Hidden CEO

Hidden CEO
Menolak



Tiga hari semenjak Yunan pergi, Cassandra dan Khalisa menghabiskan waktunya di rumah Erlan. Di sana mereka mendapatkan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Kasih sayang yang tulus dari orang-orang terdekat juga kenyamanan membuatnya betah.


Tidak ada yang berubah, Layin sangat ramah. Sebagai seorang ibu, ia mampu menuntun anak-anaknya ke jalan yang baik. Pun dengan Laurent, meskipun wanita itu hanya putri sambung, ibu mertuanya tidak pernah membanding-bandingkan mereka. Semua tetap sama.


Hari ini jadwal Yunan pulang, namun pria itu belum memberi kabar sedikit pun membuat Cassandra sedikit cemas. Apalagi teleponnya dari tadi tidak diangkat. Mungkinkah ada masalah dalam perjalanan?


Layin mendekati Cassandra yang tampak gelisah sambil menekan-rekan layar ponselnya.


''Kenapa?'' Duduk di samping Cassandra.


''Ini, Bu. Kak Yunan nggak mau angkat teleponnya, apa dia sangat sibuk sampai lupa padaku.'' Cassandra menunjukkan beberapa panggilan telepon yang tak terjawab.


Lalu menatap ke arah depan.


''Mungkin dia sedang perjalanan, yakin saja Yunan tidak akan berbuat serong di belakang kamu."


''Maksud aku bukan itu, Bu. Tapi dia terlalu cuek, aku nggak suka.'' Menundukkan kepala, sedikit malu sudah mengadu pada ibu mertuanya.


Layin mengusap punggung Cassandra dengan lembut. Ikut menatap ke arah depan, dimana mentari mulai terbit." Mungkin dia mau memberi kejutan sama kamu, jadi nggak mau angkat telepon. Tunggu saja, sebentar lagi pasti dia sampai." Layin meyakinkan.


Cassandra hanya mengangguk. Meski hatinya masih terasa dangkal, tetap saja percaya dengan ucapan Ibu mertuanya. Tidak mungkin Yunan berbuat macam-macam di belakang, sedangkan pria itu sudah berjanji akan selalu menjaga cintanya. 


''Cassandra...'' Panggilan dari dalam menggema.


Cassandra segera masuk memenuhi panggilan Erlan. Ia duduk di depan pria itu dan melihat beberapa majalah yang ada di meja.


''Ada apa, Yah?'' tanya Cassandra ramah.


''Di perusahaan ayah sedang meluncurkan produk pelangsing terbaru, dan mereka menginginkan kamu yang menjadi bintang iklannya,'' ucap Erlan memberitahu juga memperlihatkan beberapa produk yang akan diluncurkan itu kepada Cassandra.


''Tenang saja, bayarannya pasti lebih mahal daripada di perusahaan lain.'' Erlan berusaha membujuk. Apa pun hasilnya, ia akan terima.


Di kontrak betapa tahun, Yah?'' tanya Cassandra memastikan. Membaca dokumen yang ada depannya.


''Lima tahun,'' jawab Erlan seperti yang didiskusikan kemarin.


Benar, dari tulisan itu ada waktu kontrak dan juga bayaran yang akan ia terima juga syarat-syarat untuk menjadi bintang iklan produk itu.


''Menurut ayah cuma sebentar.''


Cassandra meletakkannya kembali. Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dari raut wajahnya terlihat sangat bimbang untuk menerimanya. Betapa tidak, 5 tahun adalah waktu yang cukup lama. Artinya Cassandra tidak boleh hamil, sedangkan Yunan terlihat sudah menginginkan seorang anak lagi dari rahimnya.


''Sepertinya nggak bisa deh, Yah. Pasti Kak Yunan nggak mengizinkan,'' jawab Cassandra begitu yakin.


Cassavdra tetap menggeleng. ''Nggak bisa, Yah. Pokoknya aku gak akan bisa jadi bintang iklan produk itu. Lebih baik Ayah cari model lain saja, mungkin yang masih lajang.''


Erlan mangut-manggut mengerti. Meski belum tahu alasan yang pasti Cassandra menolaknya, akan tetapi berpikir positif saja dan berharap memang tidak apa-apa.


''Baiklah, kalau kamu memang tidak mau, nanti ayah akan bicarakan ini pada orang-orang kantor.''


Mana mungkin aku menerima kontrak selama 5 tahun. Kasihan kak Yunan, dia pasti tersiksa memakai sarung. Lebih aku gak dapat uang daripada harus minum pil KB lama-lama.


Sebenarnya Cassandra juga malas mengkonsumsi pil kontrasepsi atau apa pun itu yang berhubungan, ia lebih suka bebas seperti dulu sebelum mengandung Khalisa. Namun sayang sekarang belum bisa, bukan tidak bisa membayar penalti. Akan tetapi ia memang ingin melanjutkan kontraknya yang masih beberapa bulan saja. 


Setelah 2 hari kemarin jalan-jalan dan membeli semua barang-barang mewah, hari ini Cassandra tetap di rumah menunggu Yunan pulang. Ia berbaring di kamar sembari mencari tempat-tempat liburan yang cocok untuk ia dan Yunan serta Khalisa.


Sudah lama sekali ia disibukkan dengan dunia pekerjaan, dan mungkin akhir pekan ini akan merencanakan berlibur ke luar negeri bersama keluarga tercinta.


"Kira-kira kak Yunan suka berlibur di negara mana ya? Jepang, Turki Perancis, apa aku ajak dia ke Kanada saja, tapi bagaimana kalau dia cemburu dengan orang-orang yang dulu pernah menyukaiku?"


Cassandra jadi bingung, takut suaminya cemburu melihat pria-pria tampan yang dulu menggandrunginya sewaktu masih menjadi model di sama.


''Aku ajak ke Jepang saja deh pasti dia suka.''


Kelamaan melamun Cassandra jadi ngantuk, akhirnya ia memejamkan mata untuk mengurai rasa lelah akibat jalan-jalan dua hari kemarin.


Di bandara internasional Yunan langsung naik mobil yang menjemputnya. Tak banyak kata, ia langsung menyuruh sang sopir melajukan mobilnya menuju rumah. Sudah tak sabar ingin bertemu istri dan anaknya. Dua orang yang beberapa hari ini menyelinap masuk dan bersemayam di relung hati terdalam. Ingin memeluk mencium mereka dan mengurai rasa rindu yang mengendap di dada.


''Cepat sedikit, Pak.'' Melihat jam yang melingkar di tangannya. Berharap secepatnya bisa bertatap muka dengan Cassandra yang katanya hari ini ada di rumah Layin.


''Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Cassandra dan Kak Lolita. Semoga mereka baik-baik saja.'' sebuah harapan besar bagi Yunan menyatukan istri dan kakak iparnya.


Namun ia tidak mempunyai kewenangan mengingat sang istri yang selalu disudutkan. 


Setibanya di rumah, Yunan langsung turun. Melepas jaket dan sepatunya, menyerahkan dua benda itu kepada Bibi yang ada di belakang. Kakinya menyusuri tangga langsung ke lantai atas. Membuka pintu dengan pelan, matanya langsung tertuju pada sosok yang terlelap dibalik selimut. Berjalan mengendap-endap dan merangkak naik di atas ranjang. memeluk sang istri dari arah belakang.


Baru saja ingin menutup mata, tiba-tiba Cassandra memanggilnya.


''Aku kira kamu tidur? Ternyata hanya pura-pura,'' canda Yunan.


''Sejak kapan kamu datang?'' tanya Cassandra dengan suara serak. Terkejut dengan kehadiran Yunan yang tiba-tiba, bahkan tak memberi kabar sedikit pun. 


''Baru saja, aku langsung ke sini. Nanti sore kita pulang ya, aku akan secepatnya bicara dengan kak Lolita. Masalah ini harus cepat selesai, aku nggak mau ada perseteruam di antara kamu dengan dia. Kasihan ibu, pasti dia sedih melihat kalian terus-terusan seperti ini,'' tutur Yunan panjang lebar.


Jika dulu ia tak berani menasehati Cassandra karena tidak memiliki uang, tidak untuk sekarang. Ia akan tetap meminta sang istri untuk nurut padanya. Ia yang akan bertanggung jawab atas apa yang diminta Lolita dan tidak mempermasalahkannya lagi.