Hidden CEO

Hidden CEO
Tak menyerah



Cassandra dan Novan saling tatap dari jarak jauh. Mereka membius bibir masing-masing setelah  beberapa detik satpam menyampaikan perintah dari Lolita. Terlihat jelas pria yang baru saja keluar dari penjara itu manggut-manggut tanpa pindah dari posisinya berdiri. 


''Aku hanya akan minta maaf sama Lolita, Ndra." Dengan percaya diri, Novan melayangkan niatnya datang ke rumah itu. 


''Apa Kakak tuli. Bukannya tadi pak Jono sudah memberi tahu kalau  kak Lolita tidak mau bertemu dengan Kakak.'' Cassandra melipat kedua tangannya. 


Tentu saja ia tidak takut lagi dengan pria itu. Menguji seberapa besar perjuangannya untuk mendapat maaf dari kakaknya yang telah disakiti. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua ada ganjaran yang setimpal. 


''Kalau begitu aku akan berada di sini sampai Lolita keluar.'' Berdiri di samping mobil. Wajahnya mendongak, pandangannya tertuju pada kamar Lolita. Berharap wanita itu melihatnya. 


''Terserah Kakak saja, aku gak mau tahu.'' Cassandra membalikkan badan. Menyuruh bibi mengunci semua pintunya. Melarang mereka membuka pintu kecuali saat Yunan datang. 


''Sepertinya di luar ada tamu. Siapa?'' tanya Margareth yang baru keluar dari kamarnya. 


''Ada kak Novan, Bu.'' Bibir Cassandra merengut. Masih tak terima dengan perlakuan Novan pada Lolita kala itu. 


Wajah Margareth mendadak pias teringat dengan apa yang sudah terjadi dengan putrinya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya. Dadanya hampir meledak mendengar nama yang disebut Cassandra tadi. 


''Di mana dia? Ibu akan membalas perbuatannya.'' Berjalan cepat menuju belakang. 


Cassandra yang hampir duduk pun terpaksa berdiri lagi dan mengejar ibunya. Menarik tangan wanita itu dan memeluknya. Menghalanginya untuk keluar. 


''Jangan halangi ibu, Ndra. Novan harus mendapat balasan.'' Margareth mendorong Cassandra dengan kuat.  


''Jangan, Bu. Nanti kalau kak Novan melawan bagaimana? Ibu bisa terluka." Demi apa pun, Cassandra mencoba untuk membujuk Margareth yang sudah tersulut emosi. Terlihat jelas kilatan amarah di mata wanita yang melahirkannya itu. 


''Palingan dia juga akan masuk penjara lagi.'' Tidak ada rasa takut, kalaupun Novan membalas, tak segan mengembalikan pria itu ke jeruji besi. Begitu pikirnya. 


Margareth terus memberontak, membuat Cassandra kuwalahan dan akhirnya melepas sang ibu. Ia kemudian mengambil benda pipihnya dan menghubungi Yunan dengan keadaan panik, sementara Margareth ke arah gudang mengambil sapu lalu membawanya keluar. 


''Ngapain kamu ke sini?'' Melangkah cepat menghampiri Novan. Tanpa aba-aba, ia memukul pria itu sekuat tenaga tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi. 


Plak plak plak...


Berulang kali Margareth memukul Novan menggunakan sapunya. Dari bagian samping kanan, kiri depan juga belakang. Tidak peduli dengan rasa sakit yang diderita pria itu, yang penting amarahnya tersalurkan. 


''Pergi dari sini! Aku tidak sudi menerimamu sebagai menantuku,'' usir Margareth dengan suara terengah-engah, kelelahan. 


''Tidak, Bu. Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Lolita,'' ucap Novan ramah. Bahkan sisi kesombongannya pun tidak terlihat sedikit pun.  


''Untuk apa, hah? Apa kamu mau menyakitinya lagi. Jangan harap Novan. Selama aku masih hidup, aku tidak akan menyerahkan dia kepadamu." Margareth menatap Novan dengan penuh kebencian. 


''Aku hanya mau minta maaf.'' Novan menundukkan kepala. 


Mungkin kalimat itu memang terlalu mudah di bibir. Tapi siapa sangka, hatinya belum terlalu ikhlas untuk mengalah. Ia hanya mengikuti saran dari ayahnya saja. Bukan dari hatinya sendiri. 


Baginya, cinta hanya sekedar bualan, omong kosong. Hidupnya lebih mementingkan pekerjaan hanya memikirkan tentang uang dan uang. Tidak pernah tertarik dengan asmara yang katanya sangat indah.


''Minta maaf kamu bilang? Enak saja. Lebih baik kamu pergi atau aku usir dengan cara tidak hormat,'' ancam Margareth. 


''Pak Jono, seret dia keluar!" Menunjuk ke arah gerbang yang masih terbuka lebar. 


Pak Jono segera menghampiri Novan dan menarik tangan kekar pria itu. Mendorongnya kuat-kuat ke arah gerbang. Menjauhkan dari Margareth yang terus memaki-maki dengan kata-kata kasar.


''Mobil saya masih di dalam, Pak," ucap Novan saat pak Jono hampir menutup  gerbangnya lagi. 


Pria berkumis dan berkulit sawo matang itu menoleh ke belakang. Namun tanpa disadari olehnya, Novan kembali menerobos masuk da berteriak memanggil nama Lolita. 


''Keluar Lolita. Aku hanya ingin minta maaf padamu.'' 


Cassandra semakin panik. Ia ikut keluar menghampiri Margareth. Memeluk ibunya yang hampir memukul Novan untuk yang kesekian kali. 


''Sebentar lag kak Yunan datang, Bu. Kita masuk saja yuk,'' ajaknya dengan lembut. 


Daripada menguras tenaga untuk melayani Novan yang tidak ada gunanya, Margareth mengikuti kata si bungsu. Ia ikut masuk dengan hati yang masih diliputi kekesalan, tentunya. 


Di kamar 


Aldo membuka matanya ketika mendengar suara Novan berteriak. Bocah itu menoleh ke arah Lolita yang berdiri di belakang jendela dengan posisi tirai masih tertutup.


''Itu seperti suara papa, Ma." Mendekati sang mama yang tampak menitihkan air mata. 


''Ya, itu papa kamu. Dia ada di bawah.'' Menunjuk Novan yang masih berteriak memanggil namanya.


Tirai dibuka sedikit. Dan itu langsung disadari Novan yang dari tadi tak mengalihkan pandangannya dari jendela. Pria itu tersenyum melihat dua orang yang sudah hadir di hidupnya selama belasan tahun. 


Bukan bahagia melihat papanya, Aldo justru terlihat ketakutan. Bocah itu terisak dan memeluk erat Lolita. Membenamkan wajahnya di dada sang mama. 


''Jangan takut, Nak. Papa tidak akan berani memukulmu lagi. Kita aman di sini. Om Yunan pasti akan melindungi kita.'' Mengusap lembut punggung Aldo yang mulai bergetar kecil. 


Meyakinkan bahwa kehidupannya saat ini jauh lebih aman dari sebelumnya. Yakin papanya tidak bisa memukulinya lagi. 


Belum sempat memutar tubuh, mobil Yunan datang. Pria itu turun dan menghampiri Novan yang masih sibuk memanggil Lolita. Menepuk pundak kakak iparnya dari belakang. 


''Gak usah teriak-teriak, kak Lolita juga pasti dengar, hanya saja dia gak mau keluar,'' ucap Yunan santai. 


Novan menoleh, tersenyum mengejek seperti yang dulu sering dilakukan. ''Jangan sok tahu. Di sini aku jauh lebih terhormat daripada kamu.'' Begitu yakin, membuat Yunan menahan tawa. 


''Kita buktikan saja.'' Yunan berbisik dengan nada menantang. Membayangkan reaksi Novan saat tahu yang sebenarnya.


''Kak Yunan," teriakan Cassandra dari arah pintu pun menghentikan percakapan Yunan dan Novan.


''Masuk saja, Yunan. Jangan urusin dia!" suruh Margareth dengan nada lembut.


Tentu saja itu membuat Novan melongo, terkejut.


Keadaan sudah sangat berubah. Yunan bukan lagi menantu sampah yang harus menghormati majikan di rumah itu. Namun sebaliknya, sekarang ia adalah miliarder yang digadang-gadang kehadirannya.