Hidden CEO

Hidden CEO
Berkumpul



''Ini benar rumah kamu, Yunan?'' Margareth masih tak percaya dengan apa yang dilihat di depannya. Sungguh, itu bukan sekedar rumah, namun sebuah istana megah yang didirikan oleh sebuah kerajaan.


''Iya, Bu. Ini rumah yang aku persembahkan untuk istri dan anakku. Imi akan menjadi tempat tinggal mereka dan juga anak-anakku nanti,'' terang Yunan sejujur-jujurnya. Sebab, saat ia membangun rumah itu niatnya memang untuk istri dan anaknya. Entah siapapun nanti yang akan menjadi pendamping hidupnya, tetap nama Cassandra yang ia sebut.


''Lebih baik kita masuk, di sini panas.'' Yuunan merangkul bahu Margareth dan mengajaknya masuk, sedangkan Cassandra dan Khalisa sudah berada di dalam lebih dulu.


Sebenarnya apa pekerjaan Yunan? Apa dia seorang mafia?


Menelan ludahnya dengan susah payah. Takut tiba-tiba saja menantunya itu adalah orang yang bekerja di dunia kegelapan.


''Oma,'' teriak Khalisa dari ruang tengah. Bocah itu terlihat kegirangan melihat banyak mainan yang sudah disediakan. Tidak hanya boneka, namun juga beberapa mainan lainnya tersedia di sana.


Margareth tersenyum dan menghampiri sang cucu, sementara Yunan langsung ke kamar mengikuti sang istri. Mereka berada dalam satu ruangan yang begitu menghimpit, seolah memberikan isyarat untuk melakukan yang lebih dari sekedar ciuman.


"Jangan, Kak. Masih ada ibu, lagi pula sebentar lagi Ibu dan ayah datang, kan?'' tolak Cassamdra. namun ia tetap memberikan ciuman di bibir.


Ia keluar lebih dulu, takut terjadi sesuatu yang lebih dan akan memakan waktu berjam-jam seperti yang mereka lakukan semalam. 


Beberapa menit terlewati semenjak Margareth datang, namun wanita itu masih terpaku, terpana dengan ornamen-ornamen yang sangat mewah dan elegan. Tak disangka menantunya adalah orang kaya. Tak seperti yang ia bayangkan dulu.


Apa Yunan memang sengaja menyembunyikan kekayaannya dariku? Lalu untuk apa? 


Apa jangan-jangan ini dari hasil pesugihan dan Cassandra serta Khalisa yang menjadi tumbalnya?


Ah, lama-lama Margareth jadi parno. Berpikir yang tidak-tidak tentang Yunan. Yang jelas ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Ini seperti sebuah mimpi. Ia yang selama ini menganggap Yunan orang miskin dan tak bisa membeli rumah, justru sebaliknya tidak hanya memberikan jumlah uang yang begitu besar kepada Lolita namun juga menyiapkan sebuah rumah mewah untuk putri dan juga cucunya. Bukankah itu adalah hal yang sedikit aneh bagi seorang Yunan Abimanyu?


''Ibu pasti bingung dari mana kak Yunan mendapatkan uang ?'' Tiba-tiba suara Cassandra dari arah belakang mengejutkan Margareth yang tenggelam dalam lamunan.


Wanita itu menoleh ke arah sang putri yang tampak baik-baik saja. Mungkin tidak berpikir curiga seperti dirinya.


''Dia adalah CEO di perusahaan ayahnya. Kak Yunan juga memiliki beberapa aset seperti perusahaan kosmetik, Villa, Resort, Hotel, dan masih banyak lagi, Bu. Dia tidak seperti yang Ibu bayangkan dulu. Dia adalah orang terpandang, dan sengaja menyembunyikan ini dari semua orang, termasuk kita,'' papar Cassandra.


"Apa alasannya? Kenapa dia menyembunyikan semua pekerjaannya itu dari kita?" tanya Margareth penasaran.


"Nukan apa-apa, Bu.'' Yunan yang menyahut, ia tidak ingin Ibu mertuanya juga salah paham.


Pintu depan dibuka membuat semua orang menoleh, termasuk Cassandra yang mulai sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Ternyata keluarga Erlan yang datang. Tidak hanya bersama Layin, tapi Laurent serta suami dan juga kakek Sastro pun ikut, dan itu membuat Margareth lebih terkejut lagi.


Betapa tidak, Sastro dan Erlan bukanlah orang asing. Mereka adalah orang terpandang yang beberapa kali menanam saham di perusahaan milik Margareth. Namun sayang, semenjak pesta waktu itu, hubungan mereka terputus. Entah apa masalahnya, tidak ads klarifikasi.


''Ibu jangan kaget, mereka adalah keluarganya Kak Yunan, kakek Sastro adalah kakeknya Kak Yunan, dan ayah Erlan adalah ayahnya Kak Yunan," terang Cassandra dengan suara pelan. Menggandeng tangan Margareth, menyambut kedatangan ibu mertuanya. 


Banyak pertanyaan yang muncul di benak Margareth, namun untuk saat ini ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya melihat pemandangan yang begitu hangat di matanya. Kedua kalinya ia bertemu dengan Layin setelah pernikahan Yunan dan Cassandra waktu itu. Meski statusnya mereka besan, mereka terlihat sangat tanggung. Apalagi banyak masalah yang sempat terjadi antara keduanya.


''Apa kabar, Ibu?'' Layin melayangkan pertanyaan lebih dulu. Memeluk Margareth yang masih tampak tercengang. Mungkin bingung dengan dirinya.


''Baik. Ibu sendiri bagaimana?'' tanya Margaret balik. Mencoba untuk terlihat tenang seperti yang lain. 


''Alhamdulillah, aku juga baik. Semoga kita diberi kesehatan sama Allah, bisa menimang cucu-cucu kita nanti. Kita hanya bisa berdoa demi kebahagiaan anak-anak kita,'' ucap Layin panjang lebar. 


Mereka semua duduk di ruang tengah saling bercengkrama santai. Sedangkan Yunan ke belakang menyusul sang istri yang tampak sibuk dengan dua asisten di rumahnya. Tanpa malu-malu ia mencium pipi wanita itu dengan lembut. Mencicipi kue yang baru saja diangkat dari oven.


''Lihatlah, Bi. Majikan kalian ini orangnya tidak sabaran,'' kata Casandra menggoda sang suami.


Kedua asisten itu hanya tersenyum melihat kelakuan majikannya. Bahkan, mereka pura-pura tidak melihat kemesraan sepasang suami istri itu. 


''Oh iya, kemarin aku beli sesuatu untuk kamu, Ibu dan Lauren. Aku lupa memberikannya, sepertinya masih ada di kamar. Sebentar aku ambil.'' Yunan pergi meninggalkan Cassandra dan pergi ke kamar. Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Kembali menghampiri Cassandra dan memberikan sebuah kotak perhiasan yang berukuran lumayan besar.


''Apa ini?'' tanya Cassandra pura-pura. Padahal, Ia pun sudah tahu bahwa itu adalah perhiasan. 


''Apa Bibi pernah melihat kucing ada di dalam kotak seperti ini?'' Mengangkat kotak beludru ke arah samping.


''Nggak pernah, Pak. Yang ada itu hanya berhiasan.'' Bibi menjawab sekenanya.


''Oh ya untuk Bibi juga ada kok, sebentar ya, biarkan aku memakaikan perhiasan ini untuk istriku dulu,'' izin Yunan. Lantas, ia meletakkan benda itu dan membukanya. Mengambil sebuah cincin dan menyelamatkan di Jari manis sang sitri. Kemudian memakaikan kalung di leher pula dan juga gelang. Membuka hijabnya dan memakaikan anting.


Mengubah penampilannya menjadi lebih sempurna meski anting itu tertutup oleh telinga, namun Yunan masih bisa menikmatinya saat di kamar, nanti.


''Terima kasih, Kak. Aku suka perhiasannya. Lain kali belikan yang lebih bagus lagi ya?'' canda Cassandra terkekeh.