Hidden CEO

Hidden CEO
Hamil



''Tunggu tunggu!'' Tangan Cassandra mengulur, menghentikan tangan Yunan yang hampir melepas seat belt. 


Menatap heran seluruh keluarganya yang sudah berdiri di teras rumah. Kemudian  beralih menoleh ke arah Yunan dengan penuh pertanyaan. Betapa tidak, niatnya pulang ingin memberikan sebuah kejutan untuk Yunan, justru ia yang dikejutkan oleh kehadiran semua orang. 


''Aku yang menelepon mereka dan menyuruh untuk datang ke rumah,'' jawab Yunan sebelum Cassandra melayangkan pertanyaan. 


Cemas, hingga otaknya tak bisa berpikir jernih selain mengumpulkan seluruh keluarganya. Dengan begitu, Cassandra akan merasa tenang dan cepat sembuh, begitu pikirnya. 


''Untuk apa? Apa kamu mau mengadakan acara lagi?'' Semakin bingung dengan sikap Yunan. 


Tidak biasa suaminya itu suka keramaian, bahkan dia cenderung menghindarinya dan hanya ingin berdua saja. Namun sekarang, justru sebaliknya dan meminta seluruh keluarganya datang. 


''Tadi Kamu muntah, dan aku panik, jadi gak mungkin aku diam saja." Yunan menjelaskan apa yang dirasakan. 


Cassandra berdecak. Menepuk keningnya dengan pelan. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran sang suami yang terlalu sempit.


''Ampun deh, punya suami hanya pintar dalam urusan pekerjaan tapi gak peka.'' Membuka pintu lalu turun. Meninggalkan Yunan yang menggaruk-garuk kepalanya.


Kedatangan Cassandra disambut dengan pelukan hangat oleh keluarga. Mereka semua sangat khawatir dan langsung menanyakan kabar wanita itu yang memang sedikit pucat.


''Aku gak pa-pa, Bu.'' Menatap Layin dan Margareth bergantian. Menggiring mereka berdua masuk ke dalam rumah. 


Sementara Yunan bersama Erlan mengikuti para wanita dari belakang. Menceritakan sepenggal kisah yang berdurasi beberapa menit namun membuat jantungnya seakan mau lepas. 


Sedangkan Novan, ia masih agak linglung, takjub dengan rumah mewah Yunan. Tak disangka, pria yang dianggapnya kere justru memiliki istana megah yang dipastikan harganya fantastis. 


''Tadi Yunan telepon ibu, katanya kamu muntah-muntah. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu,'' papar Layin seperti isi hatinya.


''Aku baik-baik saja. Kak Yunan yang terlalu lebay," omel Cassandra. Malu menjadi pusat perhatian semua orang.


Mungkin sekarang waktu yang tepat. Mumpung semua orang ada di sini.


''Sebentar, Bu. Aku ke kamar dulu.'' Cassandra bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar. Meninggalkan seluruh keluarganya. 


''Kamu susul Cassandra, jangan-jangan dia mau muntah lagi,'' suruh Layin masih dengan nada khawatir. 


Bergegas Yunan berlari kecil mengikuti langkah sang istri yang sudah menghilang di balik pintu. Pandangannya mengedar, menatap punggung Cassandra yang ada di depan pintu kamar mandi. 


Terlihat baik-baik saja hingga ia hanya menunggu di kamar, namun tetap siaga, takut tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk. 


Lima menit berlalu, Yunan kembali panik saat Cassandra tak kunjung keluar. Ia berdiri dari duduknya dan mengetuk pintu kamar mandi.


''Sayang, kamu gak pa-pa, 'kan?'' teriaknya kemudian. 


''Gak pa-pa, 'Kak. Sebentar lagi aku keluar,'' jawab Cassandra dari dalam.  


Mengabsen lantai. Sesekali berkacak pinggang dan berhenti. Menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Menilik jam yang melingkar di tangannya. 


''Sudah hampir lima belas menit, tapi kenapa dia belum keluar juga?'' Berhenti lagi. 


Ingin sekali mengetuk, tapi takut membuat Cassandra risih. Akhirnya ia hanya bisa bersandar di dinding dengan hati harap-harap cemas.  


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi dibuka dari dalam memunculkan sosok wanita cantik yang dipenuhi dengan senyum. Raut wajahnya tak menunjukkan seperti orang sakit.


''Kamu yakin gak kenapa-napa? Apa perlu aku panggilkan dokter?'' Mengangkat tubuh Cassandra dan membaringkannya di atas peraduan. Mengecup keningnya. 


''Beneran, aku gak pa-pa. Aku punya kejutan untuk, Kakak,'' ucap Cassandra sambil cengengesan. 


''Apa?" Yunan mulai penasaran dengan sikap Cassandra yang memang agak berbeda. Tidak menunjukkan sakit seperti yang ia takutkan.  


''Lihat saja di kamar mandi, di dekat wastafel,'' jawab Cassandra penuh teka-teki.  


Yunan yang hampir melepas kemeja pun mengurungkan niatnya. Ia segera ke kamar mandi demi memastikan kejutan yang diberikan sang istri. 


''Di dekat wastafel.'' Kakinya berhenti. Matanya menatap sebuah kotak kecil di tempat itu. 


''Pasti ini.'' Mengambil dan membawanya keluar sebelum membukanya. Menghampiri Cassandra yang tampak sibuk memainkan layar ponselnya.  


''Yang ini, bukan?'' Menunjukkan kotak yang diambil di kamar mandi.


"Iya, itu. Buka saja,'' suruh Cassandra pura-pura cuek. 


Sibuk membalas pesan dari Lolita yang pamit akan pergi, namun di larang olehnya sebelum tahu tentang kejutan darinya saat ini. 


Perlahan, Yunan membuka kotak itu. Memungut benda kecil nan panjang di dalamnya. Menatapnya dengan lekat-lekat.


Dua garis berwarna merah yang terpampang jelas mampu menarik bibirnya hingga berbentuk senyum. Yunan paham tanda apa itu, sehingga tidak perlu mempertanyakannya lagi. Sebuah ciuman langsung mendarat di bibir Cassandra sebagai tanda terima kasih sekaligus ucapan selamat.  


''Kamu hamil.'' Meletakkan benda itu, berfokus dengan sang istri yang tampak penuh kebahagiaan. 


''Iya. Aku hamil.'' Menuntun tangan Yunan untuk mengusap perutnya.


Meskipun masih rata, tapi Yunan sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan berita ini. Ia kembali memberikan ciuman dan juga pelukan hangat.  Bahkan, tak sanggup mengungkap kebahagiaan itu dengan kata-kata. Semua sangat istimewa dan spesial. 


Pelukan itu berlangsung beberapa menit. Yunan terlalu larut dalam kebahagiaan yang tiada tara. Seumur hidupnya ini pertama kali ia merasa benar-benar menjadi suami yang sesungguhnya. 


''Aku harus memberitahu semua orang, pasti mereka akan sangat bahagia sepertiku.'' Melepas pelukannya. Memasukkan benda itu ke dalam kotaknya lagi lalu membawanya keluar. 


Menghampiri seluruh keluarga yang tampak bercakap hangat. Menyembunyikan kotak kejutan tadi. Lalu duduk di samping Layin. 


''Cassandra gak apa-apa, 'kan? Kenapa dia gak ikut keluar.'' Layin menatap pintu kamar Yunan yang tertutup rapat. 


''Dia istirahat, Bu. Aku ke sini ingin menunjukkan sesuatu.'' Meletakkan kotak itu di atas meja membuat semua orang saling tatap. 


''Apa itu?'' tanya Layin penasaran.


''Ibu buka saja sendiri, nanti juga tahu.'' Menyilangkan satu kakinya. Bangga dengan sang istri yang selalu menciptakan kebahagiaan baru untuk keluarganya. 


Layin segera membuka dan melihat isinya. Sama seperti Yunan, wanita itu pun sangat terkejut. Membekap bibirnya yang hampir menganga lebar. Pun dengan Margareth dan Erlan yang juga kaget saat melihatnya. 


''Cassandra hamil?'' Lolita yang bertanya. Memastikan benda yang bergaris dua itu adalah milik sang adik. 


Mendengar itu, Novan segera mendekat dan ikut melihatnya. Meski kehadirannya belum diterima sang istri, ia masih berupaya untuk mengambil hatinya. 


''Iya, Kak. Cassandra hamil, aku juga baru tahu tadi di kamar,'' pungkas Yunan jujur. 


Kebahagiaan pun dirasakan Lolita. Wanita itu langsung berlari ke kamar sang adik untuk segera mengucapkan selamat.