
Bab. 57
Hati Kendra kian menciut di kala melihat tatapan pak Atmadja yang begitu datar ke arahnya. Bahkan pria itu terdiam beberapa menit setelah Kendra mengakui kalau dirinya lah yang menghamili Dilla. Meskipun hal tersebut bukan sepenuhnya, akan tetapi memang Kendra yang berinisiatif menyemprotkan bibitnya di ladang Dilla. Padahal sebelumnya wanita itu sudah mau selesai dengan urusannya. Di mana Dilla menganggap penanaman bibit bisa selesai begitu saja setelah miliknya berhasil melahap knalpot traktor milik Kendra.
"Emm ... silahkan kalau Papa mau marah sama saya. Tetapi saya tetap tidak akan mundur kalaupun Papa tidak merestui saya untuk menikahi Dilla. Karena di dalam kandungan Dilla, ada anak saya." tegas Kendra terlebih dulu sebelum mendapat amukan atau penolakan dari pria yang masih diam di hadapannya.
Sedangkan Biru sendiri merasa tidak nyaman berada di sana. Karena ini permasalahan pribadi antara Kendra dan juga pak Atmadja. Oleh sebab itu, Biru memilih untuk perlahan pergi. Membiarkan mereka berdua berbicara dengan tenang.
Sementara itu berbeda dengan pak Atmadja. Dia sama sekali tidak kaget dengan pengakuan Kendra yang telah menghamili putrinya. Karena sebelum ini pak Atmadja sudah melakukan penyelidikan.
Lagi pula, mana ada orang tua yang bersikap santai di saat mengetahui anaknya sudah menyerahkan keperawanannya pada seorang pria. Di tambah lagi akan janji Dilla yang segera memberikan dirinya seorang penerus.
Sudah pasti pak Atmadja bergerak cepat dan mendapati pria muda yang ada dihadapannya ini lah pelakunya. Bukan bukan. Mungkin bisa disebut sebagai korban. Karena pak Atmadja juga mendapat cctv yang ada di sekitar lokasi dan juga kamar hotel.
"Apa kamu yakin?"
Itulah kalimat pertanyaan yang muncul pertama kali dari mulut pak Atmadja setelah sekian menit mengunci mulutnya.
Kendra langsung mengerjakan mata. Tidak menyangka jika pria paruh baya yang ada di hadapannya ini menyetujuinya.
"Saya yakin, Pa. Saya bisa meyakinkan Dilla agar mau menikah dengan saya. Asal Papa mau membantu Kendra sedikit," sahut Kendra yang tidak ajan membuang kesempatan ini. Ini benar-benar kesempatan emas baginya.
Mendapat restu dengan begitu mudahnya tanpa melalui sidang yang sangat rumit dari calon mertuanya, juga tidak mendapat penolakan serta tonjolan dari orang yang selama ini sudah membesarkan Dilla.
Cukup dengan kalimat tersebut membuat Kendra penuh semangat saat ini. Percakapan antara dirinya dan pak Atmadja tidak hanya selesai atas hasil final dari kerja sama mereka tentang bisnis. Tetapi juga kerja sama mereka dalam menjebak Dilla ke dalam pernikahan yang sedang direncanakan oleh Kendra.
Rencana itu pun langsung Kendra laksanakan. Karena ia tidak ingin nanti Dilla menjadi bahan omongan oleh masyarakat karena hamil di luar nikah. Di tambah lagi dia berasal dari keluarga yang terpandang.
Seperti biasa, di saat jam makan siang Kendra mendapat pesan dari Dilla. Bibirnya tertarik ke atas ketika wanita itu mengatakan kalau sedang menginginkan makanan yang tidak bisa ditemui di restoran-restoran, tepat biasa Dilla makan. Bahkan di sekitar kampus wanita itu pun juga belum tentu ada.
Sweety
Papinya Dedek ... Dedeknya pingin rujak cingur, nih! Tolong belikan cepet, ya! Aku tunggu di kampus sekarang juga. Jangan lama. Cuaca panas. Nanti Dedeknya meleleh.
"Di sangka es krim kali ya," gumam Kendra setelah membaca pesan dari Dilla.
Pria itu menggeleng kepala sembari menarik sudut bibirnya ke atas. Jika ada maunya, Dilla memang bersikap sangat manis agar apa yang dia inginkan selalu Kendra berikan.
Kendra
Ada syaratnya.
Kendra tersenyum menyeringai setelah mengirim pesan tersebut kepada Dilla. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Dilla dan menantikan hal itu.