
Curiga, tentu saja kata itu yang membuat Yunan mulai tak tenang. Ia mencoba untuk tidak mengambil kesimpulan lebih dulu. Mencari cara yang jitu untuk mengetahui status wanita itu. Diam-diam menyuruh salah satu asisten rumah tangganya turun dan masuk ke toko perhiasan itu.
"Bibi yakin gak pernah bertemu dengan orang itu, kan?" Menunjuk ke arah Zafan yang masih sibuk memilih perhiasan.
"Belum pernah, Tuan. Hanya saja, waktu itu bibi yang melihatnya di pesta Nona kecil," papar Bibi yakin.
Yunan mengangguk. Lantas, ia mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada asisten rumah tangganya. Menyuruhnya untuk membeli perhiasan apa saja, yang penting nanti bisa dibagi dengan temannya.
Bibi turun dengan mengantongi uang segepok. Kakinya melenggang masuk memasuki toko perhiasan itu. Ia duduk tepat di belakang Zafan.
"Mau mencari apa, Bu?" tanya salah satu pegawai toko tanpa melihat penampilan bibi.
Sekilas Zafan menoleh lalu kembali fokus dengan perhiasan di depannya juga wanita itu. Sesekali memberikan pendapat tentang perhiasan yang pantas melekat di tubuhnya.
"Saya mau mencari cincin, Mbak." Bibi pura-pura melihat beberapa perhiasan yang ada di dalam etalase.
"Baiklah, saya akan carikan." Pelayan itu lalu ke belakang. Mengambil beberapa cincin bagus yang ada di toko tersebut.
''Kamu yakin hanya mau beli yang ini? Nambah juga boleh." Zafan memastikan.
"Iya, sayang. Aku hanya mau beli yang ini saja." Menyuruh pelayan untuk segera membungkusnya.
Dari nada panggilan yang begitu mesra, bibi yakin mereka bukan sekedar teman. Pasti ada hubungan lebih dari sekedar teman.
"Lo, kok kamu beli lagi?" tanya wanita cantik itu.
"Ini untuk istriku. Aku gak mau ia curiga,'' jawab Zafan kemudian terkekeh.
Tidak salah lagi, dia pasti selingkuhan tuan Zafan.
Bibi geram, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saja ia tidak menjadi mata-mata, pasti sudah menjambak rambut wanita itu hingga rontok tak tersisa.
"Ternyata kamu pintar sekali." Wanita itu memuji kelicikan Zafan.
"Setelah ini aku akan mengantarmu ke apartemen. Setelah itu akan kembali ke kantor." Zafan terlihat melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Baiklah, tapi nanti malam kamu datang ya," pinta wanita itu manja.
Zafan mengangguk yakin.
Setelah mendapat informasi yang lumayan bagus, bibi meninggalkan tempat itu lebih dulu dengan membeli tiga cincin. Sementara Zafan dan wanita itu juga menyusul pergi karena sudah mendapatkan perhiasan yang diinginkan.
Bibi menceritakan apa saja yang ia dengar tadi. Sedikitpun tak mengurangi juga tak melebih lebihkan.
"Tadi saya dengar wanita itu juga memanggil tuan Zafan dengan sebutan sayang, Pak." Bibi berkata jujur.
Rahang Yunan mengeras. Kedua tangannya mengepal sempurna. Sorot matanya tajam penuh dengan amarah.
"Tadi saya juga dengar setelah ini Tuan Zafan akan mengantar perempuan itu ke rumahnya," lanjut bibi.
"Terima kasih, Bi." Yunan tersadar, ia segera mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Berbicara serius dan meminta orang itu untuk mengikuti mobil Zafan.
"Sekarang target baru keluar dari toko, seharusnya kamu tidak akan kehilangan jejaknya." Memutus sambungan dan meletakkan ponselnya di tempat semula.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Kak. tidak mungkin kamu akan katakan ini pada Laurent, kan?" tanya Cassandra lembut.
Ia berusaha meredam amarah sang suami yang meluap-luap. Menyiram dengan air dingin di kala api sudah mulai berkobar.
Yunan pun pergi dari tempat itu dan melanjutkan petualangannya sambil menunggu kabar baik dari orang suruhannya.
Batal membeli perhiasan, bukan berarti Cassandra kecewa, kali ini sangat bahagia saat Yunan membawanya ke pusat perbelanjaan. Ia bebas membeli apa pun di sana. Termasuk barang-barang branded dengan harga yang fantastis.
Tiga puluh menit kemudian, ponsel Yunan berdering. Nama yang tak asing berkedip di layar. Ia mencari tempat yang aman untuk berbicara dengan si penelpon.
"Bagaimana? Apa tadi kamu berhasil mengikuti mobil milik Zafan?'' tanya Yunan ke inti.
''Iya, Tuan. Sekarang saya ada di depan rumah perempuan yang Tuan sebut, sedangkan tuan Zafan sudah pergi,'' papar suara berat dari ujung telepon.
''Baiklah, kamu kasih alamatnya saja, biar nanti aku yang datang ke tempat itu sendiri.''
Yunan memejamkan mata sejenak, mencari cara untuk tidak membuat adiknya terluka. Ia tak tega jika Laurent harus menangis dengan penghianatan Zafan.
Benar kata Cassandra, hampir semua laki-laki itu brengsek. Awas saja kamu Zafan, sampai kamu terbukti selingkuh, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, kamu harus menerima balasan karena sudah berani menyakiti adikku.
Setelah mendapat kiriman sebuah alamat, Yunan menghampiri sang istri yang sibuk memilih baju. Memberi saran dan sesekali menggodanya hingga tersipu.
"Sayang, kamu gak beli baju ini?" Dengan jahilnya Yunan mengambil lingerie putih yang terpajang di bagian pojok.
Cassandra segera menarik lengan Yunan dan menjauhkan pria itu dari baju tadi. Menoleh ke arah kiri kanan, beruntung tidak ada orang yang melihat membuatnya sedikit lega. Namun tetap sama, apa yang dikatakan suaminya itu sangat memalukan.
"Di rumah sudah banyak, ngapain beli lagi?" kesal Cassandra.
"Gak pa-pa, biar koleksinya tambah banyak. Lagi pula kalau di kamar aku lebih suka kamu pakai baju yang seperti itu." Jari telunjuk Yunan menunjuk ke arah baju laknat tadi.
''Baiklah aku akan membelinya.'' Entah ada angin apa, Cassandra nurut dan mengambil beberapa baju dinas itu lalu membayarnya.
Puas jalan-jalan ke mall dan juga makan, Yunan mengantarkan Cassandra pulang. Bukan ke rumah sendiri, melainkan ke rumah Layin.
Meminta sang istri untuk tidak membicarakan apa yang dilihat tadi pada Laurent. Sementara akan menutupi semuanya.
Ketika Laurent muncul dari balik tangga, kedua bola mata Cassandra berkaca-kaca. Sungguh, ia tak sanggup melihat senyum wanita itu berubah menjadi tangis. Sebagai sama wanita, ia pun ikut merasa iba.
"Ya ampun, Kakak beli apa saja ini?" Laurent membuka satu-persatu paper bag yang berjejer di ruang tengah.
"Ini untuk kamu, Laurent. Ada juga untuk Akram, ibu, ayah dan juga kakek." Yunan memberikan beberapa paper bag kepada sang adik.
Hatinya perih bagaikan tersayat seribu pisau belati tajam. Mana mungkin ia sanggup menceritakan yang sesungguhnya tentang kelakuan bejat Zafan, itu hanya akan membuat adiknya sakit.
Ya Allah, berikan hamba petunjuk.
"Baiklah, kamu di sini ya sayang, aku pergi dulu," ucap Yunan pamit.
Tidak hanya pada Cassandra, namun juga pada orang tuanya yang sudah sibuk bermain dengan Khalisa dan Akram.
"Hati hati, Kak. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya tanpa membuat Laurent menangis," bisik Cassandra.
Yunan mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan rumah Erlan. Sedangkan Cassandra memulai membuka percakapan.
"Zafan ke mana, Laurent? Kok beberapa hari ini aku gak lihat dia?" Cassandra mencoba untuk memancing.
"Dia di kantor, Kak. Kemarin mas Zafan juga lembur dan tidur di kantor. Mau pulang, tanggung," jawab Laurent sedikit kecewa. Sebab, tidak hanya sekali dua kali, bahkan Zafan sering menghabiskan waktunya di kantor daripada di rumah.
Cassandra hanya ber Oh ria. Ia mengalihkan pembicaraan. Terlalu sakit jika mengingat yang dilihat tadi.