Hidden CEO

Hidden CEO
Pingsan



Langit tiba-tiba mendung. Panasnya alam yang menyengat lenyap begitu saja tertutup awan yang menggumpal hitam. Suara guntur saling bersahutan membuat suasana sedikit mencekam. Tiupan angin kencang mampu memunculkan arus dingin yang berlebihan. 


''Apa kak Novan sudah pulang, Kak?'' Cassandra turun dari ranjang. Mendekati Yunan yang dari tadi mengamati kakak iparnya dari arah kamar. 


''Belum, di luar juga sudah gerimis, tapi dia tidak berteduh.'' Hatinya terlampau khawatir melihat Novan yang tetap berada di halaman. 


Cassandra menghela nafas panjang. Setiap kali teringat dengan perlakuan Novan, ia tidak ingin kakaknya memaafkan pria itu. Namun tak menampik jika kehadirannya pun dulu memberikan banyak perubahan.  


Beberapa kali pria itu mengembangkan bisnis keluarganya. 


''Aku akan suruh pak Jono memberikan dia payung,'' ucap Yunan sembari menekan-nekan layar ponselnya. 


Berbicara serius dengan pak Jono yang ada di pos ronda melalui sambungan telepon. 


Terlihat jelas pak Jono muncul sambil membawa payung di tangannya dan memberikannya pada Novan. Namun sepertinya, pria itu menolak. 


''Apa maunya?'' Cassandra semakin kesal melihat sikap Novan yang menurutnya kekanak-kanakan. 


''Sudah, mendingan kamu tidur saja. Kak Novan sudah dewasa. Dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak.'' Merangkul pundak Cassandra menuju ranjang. 


Mereka duduk di tepi ranjang. Saling menghadap ke arah yang sama. Seharusnya saat ini mereka akan pergi ke Jepang. Sayang sekali harus dibatalkan karena cuacanya yang tak mendukung. 


''Khalisa di mana?'' Memindai ranjang yang masih kosong. Seharusnya ini kesempatan yang bagus untuk mereka. Sayang, ketar-ketir dengan hadirnya Novan.


''Tadi katanya mau ikut sama ibu, mungkin dia sudah tidur.''


Yunan merangsek, mengikis jarak antara keduanya. Mengulurkan tangannya di belakang punggung Cassandra yang masih memeriksa ponselnya. Membalas beberapa pesan masuk dari sahabatnya. 


''Apa gak sebaiknya kita menyuruh kak Lolita bicara dengan kak Novan dulu,'' saran Yunan. 


Alangkah baiknya mereka berbicara secara tertutup dan dewasa. Setelah itu memilih keputusan yang akan diambil. Mungkin itu jauh lebih baik daripada sekarang. 


''Mungkin kak Lolita masih trauma dengan apa yang dilakukan kak Novan waktu itu.'' Cassandra mencoba menengahi.


Tidak membela mereka berdua. Bersandar di dada bidang Yunan. Menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Entah, akhir-akhir ini ia sangat menyukai tubuh itu. Bahkan sedetik pun tidak ingin  jauh darinya. 


Hujan semakin terdengar deras. Yunan menoleh ke arah jendela yang hanya tertutup tirai. Hatinya bergerak untuk segera mendatanginya.


''Sebentar.'' Melepas tangan Cassandra yang melingkar di perutnya. 


Pria itu turun dan membuka tirai sedikit. Menatap ke arah Novan yang ternyata masih ada di bawah guyuran air hujan. 


''Kak Novan masih ada di halaman, Sayang. Aku harus turun, takutnya nanti dia sakit.'' Yunan terlihat sangat cemas. 


Ia mencium pucuk kepala Cassandra dan meminta wanita itu mengajak Lolita turun. Sementara ia akan keluar untuk menemui Novan. 


Tidak ada bantahan, Cassandra nurut begitu saja. Ikut keluar dan mengetuk kamar Lolita yang ada di paling ujung. 


''Ada apa, Ndra?'' Dari raut wajahnya nampak jelas Lolita habis bangun tidur. 


''Itu Kak. Kak Novan masih ada di depan, kehujanan,'' ucap Cassandra ragu. 


Lolita mengernyitkan dahi. Seolah tak percaya dengan ucapan Cassandra barusan. Mana mungkin Novan rela hujan-hujanan hanya demi meminta maaf padanya. Impossible. Sebab, pria itu bukanlah orang yang mudah mengalah hanya demi sesuatu yang sepele. 


''Yakin, Ndra?'' Lolita kembali masuk setelah mendapat jawaban anggukan dari Cassandra. Ia membuka jendela yang tadi sudah ditutup. Menatap Novan yang berbicara dengan Yunan. 


''Sepertinya dia serius minta maaf. Apa Kakak tidak mau memaafkannya?'' tanya Cassandra. Mengusap bahu Lolita dengan lembut. Apa pun pilihan Kakak, aku dan ibu tidak akan memaksa. Kami ingin yang terbaik untuk Kakak dan Aldo,'' imbuh nya. 


Sekuat hati Lolita mengikhlaskan Novan. Melupakan perjalanan rumah tangga yang sempat dibangun kokoh selama tiga belas tahun. Namun, bisa dirobohkan hanya dalam sekejap mata. 


''Ayolah, Kak. Kita bisa bicara di dalam,'' bujuk Yunan sembari menarik tangan Novan yang sudah menggigil. 


Novan menggeleng lemah. Dilihat dari bibirnya yang gemetar dan membiru serta wajahnya yang pucat, dipastikan pria itu sangat kedinginan.  Bahkan sesekali tubuhnya terhuyung hampir rubuh. 


''Kak Novan baik-baik saja?'' Yunan melepas payung demi meraih tubuh Novan yang hampir terhempas di mobil. 


Menatap manik matanya yang terlihat sayu. Di pastikan pria itu tidak baik-baik saja.


''Aku baik baik saja,'' ucapnya dengan suara pelan. 


''Kita harus ke dalam, nanti Kakak sakit.'' Menyeret tubuh berat Novan.


Baru akan berjalan, tiba-tiba Yunan merasa tubuhnya sangat berat. Ia menoleh ke arah kepala Novan yang bersandar di bahunya dengan mata terpejam. 


''Kak Novan.'' Terkejut, memekik saat melihat kakak iparnya tak sadarkan diri. 


Penjaga dan pak kebun yang melihat itu segera berhambur membantu Yunan. Mereka membawa Novan ke rumah tanpa izin dari Margareth. 


''Kak Novan kenapa, Kak?'' tanya Cassandra cemas. Berlari kecil menghampiri Yunan yang sibuk melepas sepatu di kaki Novan. 


''Sepertinya kak Novan kedinginan. Kamu tolong bantu ambilin selimut,'' suruh Yunan. 


Tanpa kata, Cassandra langsung menjalankan perintah dari sang suami. Ikut khawatir melihat kondisi Novan yang tak berdaya. Sebenci apa pun, ia tetap memiliki rasa iba yang mendarah daging. 


Melihat Cassandra buru-buru membuat Lolita penasaran. Ia berjalan menghampiri pintu kamar sang adik yang sedikit terbuka. 


''Itu selimut untuk apa, Ndra?'' tanya Lolita penasaran.  


''Kak Novan pingsan, Kak. Dia dibawa kak Yunan masuk ke dalam,'' ucap Cassandra panik. 


Jantung Lolita seketika berdegup kencang. Matanya membelalak kaget, sekujur tubuhnya membeku tanpa menyadari ke mana hilangnya Cassandra tadi. 


Mas Novan pingsan?  


Memutar memorinya kembali. Teringat terakhir kali saat Novan pingsan. Ya, saat pria itu kehujanan, sama seperti sekarang.  


''Ya ampun, mas Novan kan punya sesak napas.'' Bergegas menuruni anak tangga, menyusul Cassandra.


Berlari menghampiri adiknya dan Yunan yang ada di ruangan tengah. 


Sekujur tubuhnya lemas seketika melihat suami arogannya berbaring lemah di atas sofa. Matanya berkaca-kaca menahan cairan bening yang menumpuk di pelupuk. Tak disangka, keegoisannya membuat pria garang itu tumbang. 


''Bagaimana ini?'' Cassandra semakin khawatir saat Novan tak juga sadarkan diri. 


''Tenang, Sayang. Aku yakin kak Novan hanya kedinginan saja. Sebentar lagi dia pasti sadar,'' jawab Yunan menenangkan.  


''Aku harus ambil obatnya. Pasti dia membawanya di mobil.'' Beralih ke depan, menerjang derasnya guyuran hujan yang berjatuhan.  


Membuka pintu mobil dan mencari sesuatu di dashboard.  


Sayang sekali, Lolita tidak menemukan apa-apa selain tissu dan… Tangannya gemetar saat menyentuh barang yang dilarang dokter ada di sana.  


''Apa mungkin mas Novan merokok lagi?" Ya, Lolita curiga dengan sang suami. Padahal, berulang kali dokter melarang, namun pria itu bandel dan tetap memakainya dikala hatinya gelisah.