
Cassandra bukan wanita bodoh, tentu saja ia paham jabatan yang diduduki suaminya itu. Pekerjaan yang disebutkan tadi tak lain adalah pekerjaan tentang CEO di perusahaan.
Itu artinya, Yunan bukan lagi orang kaya abal-abal yang hanya mengandalkan harta orang tuanya. Ia adalah pekerja keras dan sosok pemimpin yang hebat. Buktinya, dalam waktu lima tahun, mampu membawanya pada posisi yang paling mentereng.
Bukankah itu sudah menjadi bukti kehebatannya? Lalu, apa lagi yang diragukan?
Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tapi aku gak suka dengan namanya,'' ucap Yunan santai.
Bukan membuat Cassandra bahagia, justru wanita itu semakin takut. Takut jika Yunan akan menggunakan hartanya untuk mempermainkan dirinya. Apalagi sekarang pria itu bisa membeli apa pun yang diinginkan, termasuk seorang wanita.
''Kamu kenapa, Sayang?'' Yunan mendekati Cassandra yang tampak bingung. Ada yang salah dengan ucapanku?"
''Tidak.'' Cassandra menggelengkan kepala.
Ia berusaha untuk berpikir positif dan tidak menghubung-hubungkan masa lalu dan sekarang. Berusaha yakin bahwa Yunan sudah berubah dan hanya mencintainya.
Seperti ucapan Cassandra tadi, malam ini tidak ada adegan apa pun. Mereka tidur saling berpelukan seperti keinginan Yunan.
Sebab, Cassandra masih bimbang, akankah ia menerima Yunan kembali dengan pekerjaannya yang begitu memukau. Ataukah lebih memilih berpisah, takut perasaannya hanya sebatas permainan saja.
Bukan aku tidak mencintaimu, aku hanya butuh waktu untuk mempercayaimu lagi. Semoga kamu tidak mengingkari janji dan akan menjadikan aku satu-satunya ratu di hatimu.
Mengusap rahang Yunan dengan pelan lalu ikut memejamkan matanya.
Beberapa menit Cassandra terlelap, Yunan membuka mata dan menatap wajah cantik itu dari dekat.
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran kamu, tapi aku akan berusaha meyakinkan bahwa tidak ada wnaita yang aku cintai selain kamu." Mencium kening Cassandra dan melanjutkan tidurnya.
Mentari belum sepenuhnya terbit. Usai menjalankan kewajibannya, Yunan sibuk di depan laptop, sedangkan Cassandra juga memilih baju yang akan di pakai hari ini. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.
''Masih suka ngopi pagi?'' tanya Cassandra.
''Suka. Lumayan untuk menunda kantuk. Kalau ada sama kue kacang.'' Tersenyum, mengingatkan pada kebiasaan dulu.
''Kalau kue kacang mungkin gak ada, mau kue yang lain?'' tawar Cassandra lagi, takut di rumah tidak ada persediaan kue itu.
''Boleh, apa saja yang penting gak terlalu manis, takut ngalahin kamu.'' Bisa-bisanya Yunan membual di pagi hari.
''Bisa aja. Tunggu sebentar, aku turun. Kalau kelamaan mandi saja dulu, itu bajunya sudah aku siapkan." Cassandra keluar dan menutup pintu. Sementara Yunan mengambil ponselnya dan menghubungi Layin. Menanyakan kabar Khalisa pagi ini.
''Tenang saja, Yunan. Khalisa baik-baik saja, pagi ini dia mau ikut ke sekolah dengan Akram,'' ucap Layin dari seberang sana.
Yunan mengizinkan. Lalu, ia ikut turun menghampiri Cassandra yang ada di dapur. Mendekatinya dan kembali menggoda yang membuat sang empu tersipu.
''Ini di depan umum. Jangan macam-macam kalau mau burungmu masih sempurna," ancam Cassandra sembari memegang pisau.
Sontak itu membuat Yunan terkejut dan mendekap burungnya yang sudah lama tak diasah. Harus berhati-hati lagi saat berbicara jika ingin organ tubuhnya tetap utuh.
''Aku mau bilang sama kamu, kalau hari ini anak kita pengen ikut ke sekolah dengan Akram, dan aku mau Lila tetap mengasuhnya di sana,'' ucap Yunan ke inti.
''Baiklah, nanti aku akan menyuruh sopir mengantarkan Lila ke rumah ibu. Dengan begitu dia masih punya pekerjaan, kasihan keluarganya butuh uang.''
Cassandra segera memanggil Lila dan menyuruhnya untuk ke rumah Erlan. Bukan di pindah tugas, melainkan menjaga sang putri di rumah itu.
Untuk kedua kalinya Yunan makan bersama dengan Margareth. Dulu saat mereka akan berpisah, dan pagi ini. Semua terasa berbeda, ibu mertuanya itu lebih banyak senyum, wajahnya juga berseri-seri seperti menyimpan sesuatu.
''Nanti kamu jemput Khalisa ya, Ibu kangen.'' Menatap Yunan yang duduk di seberang meja.
''Ya bujuk terus supaya dia mau pulang.'' Margareth pun tetap bersikeras.
''Nanti aku coba.'' Cassandra angkat bicara.
Ia pun tidak ingin masalah itu diributkan di ruang makan.
Pagi ini Yunan berangkat lebih dulu karena ada pertemuan penting, sedangkan Cassandra akan pergi jam sembilan. Terpaksa mereka harus berpisah karena pekerjaan masing-masing.
''Nanti pakai mobil dariku ya,'' pesan Yunan memaksa.
Cassandra mengangguk setuju. Mengalah, tidak ingin berdebat hanya gegara tidak mau naik mobil pemberian suaminya. Lebih baik nurut apa maunya.
''Gak mau cium suami dulu?'' Menunjuk pipinya.
Cassandra membungkuk. Mengecup pipi Yunan yang sudah siap melajukan mobilnya. Melambaikan tangannya ke arah sang suami yang sudah siap mencari nafkah.
Beberapa menit mobil Yunan menghilang, penjaga kembali membuka pintu gerbang saat sebuah mobil mewah datang. Dilihat dari arah depan, itu seperti mobil milik Yunan yang kemarin ada di rumah besar.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk ke ponsel milik Cassandra.
Itu adalah pesan dari Yunan yang menanyakan tentang mobilnya.
Ya, mobilnya sudah datang. Terima kasih, Kak.
Pesan singkat itu diakhiri dengan emoji senyum. Cassandra belum berani bersikap lebih, takut kecewa seperti yang pernah dialami dulu.
Kedatangan Yunan membuat Liliana tersenyum, akhirnya bebannya berkurang juga. Ia segera menghampiri sang bos dan membacakan jadwal hari ini.
''Mulai besok, aku akan rutin pulang jam empat. Itu artinya sebelum jam tiga, laporan sudah harus masuk. Selebihnya, aku gak mau terima,'' terang Yunan dengan tegas.
Dengan begitu, ia ada waktu untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya. Tidak hanya memberikan uang, namun juga kehangatan sebagai seorang suami dan ayah bagi anaknya. Menjalankan perannya sebaik mungkin.
''Baik, Pak. Nanti saya akan umumkan kepada seluruh karyawan tentang ini,'' jawab Liliana lemah.
Ia yang mengira bebannya berkurang justru bertambah. Dengan regulasi baru yang dilayangkan Yunan, waktu kerjanya sangat singkat dan harus selesai tepat waktu. Jika tidak, maka siap-siap turun dari jabatan dari sekretaris.
Setelah menyampaikan semua jadwal Yunan, Liliana keluar dari ruangan sang bos. Ia turun ke lantai dasar dan mengumumkan apa yang dikatakan Yunan tadi.
Hampir semua orang protes, namun mereka tidak bisa apa-apa. Sebab, Yunan bukan orang yang suka mengubah peraturan sembarangan. Pasti ada alasan tertentu untuk itu.
''Bilangin sama pak Yunan kalau kita gak sanggup.''
''Iya, waktunya terlalu mepet, sedangkan jam tiga lebih kita baru rampung."
Liliana mencatat semua keluhan dari para karyawan. Ia mengambil ponsel yang berdering kemudian tersenyum.
''Ada pengumuman lagi guys. Ternyata pak Yunan tidak hanya mengubah jam kerja saja. Dia juga menambah gaji kita semua dua puluh persen untuk masing-masing karyawan,'' papar Liliana seperti pesan yang dikirim bosnya.
Semua bersorak kegirangan dan lebih semangat bertugas. Pun dengan Liliana, ia juga ikut bahagia dan mendoakan kesejahteraan perusahaan.
''Kalau begitu aku setuju dengan regulasi barunya,'' ucap sebagian karyawan.
''Ada apa dengan pak Yunan?''
''Apa perusahaan sedang untung besar, tapi menurutku tidak juga, bulan ini hanya naik beberapa persen saja.'' Mereka bertanya-tanya dengan sikap aneh sang bos, namun tetap berterima kasih.