
Bab. 68
Sampai detik ini, Dilla masih benar-benar shock dengan statusnya yang baru. Baru beberapa menit yang lalu tiba-tiba saja statusnya sudah menjadi istri dari pria yang sekarang ini terlihat sibuk dengan para tamu yang datang di rumahnya.
Bukan bukan. Lebih tepatnya di aula samping rumah kediaman Atmadja yang luasnya sudah bisa di anggap menyaingi lapangan sepak bola yang ada di kampung.
Semua terjadi begitu cepat, hingga membuat Dilla saat ini terduduk lemas di sofa sembari melihat para tamu yang datang entah dari mana. Siapa juga yang ngundang mereka. Bahkan, terakhir kali dirinya melangkah pergi dari sini kemarin pagi, sama sekali tidak terlihat ada kesibukan yang berarti. Lantas, sejak kapan ini semua disiapkan dan sekarang tersaji di hadapannya.
"Sayang, minum dulu. Jangan terlalu shock, nanti berpengaruh sama janin yang ada di kandungan kamu, loh."
Suara wanita yang teramat sangat familiar di telinganya, tidak mampu menarik Dilla dari lamunannya. Wanita itu masih mencerna semua ini.
Mencoba menarik napas beberapa kali dan mengaturnya, agar jantungnya tidak berdegup lebih dari biasanya, namun tetap saja. Dilla tidak mengerti apakah ini hanya sebuah delusi dari kebenciannya selama ini tentang sebuah pernikahan. Sehingga dirinya dihadapkan terlebih dulu, untuk mempersiapkan diri jika kelak akan menikah.
Hingga tepukan di tangannya yang begitu lembut, akhirnya berhasil membuat Dilla sadar.
"Terimakasih sudah masuk ke dalam hidup anak Mama, Dilla. Semenjak ada kamu di dalam hidupnya, Kendra tidak lagi menyibukkan diri ke pekerjaannya. Paling tidak dia punya waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri. Tidak terus memprioritaskan mamanya ini," ucap bu Mawar menatap bahagia ke arah menantunya saat ini.
Dilla mengerjap, baru tersadar jika dirinya selepas akad tadi hanya duduk di sini. Beruntung, Kendra mempunyai alasan kalau Dilla sedang tidak enak badan. Sehingga tidak bisa menemui dan menyalami para tamu.
"Dilla sekarang jadi seorang istri, Ma?" itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Dilla setelah tersadar dari keterkejutannya.
Bu Mawar mengangguk.
"Iya, Sayang. Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Rayyansyah," jawab bu Mawar tak sedikit pun memudarkan senyumannya.
Napas Dilla semakin memburu, bukan karena gelora yang ada di dalam tubuhnya. Melainkan rasa kesal terhadap sosok pria yang sekarang ini ia tatap. Sementara pria itu masih sibuk berbincang dengan tamu yang Dilla tahu beliau salah satu pejabat tinggi di perusahaan Arois. Perusahaan jam tangan terbesar dan ternama di dunia.
"Ya, Sayang?"
"Boleh Dilla tanya sesuatu? Tapi Mama harus jawab jujur," ucap Dilla.
Kali ini wanita itu menatap memohon ke arah bu Mawar. Membuat bu Mawar menganggukkan kepalanya.
"Selagi Mama tahu dan Mama bisa jawab, pasti Mama jawab, Dilla," sahut bu Mawar.
Tentu saja, jawaban tersebut bagai angin, bukan, lebih tepatnya sebagai jembatan untuk dirinya mengetahui apa yang selama ini ia tidak ketahui.
"Siapa sebenarnya anak Mama itu?" tanya Dilla dengan tatapan yang sangat serius.
Namun, justru mendapat kekehan dari bu Mawar.
"Astaga, Sayang ... kirain Mama pertanyaan macam apa. Ya jelas anak Mama itu suami kamu sekarang ini, Kendra. Masa belum jelas juga," jawab bu Mawar yang masih tertawa.
Dilla menghela napas. "Bukan itu maksudnya, Ma."
"Lalu?"
"Siapa sebenarnya Mas Kendra? Apa dia hanya seorang sopir biasa? Atau hanya dosen pengganti Mama aja? Tolong, jelasin ke Dilla sebelum Dilla membuat ulah," pancing Dilla dengan terpaksa sedikit mengancam mama mertua sekaligus dosen idolanya tersebut.
Bu Mawar tampak bingung dengan pertanyaan Dilla yang satu ini. Ingin mengelak, tetapi sudah berjanji. Ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi takut salah. Posisi bu Mawar serba salah sekarang.