
Bab. 50
"Nggak masalah. Aku punya uang banyak, jadi jangan khawatir tentang dia. Cukup buat dia tenang aja salam perutku. Jangan yang aneh-aneh lagi mintanya," ujar Dilla dengan wajah yang melas.
Bukan tanpa alasan Dilla berkata seperti ini. Karena pernah suatu malam, malaammm banget dirinya terbangun dan tiba-tiba saja menginginkan jajanan yang belum pernah Dilla makan.
Oke, jika cilok, Dilla pernah makan itu. Tapi kalau untuk sempol, sama sekali belum pernah. Dan malam itu Dilla menginginkan jajanan tersebut. Dia sudah berkeliling sendiri di kawasan dekat komplek perumahannya. Akan tetapi tidak mendapatkan penjual yang dia inginkan.
Akhirnya, Dilla pun menghubungi Kendra tanpa sungkan. Karena pria itu pernah berkata akan bersiaga dan siap kapanpun jika Dilla membutuhkannya. Tentu, harus yang berhubungan dengan calon anak mereka.
Mamanya Kendra yang mengetahui pun langsung membuatkan makanan tersebut demi calon cucunya.
"Bagus deh kalau gitu," sahut Kendra.
Rupanya wanita ini memang tidak menuntut apapun darinya, selain kenyamanan perutnya. Di mana di dalam sana ada anak mereka.
"Tapi memangnya kamu nggak mau cari kerja yang lebih ...." Dilla tidak jadi meneruskan kalimatnya. Takut jika ucapannya melukai hati pria itu.
"Tenang aja. Biarpun sopir begini, kalau untuk menghidupi kamu dan anak kita pun masih bisa. Asal jangan minta tas yang dari kulit buaya. Aku nggak mampu beli," ucap Kendra seraya tertawa kecil.
Dilla menatap pria yang ada di sampingnya. Ada rasa yang entah tidak pernah Dilla rasakan sebelumnya. Ada kenyamanan jika berada di sampingnya.
"Natapnya nggak usah seperti itu. Kalau emang cinta, bilang aja. Nggak usah gengsi. Aku siap nikahin kamu kapanpun. Atau ... aku beri salam dulu pada dedek, ya?" goda Kendra melirik jahil.
Dilla yang dituduh seperti itu pun langsung memukul lengan Kendra hingga pria itu terbahak.
"Jangan harap!" seru Dilla yang langsung mengalihkan perhatiannya.
Jujur saja. Ada rasa penasaran dan ingin mengulangnya lagi, namun pikiran itu segera Dilla hempaskan. Ia tidak mau melakukannya lagi. Atau kalau tidak, ia yang kalah.
"Nggak kangen emangnya? Hmm? Baru sekali dulu itu, kan?"
Sedangkan Kendra sendiri dengan sengaja terus menggoda Dilla. Ia sedikit tahu apa yang menjadi kelemahan wanita ini.
"Nggak!" sahut Dilla tegas.
Dan pria itu pun mendapat cubitan bertubi dari jemari Dilla.
Memang, Kendra tidak akan memaksa Dilla untuk mau menikah dengannya. Terlebih lagi sang mama yang sudah mendesak dirinya untuk bertanggung jawab.
Bisa saja sebenarnya Kendra langsung membuat perusahaan papanya Dilla berada di bawah dan dirinya datang sebagai penyelamat, lalu meminta Dilla sebagai imbalannya.
Namun, Kendra tidak ingin memakai cara itu yang nantinya akan Dilla benci. Dia lebih memilih membuat Dilla merasa nyaman dan aman dengannya. Terlebih lagi tidak bisa jauh darinya. Beruntung, calon anak mereka sepertinya menyetujui dan mendukung pilihan Kendra. Dengan begitu Kendra akan membuktikan kepada Dilla, kalau tidak semua pernikahan itu seperti apa yang ada dalam bayangan wanita itu.
Ketika mobil yang mereka tumpangi sampai di kawasan kampus, tanpa sengaja mata Dilla melihat ada penjual rujak manis yang berhenti di pinggir jalan.
"Pak Pak ... berhenti bentar!" ucap Dilla sembari menarik tangan kiri Kendra untuk menghentikan laju mobilnya.
Sontak saja Kendra langsung menepikan mobilnya. Dengan tatapan bingung, pria itu menghela napas. Hampir saja mobil mereka ditabrak dari belakang.
"Ada apa lagi, Dilla? Jangan nyuruh berhenti mendadak seperti itu." ingat Kendra. Karena memang sangat berbahaya.
Sementara Dilla tak menghiraukan. "Aku pingin itu!" tunjuk Dilla pada penjual rujak manis.
"Masih pagi, loh. Nanti perutmu sakit. Belum makan nasi sama sekali, kan?" Kendra tidak bisa menurutinya langsung. Pria itu tahu Dilla tidak bisa makan nasi ketika pagi seperti ini semenjak hamil. Pasti akan dia muntahkan lagi.
"Tapi aku mau itu, Pak." rengek Dilla dengan tatapan memelas.
Kendra menghela napas secara kasar. Haruskah seperti ini wanita yang sedang ngidam itu? Tidak hanya membuat pusing, tetapi juga membuatnya gemas. Sampai-sampai ingin menerkamnya sekarang juga.
'Sabar, Kend ... sabar. Belum sah. Jangan diulang.' ucap Kendra dalam hati.
Kendra memicingkan mata. "Tadi mintanya gimana?" tanya pria itu sambil memasang wajah datar.
Dilla ingin sekali memukulnya. Akan tetapi tubuhnya sekarang sudah berkhianat pada tuannya sendiri. Hingga ia rela melepas semua rasa gengsi demi mendapatkan apa yang dia mau.
Dengan satu tarikan napas, Dilla memasang ekspresi yang sangat imut sekali di depan Kendra.
"Papinya Dedek ... Dedeknya pingin rujak manis. Beliin dong, Pi," pinta Dilla sembari mengerjap gemas. Membuat Kendra tak tahan lagi.