Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 40. Ngeselliiiinnn



Bab. 40


Niat hati ingin mengabaikan pesan yang dia terima beberapa menit yang lalu, akan tetapi pada akhirnya kaki Dilla membawa sang empu menuju ke tempat di mana orang yang mengirim pesan tadi memberitahukan lokasinya.


"Apa?" tanya Dilla sesampainya di tempat parkir.


Meskipun agak jengkel, tetap saja ia menuju ke tempat di mana Kendra berada.


Kendra menoleh ke belakang, menarik sudut bibirnya ke atas lalu turun dari motornya.


"Pakai helm dulu, biar nggak kepanasan," ujar Kendra secara tiba-tiba mengarahkan helm full face itu ke arah Dilla.


Tentu saja membuat Dilla bingung dan mundur sedikit.


"Buat apa?" tanya wanita itu dengan tatapan bingung.


"Pulang bareng," jawab Kendra dengan begitu santai.


Dilla menatap ke arah motor gedhe milik Kendra, lalu berganti menatap sang pemilik motor.


"Naik ini?" tanya Dilla memastikan. Bukannya menolak malah justru ingin memperjelas.


Kendra mengangguk. Lalu maju selangkah, kemudian menarik tangan Dilla dan memakaikan helm yang jelas kebesaran di kepala Dilla. Membuat wanita itu melotot terkejut ke arahnya.


"Biar nggak di gosipin sama temen kamu. Wajahnya di tutup dulu," ujar Kendra sembari membenarkan jaketnya.


Eh, bukan, maksudnya jaket miliknya yang saat ini dipakai oleh Dilla. Mengancingkannya dengan sangat rapi hingga tubuh bagian atas Dilla tidak terlihat sedikit pun.


Dilla tidak bisa bersabar lagi. Atau kalau tidak pria ini akan semena mena menyentuh dan memerintahnya. Mana yang selalu menguntungkan dia.


"Siapa juga yang mau pulang bareng anda, Pak?" protes Dilla berusaha untuk melepas helm yang ada di kepalanya. Namun tetap tidak bisa.


"Yakin, nggak mau?" tanya Kendra menatapnya dengan tatapan jahil.


"Enggak!" sahut Dilla cepat. "Saya bawa mobil sendiri. Ngapain nebeng-nebeng ke Bapak. Aneh banget jadi orang," imbuhnya dengan nada kesal.


"Romantisan naik motor," ucap Kendra. Lalu pria itu menarik tangan Dilla agar mendekat ke arahnya.


Dilla memutar bola matanya jengah


"Bapak Kendra Rayyansyah yang terhormat. Apa Bapak tidak lihat model baju yang saya pakai sekarang? Kalau dengan rok hanya selutut seperti ini, terus saya naik ke atas motor Bapak, apa tidak terbuka rok saya? Hmm? Masa saya harus amal di sepanjang jalan pulang? Mana cuacanya panas, lagi. Sabisanya nanti kulit saya belang."


Omel Dilla mencoba untuk memberi pengertian kepada pria itu. Namun, yang ditangkap justru maksud yang lain.


Kendra tersenyum tipis. Lalu mencolek dagu Dilla hingga membuat wanita itu tersentak kaget.


"Cieee ... hafal banget dama nama panjang calon suaminya," ujar Kendra yang justru menggoda Dilla.


Tentu saja Dilla melotot tak percaya. Benarkah pria ini bisa menjadi seorang dosen? Pantaskah dia menyandang gelar itu?


Panjang lebar dirinya bicara, akan tetapi hanya kalimat pertama saja yang ditangkap oleh pria itu. Dilla menggeleng kepala. Meragukan kemampuan Kendra yang sebenarnya.


"Udah, ah. Lepasin dulu, Pak. Jangan bercanda deh. Nggak lucu!" sungut Dilla yang tidak tahan lagi.


Kendra tertawa lalu melepas helm yang ada di kepala Dilla.


"Siniin kunci mobilnya. Biar aku saja yang bawa," pinta Kendra sembari mengatungkan tangannya ke arah Dilla.


"Nggak mau. Bapak kan bawa motor. Sana pulang sendiri." tolak Dilla. Mendorong pelan Kendra agar menjauh darinya.


Kendra tetap menggelengkan kepala. Pria itu justru menaruh helmnya kembali di atas tangki bagian depan motornya.


"Nggak. Aku mau anter calon anak—mpphh!"


Dengan cepat Dilla membungkam mulut Kendra yang terdengar lemes banget kalau bicara. Sudah seperti Alex saja.


"Jangan pernah Bapak berkata sepeti itu lagi. Kalau ada yang dengar, mereka bisa salah paham." tekan Dilla. Melotot, mengancam Kendra.


Sedangkan yang di ancam sama sekali tidak takut. Pria itu justru terkekeh kecil sembari menurunkan tangan Dilla yang masih membungkam mulutnya.


"Makanya, kalau nggak ingin ada yang salah paham, kita perjelas aja, gimana? Hmm?"


Kendra memainkan alisnya naik turun. Menggoda Dilla hingga wajah wanita itu memerah. Menahan amarah yang siap meledak.


"Ngeselliiiiinnnnn!"