Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 90. Berakhir



Bab. 90


"Yaang, hati-hati jalannya. Jangan cepet-cepet kayak gini," ingat seorang pria muda berbadan tegap dan kekar. Namun, tampak begitu telaten dan sangat sabar mendampingi seorang ibu muda hamil dengan perut yang sangat besar.


Bukannya mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, wanita itu justru menarik rambut suaminya dengan sangat kuat. Sampai-sampai membuat sang pria berteriak sakit, akan tetapi tidak berani menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh sang istri.


"Aduh duh duh, Yaang. Sakit, Yaang!" teriak pria itu yang hanya di mulut saja. Namun tetap membiarkan tangan istrinya berada di atas kepala dan tengah menjambak dirinya.


"Kamu tuh nggak tau sakitnya kayak apa, Mas! Jadi diam aja!" bentak Dilla pada Kendra.


Saat ini mereka berada di ruang bersalin. Namun, karena sedang menunggu penambahan pembukaan, Dilla menuruti saran dari dokternya untuk di buat jalan-jalan. Karena tidak bisa jalan-jalan di luar ruangan, lebih tepatnya tidak kuasa menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja tanpa permisi, akhirnya Dilla memutuskan untuk mondar mandir di ruang bersalin saja.


Sebagai suami yang siaga dan sigap, sudah jelas Kendra akan berada di samping sang istri yang sangat dia cintai. Walaupun rambut, lengan, dan dada sebagai taruhannya.


Bagaimana tidak, jika di saat Dilla mengalami kontraksi, tangan wanita itu akan dengan cepat meraih tubuh suaminya dan menariknya. Tidak melihat apa yang sedang dia pegang. Asal bisa menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan kepada sang suami. Sebab, anggapan Dilla ialah karena mereka membuatnya berdua, jadi harus mengalami rasa sakit itu juga berdua. Meskipun rasa sakitnya jelas tidak akan sama.


Selang beberapa menit, Dilla sudah mengeluh tidak tahan dan rasanya yang ada di dalam perutnya ingin memaksa keluar. Kendra yang panik beserta bu Mawar pun langsung memanggil dokter. Dengan cepat semua persiapan sudah dilakukan dan Dilla kembali naik ke ranjang pasien.


Di dalam sana hanya Kendra yang diperbolehkan untuk menemani Dilla. Jangan tanyakan lagi seperti apa penampilan Kendra saat ini. Kemeja yang kusut, juga beberapa kancing yang terlepas dari tempatnya. Di tambah lagi rambutnya yang acakan. Sungguh, tidak mencerminkan sosok CEO dari Red Bird Group. Untung saja wajahnya tampan. Kalau tidak, sudah persis seperti gembel.


Ternyata masih butuh waktu tiga puluh lima menit untuk sang bayi lahir ke dunia. Melihat indahnya langit senja dan hangatnya sinar matahari.


Tangis haru pun terdengar begitu jelas, di saat suara tangis bayi pertama kali keluar.


Tidak henti-henti Kendra mengucap syukur di dalam hatinya dan menghujani puluhan kecupan di atas wajah sang istri. Berterimakasih kepada Dilla, karena sudah memaksa dan membeli dirinya. Hingga akhirnya ia mendapatkan seorang putra yang lahir dengan sangat sempurna.


Pria itu tidak merasa sesyukur ini sebelumnya. Bahkan, ketika menikah dengan Dilla, Kendra pikir ia sudah merasa satu-satunya orang yang paling berbahagia di dunia ini. Orang yang paling beruntung. Namun pada kenyataannya, ia dibuat lebih bahagia dan lebih beruntung, karena mendapat gelar seorang ayah.


"Selamat Nyonya, Tuan Kendra, anak anda seorang laki-laki yang sangat tampan," ujar dokter sembari memberikan seorang bayi yang sangat mungil dan menggemaskan.


Bibirnya yang merah, serta wajahnya yang bersemu merah di bagian pipi membuat bayi tersebut terlihat sangat lucu. Rasa-rasanya Kendra ingin mencubit pipinya.


Dengan penuh kehatian, Kendra menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar. Dia sudah bersih. Keadaan Dilla pun juga sudah dibersihkan. Dilla menatap haru bayi yang sekarang berpindah di pangkuan tangan suaminya.


"Anakku, Mas," ucap Dilla sembari air matanya jatuh.


Kendra menghela napas lalu menatap ke arah sang istri yang masih berbaring di ranjang pasien.


"Anak kita, Yaang," protes Kendra tidak terima jika bayi yang ada di gendongannya saat ini hanya disebut sebagai anak istrinya seorang.


Dilla meringis menatap ke arah suaminya. "Kan yang usaha aku, bukan kamu, Mas." ingat Dilla.


Kendra memilih untuk tidak menjawab. Karena di sana juga ada dokter yang tengah menahan senyumannya. Mungkin, baru pertama kali melihat pasangan aneh seperti mereka.


"Siapa namanya, Mas?" tanya Dilla. Wanita itu tidak hentinya mengusap lembut pipi putranya.


Hei hei hei ... sabar dong! jangan main lempar batu. Tenang ... tenang, oke? Yuta bakalan kasih ekstra partnya kok. Kan ini konflik ringan, dan mereka udah nggak punya masalah, terus teru terus pendapatanku dari nopel ini nggak cukup buat beli es boba atu porsi. Hiks🤧 jadi Yuta mau buat sekuelnya aja. Tentang anak mereka. Kalo penasaran, nanti spoilernya di ektra part kok. Jadi Yuta mohon jangan hapus dulu, ya. Apa masih sama sengklek kayak mereka? Oh, itu udah jelas Yuta sengklek. Eh, mereka yang sengklek. hehe. Udah ah, ngumpet dulu. Sebelum dilamar sama Ayang. wkwkwk