
Bab. 47
Betapa bahagianya Kendra di kala mendapati dirinya akan menjadi seorang ayah secepatnya. Tidak sabar ingin cepat-cepat memberitahu mamanya akan kabar bahagia ini. Namun, ketika akan mengabari mamanya, Kendra tersadar dengan status mereka yang sebenarnya tidak jelas sekali.
Kendra menoleh ke samping, di mana di sana ada wanita cantik yang tengah membuang mukanya ke arah jendela.
"Natapnya nggak usah kayak gitu!" seru Dilla ketika merasa ada sepasang mata yang menatapi dirinya dari tadi.
Kendra tersenyum, namun hanya sebentar. Ia teringat dengan tujuannya yang terjeda.
"Dilla," panggil Kendra. Namun, di abaikan oleh sang pemilik nama. "Adilla Rayyansyah!" panggil Kendra lagi.
Kali ini pria itu dengan sengaja mengubah nama belakang Dilla dengan nama belakangnya. Sontak saja membuat wanita itu segera menoleh ke arah Kendra. Jangan senang dulu, wanita itu menatap sangat tajam ke arah Kendra sekarang ini.
"Jangan lancang, Pak. Kalau sampai Papa saya tahu, bisa habis kamu!" ingat Dilla.
Peringatannya ini bukan sebuah gurauan biasa. Melainkan nyata adanya. Kalau sampai ada yang merubah nama belakang putri semara wayangnya, bisa Dilla tebak kalau papanya akan menghabisi orang itu.
"Iya, iya ... itu nanti saja kita bahas. Yang terpenting itu sekarang status kita bagaimana?" tanya Kendra sembari kembali fokus pada jalan yang ada di depannya.
Seperti biasa, untuk bisa mengajak Dilla agar mau pulang bareng bersama dirinya, Kendra harus melalui perdebatan yang sangat panjang dengan Dilla. Wanita itu awalnya menolak, namun setelah Kendra membayar taxi yang masih menunggu Dilla di sana dengan uang lebih. Tentu saja, pak sopir itu menggeleng dan mau mengembalikan. Akan tetapi Kendra tetap bersikeukuh untuk memberikannya dan mengambil alih penumpangnya.
Dilla mengernyit, menatap aneh ke arah Kendra.
"Status yang mana?" tanya Dilla tidak mengerti apa yang sedang di maksud oleh Kendra.
Kendra menghela napas. Kenapa susah sekali berbicara serius dengan wanita ini.
Dengan segala pertimbangan yang sudah Kendra renungkan sendiri sedari mengetahui Dilla hamil, akhirnya pria itu memantapkan keyakinannya.
"Ayo kita nikah!" ajak Kendra secara tiba-tiba.
Sontak membuat Dilla tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk. Beruntung di sisi kirinya ada air mineral yang memang selalu tersedia di di mobil Kendra.
Dilla meneguk air mineral yang ia ambil, lalu menatap ke arah Kendra dengan tatapan kesal.
"Apa sih yang ada di pikiran Bapak? Siapa juga yang mau nikah. Aneh banget!" kesal Dilla.
Menikah adalah momok bagi Dilla sampai saat ini. Ia benar-benar tidak mau terikat dengan siapapun. Lebih lagi terkekang dengan aturan yang akan diberlakukan dari pasangannya. Tidak. Ia tidak bisa hidup seperti itu.
Kendra tidak ada pilihan lain selain menepikan mobilnya lebih dulu. Lalu pria itu menatap Dilla dengan tatapan serius.
"Saya tidak sedang bercanda, Adilla Rayyansyah!" tekan Kendra tidak mau di bantah.
Akan tetapi, ya namanya juga Dilla. Mana mungkin wanita itu diam begitu saja dengan apa yang tidak dia sukai.
"Nama saya Adilla Atmadja! Ingat itu!" pun Dilla tak kalah seriusnya dengan ucapannya.
"Oke, oke ... Adilla sayangku. Ibu dari anakku. Dengarkan aku," ucap Kendra sedikit mengalah namun tetap membuat wanita itu kesal dengannya.
Dilla mencebik mendengar panggilan Kendra kepadanya. Tetapi wanita itu tetap diam.
"Janin yang ada di dalam kandunganmu itu adalah anakku. Ja—"
"Enak aja! Ini anakku!" potong Dilla cepat.
Helaan napas terdengar dari mulut Kendra. Pria itu tampak sabar menghadapi Dilla.
"Iya, anak kita," putusnya. "Minggu depan aku akan ke rumahmu, melamar sekaligus menikahimu!"
Prang!
Dilla bagaikan mendengar ribuan piring yang pecah tepat di dekat telinganya, di saat Kendra mengatakan hal tersebut. Tubuhnya mematung, dan lidahnya terasa kelu hanya untuk menyahut ucapan Kendra. Pikirannya sudah entah melayang ke mana. Bayang-bayang akan ikatan yang sangat mengerikan itu pun terlintas di kepala Dilla saat ini.