihhh aja ngeyel?" geram bu Mawar.


"Apanya sih, Ma? Orang Kendra dari tadi makan dengan tenang, kok malah disalahin," protes Kendra berusaha menghindar dari tangan sang mama.


"Ya lagian kamu nggak sabaran," imbuh bu Mawar yang masih kesal. Karena Kendra membuat mood menantunya menjadi buruk.


Malu, itu sudah pasti Dilla rasakan saat ini. Dua orang paruh baya di depannya lebih berpengalaman dari sang pengantin baru. Jelas mereka tahu apa yang menimpanya.


"Ayaaangg ... tolongin! Mama melakukan kekerasan pada anak semata wayangnya!" adu Kendra yang langsung memeluk manja sang istri. Lumayan, mumpung ada kesempatan. Batinnya.


Sedangkan Dilla melirik jengah ke arah suaminya.


"Minggir, ih! Berat!" tolak Dilla yang tidak mengijinkan suaminya itu menyentuh dirinya. Berulang kali menepis tangan Kendra, namun memang dasarnya pria itu bandel. Tidak mau menjauh dari sang istri.


"Yaaangg ... kamu tega aku dipukulin sama Mama? Hmm?" rengek Kendra lagi. Kali ini menatap memelas, agar Dilla melindungi dirinya dari serangan sang mama yang kelihatannya lebih gemas dari sebelumnya.


"Ini anak. Ada mertuanya juga di sini, malah main manja-manjaan!" ujar bu Mawar yang malu sendiri dengan tingkah putranya.alu wanita paruh baya tersebut menoleh ke arah sang besan. Tersenyum tipis seraya mengangguk sama, "maafkan kelakuan anak saya, Pak Atmadja," ujar bu Mawar.


Pak Atmadja tertawa pelan. "Maklumi saja, Bu Mawar. Baru jadi pengantin beberapa jam. Jadi wajar saja masih kayak lem. Lengket banget," sahut pak Atmadja tanpa sengaja sedikit kelepasan saat bicara. Tanpa melihat ke arah putrinya sendiri yang saat ini menatap penuh arti ke arahnya.