Hidden CEO

Hidden CEO
Pesta



Margareth, Lolita dan Aldo datang lebih dulu. Mereka langsung masuk menghampiri Cassandra dan Yunan.


Sepasang suami istri itu terlihat sibuk mengatur Khalisa yang sangat rewel. Entah kenapa, pagi ini putri kecilnya tidak mau diam, bahkan tidak mau mandi dan memakai baju. Ada aja tingkahnya yang menarik perhatian orang lain.


Beberapa tamu mulai berdatangan menyusul, namun Khalisa belum bersiap, masih sibuk berkeliaran di ruangan depan.


''Nanti kalau kamu seperti ini, bau, tamunya pada lari. Nggak ada yang mau ngerayain ulang tahun kamu bagaimana? Hayo...'' Lolita menakut-nakuti Khalisa.


Aldo pun menggoda sesepunya dengan menutup mata.


Mengulurkan tangannya, menggendong sang keponakan lalu membawanya ke kamar. Tanpa kata, Lolita melucuti baju bocah itu dan membawanya ke kamar mandi. Tidak begitu sulit baginya.


''Ternyata Kakak pintar mandiin anak, aku aja masih kerepotan. Hampir setiap hari Lila yang mandiin.'' Cassandra jadi geram dengan diri sendiri yang tidak becus mengurus anaknya dan masih butuh seseorang.


''Nggak pintar juga sih, sekedar bisa." Memasukkan sabun cair ke dalam bak mandi.


''Kamu masih kerja seperti dulu?'' tanya Lolita.


''Ya. Sebenarnya kak Yunan juga melarang, tapi aku masih terikat dengan beberapa kontrak, jadi aku lanjutin saja. Kemarin ada yang gagal juga karena aku ikut ke Singapura. Semoga yang lain nggak gagal juga, kasihan kak Yunan harus membayar banyak penalti.''


Lolita menghembuskan nafas kasar. Menyesal karena selama ini terlalu manut kepada suaminya. Hidupnya terlalu tergantung pada Novan, bahkan ia tidak pernah bekerja. Sebenarnya iri dengan Cassandra yang bisa menghidupi anaknya selama 5 tahun seorang diri.


''Kayaknya aku juga harus cari kerja, kasihan Aldo. Sebentar lagi dia masuk sekolah dan butuh biaya banyak," pungkas Lolita.


''Jangan khawatir dengan pendidikan Aldo, Kak. Aku yang akan membiayainya," sahut Yunan dari arah pintu. Tentu saja pria itu tidak begitu keberatan jika harus menghidupi Lolita dan anaknya.


''Tidak, Yunan. Aku akan tetap bekerja untuk Aldo. Dia harus mendapatkan pendidikan yang baik, dan aku akan segera mengurus perceraian dengan mas Novan secepatnya.''


Yunan dan Cassandra hanya bisa mendukung Lolita dari belakang. Mengingat masalah rumah tangga kakaknya yang sangat rumit, sepertinya tidak bisa dipersatukan lagi. Apalagi kesalahan yang dilakukan Novan memang sangat fatal dan sulit dimaafkan.


Bak princess dari negeri dongeng, itulah Khalisa. Gadis kecil itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink juga mahkota di bagian kepala menyempurnakan kecantikannya. Wajahnya yang imut serta senyumnya yang begitu manis membuat semua orang mengaguminya.


''Jangan centil-centil, Nak. Masih kecil, nanti di godain cowok tuh.'' Yunan menyungutkan kepalanya ke arah beberapa anak laki-laki yang sudah hadir di acara ulang tahun putrinya.


''Nggak pa-pa, Yah. Bunda juga nggak ngelarang, yang penting aku jaga diri kalau disentuh baru nggak boleh,'' ucap Khalisa seperti yang sering dikatakan oleh Cassandra.


"Iya Iya, ayah tahu.'' Yunan mengalah.


Merapikan penampilannya di depan cermin. Berdiri di samping Khalisa, kemudian disusul Cassandra yang berdiri di sampingnya. Mereka saling melihat bayangan dari pantulan cermin, sangat serasi.


''Sudah sempurna, kita keluar yuk! Semua tamu sudah nunggu tuh,'' ajak Yunan.


Mereka keluar dari kamar menghampiri beberapa tamu undangan yang sudah hadir serta keluarga. Sama seperti Khalisa, Cassandra pun mengenakan gaun yang berwarna pink serta hijab yang senada. Wanita itu sangat cantik, itulah kenapa cinta Yunan tak pernah berpaling.


''Ini Bunda dan Ayahnya Khalisa?'' tanya salah satu warga yang diundang, tentu saja mereka belum tahu tentang sosok Yunan dan Cassandra yang jarang datang ke villa itu, bahkan belum pernah.


''Iya, Bu. Ini ayahnya Khalisa.'' Menunjuk Yunan, "dan saya Bundanya Khalisa." Cassandra memperkenalkan diri dengan ramah.


''Pantesan anaknya cantik, bunda dan ayahnya juga cantik dan tampan," puji mereka.


Cassandra hanya menanggapi dengan senyum. Tak sedikit mereka yang memuji keanggunannya.


Satu persatu tamu yang datang mulai memenuhi ruangan. Mereka mencari tempat duduk masing-masing. Pun dengan anak Panti yang sudah disiapkan tempat duduknya.


Warga sekirtar, karyawan kantor serta sanak saudara, hampir semuanya mereka hadir, hanya ada beberapa yang tidak bisa datang. Mereka bukan karena malas, tapi karena ada pekerjaan yang memang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan.


''Sepertinya sudah datang semua, Kak? Kita masuk yuk. Acaranya sudah hampir dimulai,'' ajak Cassandra dan menunjukkan jam di pergelangan tangannya.


Baru saja berbalik badan, sebuah mobil masuk dari arah gerbang. Yunan dan Cassandra saling tatap, kemudian mereka menatap seorang pria yang baru saja turun dari mobil itu.


''Ilham,'' teriak Yunan diiringi dengan senyum. Tak lama kemudian pintu sebelah kiri pun terbuka, nampak perempuan cantik sambil menggendong anak juga turun. Wajahnya memang tak asing membuat Cassandra berjalan mundur, namun seketika Yunan meraih tangannya dan menggenggamnya erat


Humaira, Apa kak Yunan sengaja mengundang mereka untuk menyakitiku.


''Jangan pernah takut, aku tidak akan memandang wanita lain. Humaira hanya masa lalu yang hadir di tengah rumah tangga kita. Masa yang tidak akan pernah terulang lagi, aku tidak pernah mencintainya. Mungkin waktu itu aku hanya mengagumi saja seperti orang-orang mengagumi kamu. Percaya padaku, Sayang."


Cassandra berusaha percaya. Meski saat melihat Humaira teringat dengan masa lalu pahit itu, namun ia harus melihat yang sekarang. Yunan adalah miliknya dan Humaira adalah milik dari pria lain yaitu Ilham.


Artinya, mereka memang tidak berjodoh, dan tidak saling mencintai. Jika Yunan memang saat itu mencintai Humaira, pasti dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Tapi apa, pria itu tetap mundur dan memilih dirinya bahkan sanggup menunggu hingga 5 tahun.


Ilham dan Humaira tersenyum. Mereka berjalan ke arahnya. Saling memeluk seolah memang tidak tidak pernah ada masalah apa pun.


''Apa kabar?'' Cassandra bertanya lebih dulu.


''Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana?'' Humaira balik tanya.


''Aku juga baik kok, lama sekali kita tidak bertemu ya. Kita masuk saja, sepertinya acara akan segera dimulai.''


Mereka masuk ke dalam. Sesekali Yunan nelirik Cassandra. Ingin sekali memeluk dan memikul bebannya, entah apa yang ada di pikirannya yang pasti ia merasa tak enak sudah membuatnya bertemu dengan Humaira.


''Aku mencintaimu, jangan pernah berpikir apa pun yang menyangkut tentang masa lalu kita,'' pinta Yunan berbisik.


Cassandra mencoba untuk tersenyum dan mengusir semua rasa resah yang ada dalam hati. Yakin suaminya itu hanya mencintainya, bukan wanita lain.