Hidden CEO

Hidden CEO
Jujur



Pukulan Yunan memang menimbulkan rasa sakit di bagian wajah Zafan. Namun, itu tak sesakit luka yang ia goreskan di hati Laurent. Luka yang sampai kapan pun akan membekas meski waktu terus berputar. 


''Aku minta maaf, Kak. Aku khilaf.'' Zafan mengatupkan kedua tangannya. Memohon belas kasihan dari Yunan. Sungguh, ia sangat menyesali perbuatannya yang telah mengkhianati istrinya. 


Kata itu memang terdengar sangat basi, bahkan Yunan pun malu dengan dirinya sendiri yang pernah melakukan hal yang sama. Namun, semua kembali lagi, mereka hanya manusia yang tak luput dari salah dan dosa. 


Seandainya Zafan bukan suami dari adiknya. Ia sudah memukulnya untuk yang kedua kali. Sayang sekali ia harus bisa menahan emosi demi kebahagian sang adik yang sangat mencintai pria tersebut. 


Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya untuk mengurai rasa kesal yang meletup-letup di dada. Kemudian berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zafan. Mengangkat dagu pria tak berdaya itu. 


''Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada adikku, Zafan? Jika kamu memang tidak mencintai adikku lagi, lepaskan dia dengan cara baik-baik. Jangan seperti ini." Mata Yunan berkaca-kaca setiap kali mengingat nasib adiknya. 


Bisa saja ia memukul wajah pria itu hingga babak belur. Namun itu hanya akan membuat Laurent bertanya-tanya.  


''Awalnya aku memang bingung dengan perasaanku, Kak. Aku merasa tidak mencintai Laurent dan ingin pergi, tapi tidak bisa. Setiap kali aku mencoba untuk meninggalkan dia, hatiku sakit. Aku juga benci dengan diriku sendiri. Aku sudah jahat dan menyakiti perempuan yang sudah menemaniku selama ini.'' Menjambak rambutnya, frustasi. 


''Kak, aku mohon jangan katakan semua ini pada Laurent. Aku janji akan berubah dan akan meninggalkan Lioni untuk selama-lamanya," ungkap Zafan dari hati. 


''Tidak bisa.'' Lioni menarik bahu Zafan. Tentu saja Tak terima dengan keputusan pria itu yang jelas-jelas mencampakkannya. 


''Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Zafan. Kamu sudah berjanji akan menikahiku setelah menceraikan Laurent. Tapi kenapa sekarang masih seperti ini,'' pekik Lioni tak terima. 


Yunan terdiam. Memberi izin untuk Zafan menyelesaikan masalahnya dengan Lioni. Ia cukup mendengar penjelasan dari pria tersebut. 


''Kenapa? Suami istri saja bisa bercerai, apalagi kita hanya hubungan kekasih. Lagipula selama ini aku gak pernah merugikanmu. Jadi, aku harap kamu mengerti,'' ujar Zafan serius. 


Skak


Ungkapan itu mampu mengunci bibir Lioni. Ia tak bisa membantah ataupun mengelak. Malah yang dikatakan Zafan tentang berpasangan yang sudah terikat, bisa putus, apalagi mereka hanya sebatas kekasih gelap. 


Lelehan kristal bening membasahi pipi Lioni. Wanita itu terlihat tak terima dan sangat kacau dengan keputusan Zafan. Tak disangka, pernikahan yang diidam-idamkan harus kandas begitu saja. 


''Tapi aku mencintaimu, Zafan. Kamu tidak boleh seperti ini,'' pinta Lioni di sela-sela tangisnya. 


''Dan aku mencintai istriku, titik.'' Zafan melangkah mundur, perlahan menjauh meninggalkan butik dan berlari menuju mobil.  


Sementara Yunan menatap punggung adik iparnya yang mulai menghilang di balik pintu mobil. Kemudian, menatap Lioni yang tampak kesal. 


''Urusanmu hanya dengan Zafan, jadi jangan berani-beraninya mengusik adikku.'' Yunan mengingatkan. Lalu, ia keluar dari tempat itu. 


Mobil yang ditumpangi Zafan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah pribadinya. Sebelum pergi, ia sempat menghubungi Laurent dan menanyakan keberadaan wanita itu. Memintanya untuk diam di rumah menunggunya datang. 


Sepanjang perjalanan, otak Zafan terus menyusun kata-kata yang tepat untuk meminta maaf. Meski belum yakin mendapatkan ampunan dari sang istri, ia akan terus mencoba. 


Tak terasa mobil berhenti di depan rumah. Zafan bergegas turun dan berlari menuju rumah tanpa menghiraukan sapaan dari penjaga. Tangannya mengulur membuka pintu utama. Pertama kali yang dilakukan adakah memanggil Laurent dengan sebutan sayang. 


Tidak ada jawaban, rumah itu sangat sepi, hanya ada bibi yang sedang menjalankan aktivitasnya. Terpaksa menghampiri wanita paruh baya itu dan menanyakan keberadaan istrinya. 


Tanpa mengucapkan terima kasih, Zafan langsung ke kamarnya. Tanpa mengetuk pintu ia membukanya. Bibirnya mengulas senyum melihat sang istri meringkuk di atas ranjang sepertinya wanita itu sedang tertidur. 


Tidak ingin mengusik, Zafan menutup pintu dengan pelan. Berjalan mengendap-endap ke arah ranjang. Tanpa aba-aba memeluk Laurent dengan penuh kasih sayang yang sambil mengucapkan kata maaf. 


"Kamu kenapa?'' Laurent membuka mata saat sayup-sayup mendengar suara Zafan. Ia terbangun dan duduk bersandar di headboard, sedangkan Zafan tetap berlutut di samping ranjang. 


Apa pun keputusan Laurent aku harus jujur, daripada dia tahu dari bibir orang lain lebih baik aku yang mengatakan. 


''Sayang, kamu pernah bilang akan memaafkanku seandainya aku mempunyai masalah besar. Apa itu masih berlaku hingga sekarang,'' tanya Zafan sedikit konyol membuat Laurent hampir meledakkan tawa. 


''Memangnya apa kesalahan kamu?'' Masih mode santai. 


Mencoba mengalihkan pikiran yang dari tadi teringat dengan nama yang disebut suaminya dalam tidur.


''Aku pernah berselingkuh.''


Duarrr


Kalimat yang meluncur dari sudut bibir Zafan bagaikan busur panah yang menancap di dada Laurent hingga menembus relung hati terdalam. Mampu membunuh sekujur tubuh Laurent. Wanita itu terpaku, hanya lelehan cairan bening yang membuktikan kesedihannya. 


''Sayang, aku bisa jelaskan.'' Sebenarnya Zafan tak tega, namun ia harus tetap melakukan itu daripada berdiam diri menyembunyikan kebusukan yang pasti akan tercium juga. 


''Apa perempuan itu bernama Lioni?'' tanya Laurent tanpa bergerak sedikit pun.


''Sayang aku __"


Zafan menghentikan ucapannya saat Laurent mengangkat sebelah tangannya. Wanita itu tersenyum penuh dengan teka teki. Seolah ada sesuatu yang ingin diucapkan. 


Keputusan Zafan mengungkap perselingkuhannya patut diacungi jempol. Di luaran sana banyak pria bajingan yang bahkan menutup rapat hubungannya dengan wanita lain, justru berbeda dengan Zafan. Jelas-jelas pria itu mengakui kesalahannya di depan sang istri. 


''Sudah berapa tahun kamu berhubungan dengan dia?'' Laurent mencoba untuk tenang dan menerima semuanya. 


''Satu tahun,'' jawab Zafan jujur. Menundukkan kepalanya, malu jika harus bertatap muka dengan Laurent. 


''Dan bagaimana rasanya saat kamu memeluk dia, Mas?" Pertanyaan itu terlontar di luar nalar. 


Sungguh, Laurent tak bisa membayangkan saat suami yang dicintai itu justru memeluk wanita lain dan memujanya. Itu yang mencengkeram ulu hati terdalam. Sakit, perih, bahkan tak bisa diukur dengan apa pun. 


''Pasti kamu sangat nyaman dan bahagia. Iya, kan?'' Tangis Laurent pecah membayangkan kebersamaan suaminya dan juga selingkuhan itu. Berulang kali menepis tangan Zafan yang berusaha menyentuhnya. 


"Pergi dari sini, pergi!" teriak Laurent sambil menunjuk ke arah pintu kamar. 


Untuk sementara waktu, Zafan memenuhi permintaan sang istri. Berharap masih diberi kesempatan untuk bicara.