
Siang ini, Casandra datang ke rumah Erlan hanya untuk menemui Khalisa. Anak itu benar-benar menguji dirinya. Betapa tidak, sekian tahun bersama baru kali ini tidak mau tinggal dan tidur dengannya, malah memilih dengan oma dan opanya, orang yang baru dikenal. Aneh, bukan?
''Apa Khalisa masih gak mau pulang?'' Layin mendekati Cassandra yang tampak membujuk Khalisa.
''Gak mau, Bu. Bagaimana ini? Aku hanya takut ngerepotin Ibu dan ayah.'' Cassandra berbicara dengan menatap kedua bocah itu bermain.
''Kakek pun gak pa-pa kalau direpotin sama mereka.'' Sastro menyungutkan kepalanya ke arah Akram dan Khalisa bergantian.
''Bukan begitu, Kek. Tapi aku gak enak saja sama keluarga ini.'' Masih merasa sungkan karena sudah sangat merepotkan mereka.
''Apa gunanya keluarga, Nak. Kita harus saling membantu, kan? Apalagi selama ini kamu dan Khalisa jauh dari kami. Mungkin dia memang butuh keramaian seperti di rumah ini. Sudahlah, kami gak pa-pa kalau harus merawat dia.'' Layin pun keukeuh untuk selalu menemani cucunya.
''Bunda pulang saja sama ayah, biarin aku di sini sama oma dan opa.'' Mendorong tubuh Cassandra, mengusir.
''Anak pintar, main lagi ya, oma akan bicara dulu dengan bunda." Menggiring Cassandra keluar.
Mereka duduk di ruang tamu. Membuka hadiah yang dibawa Cassandra tadi. Laurent pun sudah memakainya dan mengucapkan terima kasih. ''Jangan lupa besok lagi ya, Kak,'' candanya.
Setelah sekian lama hilang, kehangatan pun kembali terasa. Ada seorang pria tampan datang. Wajahnya masih sangat asing di mata Cassandra, namun ia langsung sadar saat Laurent mendekati dan menyapanya.
''Suaminya Laurent, namanya Zafan.'' Layin memperkenalkan.
Cassandra mengatupkan kedua tangannya dan menyebut namanya. Ini pertama kali mereka bertemu dan masih sangat canggung, terlebih sepertinya pria itu pendiam.
''Aku ke kamar dulu, Mbak,'' pamit Zafan sopan.
Cassandra mengangguk. Menatap punggung pria itu menuju kamarnya, sedangkan Laurent membantu mengambil barang-barangnya. Mereka terlihat sangat serasi.
''Mereka tinggal di sini, Bu?'' tanya Cassandra pada ibu mertua.
''Tidak. Laurent akan menginap di sini kalau suaminya tugas ke luar kota. Katanya di rumahnya sepi.''
Cassandra mengangguk mengerti. Ia pun pernah merasakan tinggal di rumah sendirian dengan putrinya. Terlalu membosankan. Beruntung ia memiliki pekerjaan yang melibatkan banyak orang. Itu menjadi salah satu hiburan baginya.
''Jangan pulang dulu ya, nanti nungguin Yunan," pinta Layin lagi. Berharap siang ini Cassandra mau tinggal di rumahnya bersama Khalisa.
Cassandra memberitahu Vera dan menyuruhnya untuk pulang, sedangkan ia tetap di rumah menemani Khalisa. Kasihan juga meninggalkan putrinya terus menerus.
Pulang dari kantor, Yunan langsung ke butik Syima. Seperti janjinya tadi, ia menunggu di depan karena tempat itu sedang ada acara resmi, terbukti banyak tamu bule yang keluar masuk dari sana.
Melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir lima belas menit menunggu membuatnya bosan. Akhirnya Yunan menghubungi Syima lagi dan memastikan.
"Masuk saja, Yunan. Kamu langsung ke ruanganku,'' pinta Syima dari ujung telepon.
Yunan berjalan gontai membelah kerumunan yang ada di ruangan depan. Sepertinya Syima sedang meluncurkan gaun terbaru. Seru juga, tapi ia tak begitu minat menyaksikan acara seperti itu. Tidak terlalu penting, menurutnya.
Beberapa detik duduk, orang yang ditunggu datang. Yunan menyapanya hormat, sedangkan Syima tersenyum mengejek.
Tidak ada bantahan. Tentu saja ucapan wanita itu benar, semenjak sibuk mengurus beberapa bisnis Yunan memang tidak ada waktu untuk santai. Hari-harinya hanya sibuk di kantor dan di jalanan demi bisa mengembangkan usaha.
''Maaf, Mbak. Sibuk, gak punya waktu untuk datang ke sini. Ini ada sesuatu untuk Mbak. Itu asli, bukan KW." Menyerahkan paper bag untuk Syima dan menyuruh wanita itu membukanya.
''Semoga suka.''
Syima bergegas membukanya. Nampak kotak beludru terpampang jelas. Dipastikan hadiah dari Yunan adalah perhiasan.
Yunan tidak hnaya membelikan untuk Syima namun juga istri, ibu, mertua dan juga adiknya. Sengaja membelikan mereka hadiah mewah itu di hari yang spesial. Yaitu, hari pertemuannya dengan Cassandra.
''Ini penyogokan?'' cetus Syima tanpa membuka kotaknya.
''Ya ampun, Mbak. Jangan suka berprasangka buruk. Gak baik, itu murni hadiah dariku, bukan sogokan,'' terang Yunan.
''Makasih.'' Syima membukanya. Seketika itu juga ia terpesona melihat barang mewah pemberian Yunan. Tak disangka, ia mendapat hadiah yang begitu indah dari suami adiknya.
''Apa yang akan Mbak bicarakan?'' Yunan langsung ke inti.
Sepertinya ini bukan pertama kali Syima akan membicarakan tentang rumah tangganya dengan Cassandra, melainkan kedua kali. Dulu, mereka juga sempat membahas tentang hal ini sebelum akhirnya istrinya memilih pergi.
''Cassandra masih bingung dengan pilihannya. Dia belum bisa sepenuhnya percaya sama kamu. Takut kamu punya pikiran akan menikah lagi. Dia itu wanita yang baik, cantik dan banyak prestasi, dia juga sulit jatuh cinta sama laki-laki. Sekalinya jatuh cinta, maka akan dipertahankan apa pun keadaannya. Tapi dia agak kecewa karena keputusanmu waktu itu. Mungkin ucapan kamu melukai hatinya. Jangan salahkan dia kalau sampai saat ini belum membuka hatinya untukmu. Sabarlah, aku yakin dengan kesabaran kamu, dia akan luluh,'' tutur Syima panjang lebar.
Tidak ada kata yang Yunan ucapkan. Ia menundukkan kepala dan sesekali mengangguk. Paham apa yang dikatakan Syima tadi. Artinya untuk saat ini harus pendekatan dulu dan tidak boleh buru-buru, juga meyakinkan Cassandra bahwa ia sangat tulus dan tidak akan mendua.
''Terima kasih, Mbak. Aku akan mencoba untuk meyakinkannya lagi.'' Yunan menerima masukan dari Syima.
Mencari cara supaya Cassandra sepenuhnya percaya padanya tanpa ada paksaan. Mungkin kali ini ia memang harus menggunakan hartanya untuk meluluhkan wanita tersebut.
Jam lima sore, Yunan baru tiba di rumah Erlan. Melihat dua wanita cantik tersenyum membuat lelahnya lenyap seketika. Sungguh, mereka adalah bidadari yang kini memberikan semangat baru dalam hidupnya.
"Baru pulang, Kak. Telat satu jam lho." Cassandra menghampiri Yunan dan membantunya melepas jas.
"Tadi aku ada urusan penting di kantor, jadi terlambat." Mencium Cassandra dan Khalisa bergantian.
Pasti dari butik mbak Syima.
"Ke kamar yuk, sore ini aku ingin bersama kamu dan Khalisa. Kita habiskan waktu bertiga sambil melihat senja,'' ajak Yunan. Menggendong Khalisa dan membawanya menuju kamar.
Sedangkan Casandra, ia membawa tas milik sang suami yang lumayan berat. Menepuknya, penasaran dengan isinya.
"Apa sih, Kak. Berat banget?" tanya Cassandra. "Gak biasanya kamu bawa tas begini,'' lanjutnya.
Yunan tersenyum dan berbisik. ''Nanti kamu juga tahu. Siap-siap saja, Sayang."
Tidak ada pertanyaan lagi, Cassandra mengikuti langkah suaminya menuju kamar.