
Bab. 46
"Baik, apa keluhan yang Nona Adilla rasakan?" tanya seorang wanita berjilbab dengan senyum ramahnya.
Dilla yang duduk di depan dokter tersebut pun mengatakan keluhan yang dia rasakan secara tiba-tiba. Juga berkata kalau sebelumnya dia merasa sangat sehat.
Dokter tersebut mendengarkan keluhan pasiennya dengan sabar. Pun begitu dengan pria yang duduk di samping Dilla. Doa mendengar secara langsung apa yang terjadi pada Dilla.
"Apa kalian sepasang suami istri?" tanya dokter itu sebelum mengatakan analisisnya. Menatap Dilla serta Kendra secara bergantian.
"Buk—"
"Iya, Dokter!" potong Kendra cepat.
Di mana pria itu langsung mendapat tatapan begitu tajam dari Dilla. Namun Kendra balas dengan usapan lembut di punggung tangan Dilla yang sedang Kendra genggam di bawah sana.
Lagi dan lagi dokter itu tersenyum melihat tingkah mereka. Di mana sang pria terlihat sangat posesif pada istrinya.
"Kapan terakhir anda datang bulan, Nona Dilla?"
Pertanyaan dokter kali ini sedikit membuat Dilla bingung. Apa hubungannya antara sakit kepala yang dia dera dengan tamu bulanannya tersebut.
"Datang bulan?" ulang Dilla.
"Iya, Nona. Jika kalian sudah menikah, maka ini bisa menjadi salah satu kunci jawaban dari apa yang anda rasa saat ini. Bukankah tubuh anda sekarang ini terasa lemas?" tebak dokter tersebut yang memang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
Lebih lagi ketika Dilla membenarkan tebakan wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
"Ya sudah, agar lebih jelasnya silahkan anda berbaring di sana," tunjuk dokter wanita itu ke arah ranjang pasien.
Meskipun bingung dan sempat bertukar pandang dengan Kendra, namun Dilla tetap menuruti perintah dokter tersebut. Dengan di bantu perawat yang setia berdiri di samping dokter tadi, Dilla pun kini berbaring di sana.
"Sebenarnya sakit apa istri saya, Dok? Kenapa harus ada alat itu?" tanya Kendra tampak sekali khawatir.
"Makanya, Pak, saya periksa dulu. Bapak nanti bisa lihat sendiri hasilnya," ujar sang dokter.
Kemudian mulai melakukan pemeriksaan kepada Dilla. Bibir wanita paruh baya tersebut tersinggung ke atas. Sesuai dengan dugaannya jika pasiennya ini sedang hamil.
"Bagaimana, Dok?" tanya Kendra tak sabaran sama sekali. Sedangkan Dilla memutar mola matanya. Jengah melihat sikap Kendra yang sok peduli kepada dirinya.
"Selamat Pak, istri anda hamil dan usia kandungannya sudah tujuh minggu," ucap dokter itu tersenyum ramah.
Kendra menatap tidak percaya dengan mulut yang menganga. Untuk menjadi seorang ayah secepat ini, tidak pernah ada dalam bayangannya sedikit pun.
"Sa-saya hamil, Dok?" kali ini Dilla yang bertanya.
Ia sudah menduga dari awal kalau dirinya akan segera mendapat seorang anak, jika ia menjaga pola hidup sehat setelah melakukan hubungan penanaman bibit. Rupanya, calon anaknya ini sungguh hebat. Bisa menyelam sedalam dan berjuang sendiri tanpa memerlukan dukungan setelahnya. Hingga kini berhasil menjadi sebuah janin.
"Iya, Nona Adilla. Selamat," ujar dokter itu sembari membersihkan perut Dilla yang di olesi jel tadi.
Dilla segera bangun dari posisi berbaring nya tadi dan bersiap akan turun. Namun dengan segera Kendra memeluknya dengan sangat erat. Berucap terimakasih tanpa Dilla tahu maksudnya.
"Terimakasih, Sayang ... terimakasih," ujar Kendra di sela pelukannya.
Dilla yang sangat malu, berusaha mendorong tubuh Kendra agar berjarak dengannya.
"Jangan seperti ini," ingat Dilla dengan suara lirih.
Jika tidak sedang berada di ruangan dokter Atikah, mungkin Dillla sudah mendorong tubuh Kendra dengan sangat kuat.
Kendra tersadar dengan apa yang dia lakukan. Perlahan pria itu melepas pelukannya. Lalu mengecup sekilas kening Dilla.
"Terimakasih, sudah pertahanin dia," ujar Kendra dengan suara lirih serta mengunci tatapan Dilla. Seolah hanya ada mereka berdua di sini.