
Bab. 48
"Nggak! Aku nggak mau nikah sama siapapun!" tolak Dilla dengan suara yang gemetar, tatapannya pun tampak penuh rasa benci kepada sosok pria yabg ada di depannya.
"Tapi gimana nasib anak kita nanti, Dilla? Dia juga butuh sosok orang tua yang lengkap," ujar Kendra mencoba membujuk wanita keras kepala ini. "Di tambah lagi pas perutmu besar nanti. Apa kata orang-orang terhadapmu? Bagaimana pandangan mereka?"
"Aku nggak peduli!" sahut Dilla masih dengan nada tak terima. "Itulah sebabnya aku memutuskan untuk membeli bibit pria yang menurutku cocok, dan itu jatuh kepada dirimu, daripada aku harus terikat dengan sebuah pernikahan. Kamu kira, alu tidak mempertimbangkan semua? Hmm? Kalau memang kamu berpikir, mungkin aku sudah memilih tawaran papaku yang akan menikahkan diriku demi sebuah keturunan. Tapi pandanganku terhadap pernikahan sama sekali tidak sama dengan wanita-wanita kebanyakan di luar sana. Oleh karena itu, aku lebih memilih hal yang di anggap sebagian orang itu gila. Tapi menurutku tidak sama sekali." jelas Dilla panjang lebar.
Wanita itu mengatur napasnya untuk tidak terpancing emosi. Karena tersadar jika di perutnya sekarang ini ada kehidupan baru yang harus ia jaga. Janin yang sudah Dilla tunggu-tunggu selama ini.
Kendra terperangah mendengar ucapan Dilla barusan. Ia memang tahu kalau cara berpikiran wanita ini sangatlah berbeda. Akan tetapi tidak menyangka jika benar-benar sangat melenceng.
"Kamu cuma memikirkan dirimu sendiri, Dilla. Berpikir bebas dari permasalahanmu dengan mempunyai anak tanpa menikah. Tapi, apa kamu berpikir tentang perasaan anak itu nantinya?" tanya Kendra berusaha menyadarkan Dilla.
Kendra tidak tahu apa penyebab wanita ini sangat membenci sebuah pernikahan. Namun, ia juga tidak mau kalau sampai anaknya nanti mendapat perundungan dari sekitarnya.
Dilla terdiam. Dia memang pernah memikirkan hal ini, namun segera ia hempas.
"Aku punya segalanya. Dia nggak akan kekurangan apapun. Aku bisa memberikan apa yang dia mau. Tenang saja, aku juga nggak akan halangin dia kalau seandainya nanti dia pingin bertemu dengan ayahnya. Bapak tenang saja." tegas Dilla seperti tak punya hati sama sekali.
Kendra mengepalkan tangannya di atas setir. Menang geram kepada wanita yang duduk di samping kemudi. Andai saja wanita ini tidak dalam keadaan hamil muda, mungkin Kendra benar-benar akan mengurungnya tanpa melepas Dilla satu langkah pun.
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Kendra lagi.
Lebih baik ia mundur untuk sekarang. Menghadapi wanita keras kepala, tidak harus dengan emosi dan paksaan demi mendapat hatinya. Melainkan harus bermain lembut.
Kendra tampak berpikir sejenak, lalu menatap lekat mata Dilla yang menyiratkan kebencian di saat dirinya mengunggah topik sebuah pernikahan.
"Apa yang membuatmu nggak mau nikah?" tanya Kendra sangat penasaran.
"Ribet!"
"Lebih jelasnya lagi, Dilla. Punya anak pun nanti juga akan ribet. Karena harus gantiin popok, menyusuui di saat tengah malam, dan masih banyak lagi," jelas Kendra yang masih menginginkan jawaban yang paling tepat dari Dilla.
Dilla tidak keberatan dengan itu. Ia akan menikmatinya dan hidup bahagia bersama sang buah hati tanpa merasa ditekan.
"Buat apa menikah jika ujungnya cerai kalau udah bosan?" ini bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan. "Ck! Nggak konsisten banget hidupnya," decak Dilla kemudian.
Kendra dapat melihat luka yang begitu dalam di sorot mata Dilla. Mungkin, wanita itu membenci perceraian. Oleh karena itu dia tidak suka dengan hubungan pernikahan.
"Oke, kalau itu maumu. Aku turuti," ujar Kendra kemudian. Dia sudah mengerti kondisi Dilla saat ini.
Dilla menoleh tak percaya. "Bapak nggak akan meminta anak ini, kan?" tanya Dilla mengantisipasi masalah di kemudian hari.
Kendra menggeleng. "Enggak," jawabnya. Membuat Dilla bernapas lega. Itu artinya masalah mereka selesai di sini.
'Karena aku nggak akan meminta anak itu saja. Tetapi sekalian kamunya juga, Dilla. Lihat saja apa yang akan kulakuin hingga kamu nggak akan bisa mengelak dari takdir yang sudah dituliskan untuk kita berdua.' lanjut Kendra di dalam hati.