
Ruangan kian memanas ketika Yunan berhasil menyalurkan hasratnya yang membuncah. Rasa nikmat itu tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Terlalu indah dan manis diungkapkan.
Setelah bertahun-tahun lamanya memendam rasa yang bergejolak, akhirnya sekarang mereka bisa mencurahkan semua itu dengan orang yang sangat dicintai.
Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh polos Yunan dan Cassandra yang masih tenggelam dalam alunan kenikmatan yang tiada tara. Paduan cinta dan rindu terhubung menjadi satu tujuan.
Hampir 30 menit berlalu, akhirnya pergulatan itu usai meninggalkan sisa-sisa kenikmatan. Kini keduanya saling mengatur nafas yang tersengal. Yunan melepas sarung yang dipakainya dan membungkus dengan rapi.
Kemudian, membaringkan tubuhnya di sisi Cassandra. Memeluk tubuh polos sang istri yang masih dipenuhi dengan keringat. Ucapan terima kasih meluncur bersamaan dengan ciuman lembut di pipi.
"Di mana Khalisa? Bagaimana kalau dia mencari kita?" Cassandra terlihat cemas saat mengingat putri kecilnya belum juga datang.
"Jangan khawatir, aku sudah menyuruh semua penjaga untuk mengunci akses keluar. Dia pasti aman bersama orang-orang di sini," jawab Yunan meyakinkan. Ia tidak ingin istrinya gelisah dengan keadaan putrinya yang kini memang sudah saatnya mandiri.
"Berapa hari kamu pergi ke luar kota?" tanya Cassandra mengalihkan pembicaraan.
''Mungkin tiga hari, tapi aku akan berusaha cepat pulang. Aku nggak mungkin bisa ninggalin kamu dan Khalisa lama-lama, jangan pernah pergi lagi dariku. Aku sangat mencintaimu." Mengusap lembut bibir Cassandra dengan ujung jarinya. Menatap intens wajah lelah sang istri akibat ulahnya.
"Apa aku boleh meminta satu permintaan darimu?" Cassandra menoleh.
Sebenarnya ia sudah lama ingin meminta ini, akan tetapi tidak ada waktu yang tepat dan hubungan mereka terlanjur rumit.
"Apa?" tanya Yunan penasaran. Cassandra tidak akan meminta sesuatu kecuali hal yang sangat penting.
"Kesetiaan, aku hanya minta itu dari kamu. Apa pun keadaan kita nanti, serumit apa pun masalah yang akan kita hadapi, aku ingin kamu tetap setia padaku," ucap Cassandra dari hati.
Yunan mengangguk tanpa suara. Menggenggam jemari Cassandra dan meletakkan di dadanya hingga merasakan detak jantung yang masih memburu.
"Aku akan membuktikan kesetiaanku padamu. Jangan khawatir, tidak ada yang terpenting di dunia ini selain kamu dan Khalisa. Kalian adalah belahan jiwaku, separuh nyawaku yang pernah hilang. Aku berharap setelah kontrak pekerjaanmu selesai nanti, kita bisa menjalani rumah tangga yang sesungguhnya."
Andara mengangguk.
Di luar ruangan
Liliana semakin panik karena Yunan belum juga nampak. Sementara waktu terus berputar. Hanya sisa tiga jam lagi mereka untuk menyelesaikan tugasnya sebelum pergi ke luar kota, sedangkan semua map menumpuk. Satu pun belum ada yang mendapat tanda tangan dari sang Bos.
"Bagaimana ini? Apa aku telepon Pak Yunan saja ya, tapi bagaimana kalau dia marah?" Liliana berdecak kesal.
Mana mungkin ia berani menelpon Yunan, sementara di dalam ruangan ada istrinya, diyakini mereka tidak hanya saling bekerja, namun ada hal lain dan tidak perlu diketahui orang lain. Terbukti beberapa kali beberapa kali mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam sepertinya Yunan memang tidak mendengar panggilan darinya.
Terpaksa Liliana mencari jalan lain, ia mengambil ponsel dari saku celana kemudian menempelkan di telinga.
Tersambung, namun tidak terjawab.
Hari ini Yunan benar-benar mengabaikan pekerjaannya. Entahlah apa yang mereka lakukan, yang pasti Liliana tidak berani mengganggunya.
"Bagaimana kalau pak Yunan nanti terlambat? Aku bisa dimarahin.'' Liliana semakin takut.
Di mana bu Cassandra?
Mata Liliana menyusuri ruangan, tidak ada tanda-tanda ibu bos di sana. Tas, sepatu, semuanya tidak ada di ruangan itu.
Pasti bu Cassandra berada di kamar.
"Kamu cari apa, Liliana?" tanya Yunan menyelidik.
Ternyata ia menyadari bahwa Liliana sedang mencari sesuatu.
"Maaf, Pak. Bukan apa-apa, cuma auranya ada yang beda saja." Liliana meletakkan map-map itu di meja. Memberitahu Yunan bahwa sebentar lagi mereka akan segera berangkat.
Ada-ada saja.
Belum selesai menjelaskan, Cassandra keluar dari kamar. Sama seperti Yunan, wanita itu juga terlihat cantik dengan gaun yang berbeda. Cassandra menyapa dan tersenyum ke arah Liliana. Ia duduk di sofa merapikan penampilannya sesekali melirik ke arah Yunan yang senyum-senyum kecil.
Rntah apa yang dipikiran pria itu, sepertinya memang sangat bahagia.
"Maaf Liliana, sepertinya nanti aku nggak jadi pergi sama kamu. Aku akan pergi sama Rudi saja, jangan salah paham dulu. Sebenarnya aku lebih suka sama kamu, tapi kantor ini sangat membutuhkan tenaga yang baik, Rudi belum terlalu lihai untuk memegang semua ini. Kamu bisa, kan? "ucap Yunan menjelaskan.
"Baik, Pak," jawab Liliana santai. Setelah mengetahui Yunan sudah menikah, sebenarnya ia pun sungkan jalan dengan pria itu. Apalagi ke luar kota dan hanya berdua, takut terjadi kesalahpahaman antara suami istri yang baru bertemu. Meski hati kecilnya kecewa karena tidak jadi pergi, biarlah yang terpenting Ia tetap menjadi orang kepercayaan di tempat itu.
Setelah mendapatkan tanda tangan dari Yunan, Liliana keluar. Tak lama kemudian Khalisa masuk ditemani dua orang yang membawa banyak mainan. Terlihat jelas putrinya itu sangat bahagia berada di kantor.
"Dari mana saja, Nak? Kok baru balik sih?" tanya Yunan pura-pura cemas. Padahal, dalam hatinya sangat bersyukur karena bocah itu tidak mengganggu ritual siangnya tadi.
"Beli mainan ini." Menunjukkan boneka Barbie yang ada di tangan karyawannya.
"Baiklah, sekarang kita jalan yuk! Mumpung ayah masih di rumah. Nanti malam Khalisa nggak boleh rewel ya. Tidurnya sama bunda dan oma, oke?"
Mengangkat jempolnya.
Khalisa pun ikut mengangkat jempolnya seperti yang dilakukan Yunan.
Waktu satu jam Yunan pergunakan sebaik mungkin. Ia mengajak anak dan istrinya jalan-jalan menikmati indahnya pemandangan, dan membelikan mereka sesuatu yang diinginkan. Memberikan kebahagiaan yang selama ini memang belum pernah didapatkan.
"Sayang, ini ada beberapa kartu milikku, kalau kamu ingin belanja, belanja saja. Pin-nya tanggal pernikahan kita, tanggal lahir kamu, dan juga tanggal lahir aku." Memberikan tiga kartu untuk Cassandra.
"Gak usah, ini terlalu banyak, aku sudah punya uang untuk belanja." Menunjukkan kartunya sendiri.
"Aku pernah dengar tausiyah dari Ustadz, bahwa uang istri adalah uang istri, dan uang suami adalah uang istri juga, jadi kamu simpan saja uang dari hasil kerja kamu. Sekarang kamu, Khalisa dan ibu adalah tanggung jawabku. Kalian nggak boleh mengeluarkan uang sepeser pun untuk kebutuhan hidup. Yakinlah aku bisa membelikan apa pun yang kalian minta."
Cassandra terharu dengan ungkapan Yunan. Air matanya lolos begitu saja mendengar ucapan sang suami. Tak disangka, pria itu begitu baik dan perhatian.
Mungkin dulu rasa cinta itu sudah hadir, namun Cassandra tak begitu menyadarinya. Selain miskin dan tak dianggap, Yunan juga tidak terlalu mempertahankan haknya sebagai suami, itulah yang membuat hubungan mereka goyah.