
Bab. 84
Meskipun berusaha untuk mempercepat pertemuan ini, namun ternyata sangat sulit. Karena ternyata banyak pertimbangan yabg harus mereka selesaikan. Dan beruntungnya Rahuella sangat profesional di kala mereka sedang meeting. Tidak seperti di awal tadi.
"Jadi, gimana? Apa kita jadi makan malam bareng nanti?" tanya Rahuella sembari mengemasi barang-barangnya. Baru lima menit yang lalu meeting mereka selesai. "Bertiga sama Biru juga nggak apa-apa. Kasihan, dia kan jomblo." imbuhnya yang jelas mendapat lirikan sinis dari Biru.
Sementara Kendra tengah sibuk mengirim pesan kepada sang istri. Ia harus cepat-cepat menceritakan mengenai hubungan dirinya dan Rahuella, sebelum wanita itu lebih dulu yang bercerita pada Dilla.
"Baby ...." rengek Rahuella karena tidak mendapat respon dari Kendra.
Kendra meliriknya sekilas, lalu kembali menatap ke arah ponselnya kembali.
"Aku sibuk," ucap pria itu dengan nada yang sangat cuek.
Biru menahan tawa melihat Rahuella yang diabaikan oleh Kendra.
"Sudah gue bilang, nggak usah kegatelan," ucap Biru mengingatkan.
"Apa-an sih, lo! Gue sedang bicara sama kekasih gu—"
"Mantan!" tegas Kendra dengan tatapan yabg begitu tajam. Meskipun tidak ada Dilla di sini, namun Kendra tidak mau membuat kesalahpahaman yang berarti.
Tentu saja, muka Rahuella langsung ditekuk mendengar penegasan dari Kendra barusan. Padahal dirinya juga sudah minta maaf.
"Kamu masih marah?" tanya Rahuella dengan nada kalem. Menatap lembut ke arah pria yang masih betah duduk di tempatnya.
Biru yang jengah melihat sikap wanita itu, kemudian pria itu berdiri.
"Gue ke ruangan gue dulu. Daripada harus liat drama di sini," pamit Biru memilih aman. Di banding dirinya nanti disangkut pautkan oleh Kendra. Apa lagi kalau sampai disuruh menjelaskan pada istri dari sahabatnya tersebut.
"Duduk!" titah Kendra dengan suara beratnya. Membuat Biru menatap protes ke arah Kendra. "Kalau lo keluar, yang ada kesejahteraan gue terancam." jelas Kendra penuh maksud.
"Ck! Malas banget. Nasib bawahan," desaah Biru namun kembali duduk juga di tempatnya.
Sementara Rahuella yang tidak tau apa-apa, wanita itu menatap ke arah Kendra dan Biru bergantian.
"Lagian lo kenapa bisa pacaran sama dia sih, Kend? Kayak nggak ada lain," ucap Biru sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Lalu menatap ke arah Rahuella. "Mendingan lo segera pulang deh, sekarang. Sebelum gue yang diseret nanti."
"Apa urusannya sama lo. Lo aja sana yang pulang. Gue mau temu kangen sama pacar gue dulu," sahut Rahuella sedikit sewot. Karena tanpa sebab, dia selalu disalahkan oleh Biru, tetangganya dulu.
Kendra masih belum paham hubungan Biru sama Rahuella.
"Lo sendiri punya hubungan apa?" tanya Kendra yang sangat penasaran.
"Dia tetangga gue sebelum pindah." jawab Biru singkat.
Rahuella melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia harus segera kembali ke kantor sekarang.
Cepat-cepat wanita itu berdiri lalu mendekat ke arah Kendra dan memberikan sebuah kertas berukuran kotak pada Kendra.
"Lo bisa kesana. Password-nya tanggal kita jadian," bisik Rahuella namun tetap terdengar oleh Biru.
"Nggak perlu. Gue udah nikah."
Dan jawaban Kendra yang barusan mampu membuat Rahuella membeku di tempatnya.
"Kamu nggak sedang bohong sama aku kan, Baby?" tanya Rahuella dengan tatapan tidak percaya. Tubuhnya lemas seketika. "Aku tahu aku yang salah, dulu. Tapi nggak seharusnya kamu bohong seperti ini, Baby. Please, Baby. Bicara yang juj—"
Tok tok tok!
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pintu yang diketuk.