Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 43. Begitu Khawatir



Bab. 43


"Pak, Pak Kendra," panggil seseorang yang sudah memanggil beberapa kali pria yang ada di hadapannya sekarang ini.


Sampai-sampai orang yang memanggil nama Kendra tersebut menyentuh lengan Kendra.


"Ah, iya. Sampai di mana kita tadi?" tanya Kendra terkesiap kaget.


Sementara orang yang memanggilnya tadi menatap bingung.


"Apa Pak Kendra baik-baik saja?" tanya orang itu. "Haruskah meeting ini kita undur saja?" tawar orang itu lagi.


Kendra yang samar-samar mendengar suara seseorang yang tengah membicarakan wanita yang sangat ia rindukan pun membuat fokusnya terbagi. Tentu saja lebih cenderung ke arah suara seseorang yang sedang bercerita tersebut.


Kendra menggeleng. "Tidak perlu Pak Burhan. Sampai di mana kita tadi?" tanya Kendra yang memilih menahan rasa inginnya dan memilih untuk melanjutkan apa yang sedang mereka bahas.


Kemudian pria yang bernama Burhan tersebut melanjutkan gagasan yang sedang mereka bahas.


Meskipun meeting dilanjut, tetap saja fokus dan pikiran Kendra tidak bisa sama lagi. Kendra ingin tahu keadaan Dilla seperti apa. Kenapa bisa wanita itu sampai muntah dan pucat, seperti apa yang diceritakan oleh wanita yang Kendra tahu teman dekat Dilla.


Tentu saja, pak Burhan menyadari perubahan sikap Kendra. Lalu pria itu menyenggol pria yang berada di sebelah Kendra.


"Bagaimana? Apa bisa kita lanjut dengan keadaan seperti ini?" tanya pak Burhan kepada asisten Kendra, yakni Biru.


Biru menghela napas. Alamat dirinya yang bakalan repot jika Kendra seperti ini.


"Sebentar, Pak Burhan. Saya pastikan terlebih dulu," sahut Biru merasa tidak enak.


Lalu Biru menyenggol Kendra yang tampak menatap kosong gelas berisikan kopi di depannya.


"Lo kenapa, Kend?" tanya Biru dengan nada lirih. Seraya mendekat ke arah Kendra.


Kendra menggeleng. "Pikiran gue sedang kacau, Bi."


"Kita kesampingkan dulu perasaan lo. Selesaikan dulu yang ada di depan lo sekarang ini," ujar Biru mengingatkan Kendra untuk kembali bersikap profesional di sini. Lebih lagi pria itu yang menjadi penentu dari pertemuan tersebut.


Kendra mencoba untuk fokus. Namun, bayangan Dilla yang tidak-tidak melintas begitu saja. Lebih lagi sudah satu minggu dirinya tidak bertemu dengan wanita itu. Tentu saja karena kesibukannya di kantor setelah ia tinggal beberapa minggu untuk menggantikan mamanya mengajar.


"Lo yang beresin, Bi. Gue percaya sama lo," ujar Kendra tiba-tiba. Dia tidak bisa berdiam dan bersantai di sini. Sedangkan mungkin keadaan Dilla di sana dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Hah? Maksud, lo?" tanya Biru.


Sementara Kendra sudah mengemas barangnya. Kecuali berkas yang memang tugas Biru untuk membereskan.


"Ada urusan yang lebih penting dari ini," sahut Kendra yang berlalu begitu saja tanpa memberi alasan yang tepat. Membuat Biru dan pak Burhan menatap heran.


Rupanya, Kendra tidak langsung keluar begitu saja. Pria itu berjalan menuju meja di mana ada Amira dan teman-teman Dilla yang lain.


"Amira, di mana Dilla sekarang?" tanya Kendra dengan raut yang sangat khawatir.


Membuat Amira, Alex, dan Joana pun tampak bingung dengan sikap Kendra. Pun mereka lebih terkejut dengan keberadaan pria ini yang ada di depan mereka sekarang.


"Ah, dia pulang naik taxi, Pak Dopen," sahut Alex dengan nada begitu riang. Sebab Amira dan Joana tampak shock dengan kedatangan Kendra.


Jika Amira shock kenapa si dopen itu ada di sini, lain hal dengan Joana. Ini kali pertama mereka bertemu dan wanita hamil tersebut langsung terpesona dengan sosok pria yang sedang menanyakan Dilla.


"Dia bilang katanya pusing, terus tadi habis mual. Makanya nggak ikut kami ke sini. Mobilnya ada sama saya," jelas Amira tidak ingin ada kesalahpahaman di sini. Sebab, ia tahu hubungan Dilla dan Kendra yang sebenarnya.


Kendra mengangguk lalu berucap terimakasih. Setelah itu Kendra benar-benar menuju keluar dan mengambil mobilnya.


"Kamu kenapa sih, Dill? Jangan bikin aku berpikir yang tidak-tidak," gumam Kendra sesaat setelah melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang tidak sebegitu ramai. Karena masih jam kantor.


Kendra berulang kali mencoba untuk menghubungi Dilla, namun tidak ada jawaban sama sekali. Membuat pria itu semakin frustasi dengan segala prasangka di kepalanya.