
Kandungan Cassandra dinyatakan baik-baik saja oleh dokter Farha. Dokter yang ditunjuk Yunan untuk menangani kehamilan istrinya. Namun belum bisa diprediksi jenis kelaminnya karena baru menginjak tiga bulan. Kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua bisa menyaksikan setiap perkembangan janin, terutama Yunan yang baru pertama kali benar-benar merasakan menjadi seorang ayah. Ia sangat bahagia dengan kabar itu. Tak henti-hentinya mengusap lembut perut sang istri.
''Terima kasih, Dokter.'' Cassandra mengulurkan tangannya yang langsung diterima dokter cantik itu.
''Sama-sama. Semoga selalu sehat sampai melahirkan.'' Ucapan bernada doa itu diamini Yunan dan Cassandra.
Setelah dari rumah sakit, Yunan mengajak anak-anak jalan-jalan dan berbelanja. Membeli mainan dan baju. Makan di restoran mewah dan berkelas. Membelikan hadiah untuk semua orang di rumah dan memenuhi semua keinginan sang istri yang memang banyak maunya.
''Setelah ini kita ke rumah ibu dulu ya,'' pinta Cassandra manja.
Yunan mengangkat jempol tanda setuju. Apa pun yang diinginkan pasti akan dipenuhi. Kembali melajukan mobilnya menuju rumah Margareth.
''Oh ya, Kak. Bagaimana dengan perusahaan kak Novan yang katanya minta bantuan darimu?'' tanya Cassandra di tengah candanya.
''Tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk membantunya. Sepertinya sekarang usaha kak Novan juga sudah mulai berkembang. Nanti aku tanya pada manajer dulu,'' jawab Yunan santai.
Cassandra tersenyum. Beruntung memiliki suami yang baik seperti Yunan. Tak disangka, pria yang dulu dihina dan direndahkan kekuarganya justru menjadi penolong bagi semua orang. Tak membedakan dan tak pilih kasih.
''Kalau bisa menginap di ruah ibu ya, Kak. Aku kangen sama ibu.'' Lagi-lagi permintaan Cassandra langsung disetujui oleh Yunan.
Di mana saja tidak masalah asalkan dengan istri dan anak tercinta. Begitulah menurut Yunan.
Tanpa disadari, mobil berhenti di depan rumah Margareth.
Akram dan Khalisa turun lebih dulu. Mereka berlari menghampiri Margareth yang sibuk menyiram bunga di taman, sedangkan Yunan menyusul sambil menuntun Cassandra.
''Sebentar lagi aku punnya adik, Oma,'' lapor Klalisa dengan polos.
Melihat Yunan datang, Margareth bergegas mematikan kran air. Mengelap tangannya yang basah. Berfokus pada sang cucu yang tampak ceria.
''Mana?" tanya Margareth pura-pura tidak tahu.
''Masih ada di perut bunda. Kata dokter lahirnya masih lama.'' Menunjuk perut Cassandra.
Margareth manggut-manggut mengerti. Menyuruh bibi untuk segera menjaga kedua cucunya bermain. Menghampiri Yunan dan Cassandra dan menyuruh mereka masuk ke dalam.
Baru saja melangkah masuk, Cassandra dan Yunan dikejutkan dengan keberadaan Novan. Pria itu tampak sibuk dengan laptopnya, bahkan tak menyadari kedatangan mereka.
''Ngapain kak Novan di sini, Bu? Apa kak Lolita sudah menerimanya?" tanya Cassandra berbisik.
Margareth berdecak dan menggeleng. Masih kesal dengan sikap Novan, namun ia juga sudah lelah mengusir pria itu. Betapa tidak, siang malam ia mencoba menghalanginya masuk, namun tidak ada hasil. Novan berulang kali menculik Lolita dan itu membuat Margareth akhirnya luluh dan menerimanya.
''Biasa, ngajakin kakakmu pulang, tapi belum mau,'' jawab Margareth sinis.
''Kak Lolita sendiri bagaimana? Apa dia sudah mau menerima kak Novan?" Cassandra semakin penasaran.
Margareth mengangkat kedua bahunya, belum tahu. Tapi sejauh ini mereka memang belum tidur sekamar. Novan tetap tidur di kamar tamu, sedangkan Lolita tidur dengan Aldo.
Di tengah sibuknya berbincang, Novan menoleh dan tersenyum. Ia
Segera berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Cassandra dan Yunan. Menanyakan tentang kabar mereka yang tampak baik.
''Baik, Kak,'' jawab Cassandra tanpa senyum.
''Ah, sekarang kakak makin cantik saja sih,'' puji Cassandra menghampiri Lolita yang berjalan menyusuri tangga. Saling memeluk dan tersenyum lalu berbisik.
Seketika Novan menoleh menatap sang istri yang memang berpenampilan berbeda. Wanita itu terlihat lebih cantik dengan balutan gamis panjang. Meski belum berhijab, namun sudah mulai berhijrah mengikuti sang adik.
''Biasa saja sih, kamu bahkan lebih cantik, pantas saja sekarang Yunan semakin lengket.'' Melirik Novan yang sejak tadi pagi ini belum disapa.
Tak dapat dipungkiri, Yunan memang tak bisa jauh dari Cassandra. Satu jam saja berpisah, pasti ia sudah merasakan rindu berat.
Lolita berjalan lenggang melewati tubuh tegap tinggi sang suami dan berbincang renyah dengan Yunan. Memamerkan kedekatannya dengan sang adik ipar.
Tidak apa bagi Novan, ia sudah terbiasa diabaikan seperti saat ini. Yang penting diizinkan tinggal serumah sudah membuatnya bahagia.
''Hari ini Kakak gak kerja?'' tanya Cassandra mengalihkan pembicaraan.
Mendengar kata kerja membuat Novan teringat dengan rapat pentingnya. Ia kembali duduk di tempat semula. Sibuk dengan laptopnya, dengan begitu ia sedikit lupa dengan rasa kecewanya.
''Aldo di mana, Kak?" Cassandra celingukan mencari keberadaan sang keponakan.
''Dia nginap di rumah kakeknya, katanya hari ini mau jalan-jalan ke Singapura,'' jawab Lolita seperti yang dikatakan Ratri kemarin.
Sebenarnya banyak waktu luang bagi Novan untuk mengambil hati Lolita, namun pria itu kehabisan akal untuk merayu wanita tersebut. Jangankan untuk berbicara, mendekati saja dilarang.
Apa aku gunakan cara yang ekstrim saja ya. Otak Novan mulai berputar mencari cara untuk menaklukan hati sang istri. Tidak ingin kalah dengan Yunan yang begitu mudahnya meluluhkan hati mertuanya.
Pura-pura sibuk, namun sebenarnya tetap memperhatikan setiap gerak-gerik Lolita.
Sebentar HP ku ketinggalan di kamar. Lolita bangkit dan kembali ke kamar
Kesempatan yang bagus bagi Novan, pria itu pun cepat-cepat menyusul sang istri. Agak jauh, takut kedatangannya diketahui. Setelah Lolita masuk, Novan pun membuka pintu dan mengunci pintunya.
Sontak, itu membuat Lolita terkejut. Pergerakannya tercekat saat kaki Novan terus melangkah mendekatinya. Bersandar di lemari, berharap suaminya itu tidak khilaf seperti dulu.
''Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu.''
Bukan hal yang tabu jika Novan meminta hak. Namun, Lolita sedikit gugup menghadapi suaminya. Pasalnya, sudah lama mereka pisah ranjang dan tak melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.
''Apa aku begitu menakutkan bagimu?'' mengulurkan tangan kiri dan kanannya, memenjarakan tubuh Lolita.
''Tidak, aku hanya kesal saja. Sekarang minggit, aku mau keluar.'' Mencoba mendorong tubuh kekar Novan. Namun, tenaganya yang sangat kecil tak mampu menggeser pria tersebut.
''Jika kamu memang tidak takut padaku, berikan aku ciuman sekali saja,'' pinta Novan memohon.
Bisa saja ia langsung menyergap dan melakukannya sendiri, akan tetapi tidak mungkin dilakukan, takut Lolita trauma untuk yang kedua kali.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi dan bibir Novan. ''Sudah, Cassandra menungguku.''
''Terima kasih.'' Memeluk Lolita dari belakang. Sejenak menyesap aroma parfum sang istri yang menusuk rongga hidungnya.