
''Lepaskan dia, Kak?'' teriak Yunan dari arah pintu.
Beberapa orang pun masuk dan berusaha mencegah Novan yang sedang memukuli Aldo. Mereka menarik tubuh kekar pria itu dan membawanya ke arah dinding. Yunan berlari menghampiri sang keponakan yang tampak lemas.
Sangat panik melihat apa yang dilakukan Novan pada anaknya sendiri.
''Kamu nggak pa-pa, Nak?'' Yunan memeluk bocah yang berumur 12 tahun itu lalu mencium keningnya berulang kali.
Cassandra menyusul.
''Maafkan, Tante. Di mana mama?'' tanya Cassandra dengan air mata yang meleleh di pipinya. Sungguh tak disangka, ada seorang ayah yang tidak memukuli anaknya sendiri. Bahkan, Aldo adalah anak satu-satunya yang seharusnya dimanja dan disayang, bukan diperlakuan dengan buruk.
Aldo tak menjawab dengan suara. Ia hanya menunjuk sebuah pintu ruangan yang tertutup rapat yang ada di bagian pojok. Yunan menoleh ke arah jari bocah itu lalu berlari ke arahnya.
Sama seperti pintu depan, pintu itu pun dikunci, terpaksa ia harus menghancurkannya lagi dengan tenaga yang masih tersisa.
Tentunya dengan bantuan orang-orang suruhannya. Sementara Novan tetap ditahan. Mulutnya disumpal agak tidak berisik.
Pintu terbuka dengan beberapa kali tendangan. Nampak seorang wanita duduk di pojokan. Dia adalah wanita yang kemarin sempat meminta uang dengan memaksa, Lolita.
Yunan memanggil Cassandra dengan cara melambaikan tangan. Sang istri segera mendekat.
''Biar Aldo bersamaku, kamu tenangin Kak Lolita dulu,'' suruh Yunan.
Cassandra berlari menghampiri sang kakak yang tampak kacau. Beberapa hari yang lalu saat datang, wanita itu memang terlihat baik-baik saja, hanya agak sedikit kurus. Berbeda dengan sekarang, tidak hanya kurus bajunya pun kusut, rambutnya acak-acakan wajahnya terlihat layu dan pucat. Sudah dipastikan Ia mendapat perlakuan yang tidak baik dari Novan seperti yang dilakukan pada Aldo tadi.
"Apa yang terjadi, Kak? Katakan padaku!''
Sebelum menjawab, Lolita memeluk sang adik dan menumpahkan sisa air matanya yang masih menumpuk.
''Kita bicarakan nanti saja, aku ingin segera pulang ke rumah ibu,'' pinta Lolita.
Cassandra hanya mengangguk, tidak mungkin ia mempertanyakan masalahnya di saat Lolita masih tampak kacau seperti ini. Butuh waktu untuk semua itu. Ia memeluk Lolita dan membawanya keluar menghampiri Yunan yang duduk bersama Aldo.
''Kita harus nginap di hotel dulu, pasti kamu terlalu lelah.'' Yunan mengusap lembut kepala sang istri.
Menyuruhnya untuk menunggu di mobil, sedangkan ia dan ketiga orang suruhan masih tetap di rumah itu menghampiri Novan yang tampak memberontak ingin dilepaskan.
''Aku tidak tahu masalah Kakak dan Kak Lolita, tapi aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Aku akan melaporkan kakak atas kasus penipuan dan KDRT. Aku punya bukti bahwa Kak Lolita kemarin meminta uang padaku dengan jumlah yang sangat besar. Aku akan menyuruh dia menjadi saksi. Jangan harap kakak bisa menghirup udara segar,'' ucap Yunan tanpa rasa takut sedikit pun. Geram dengan kelakuan seorang pria yang tega menindas perempuan, Bahkan memperalat istrinya sendiri untuk meminta uang.
''Buka mulutnya!'' suruh Yunan kepada orang yang ada di belakangnya.
''Ingat, Yunan! sampai kapan pun kamu tidak akan pernah dianggap oleh keluarga Margareth, meskipun kamu mati-matian menyelamatkan anaknya. Aku yakin Margareth akan tetap menganggapmu sampah.''
Tertawa terbahak-bahak seolah ucapannya itu memang sangat nyata.
Yunan tak menanggapi, terlalu malas berurusan dengan orang yang tidak berguna seperti Novan. Ia mundur satu langkah, meminta mereka untuk segera melaporkan ke polisi dengan kasus KDRT.
''Mungkin aku memang akan dianggap sampah oleh keluarga Ibu Margareth, tapi aku tidak dianggap rendah oleh masyarakat, sedangkan sebentar lagi nama kamu akan jatuh. Oh, mungkin keluargamu juga akan menanggung malu atas perbuatan kamu. Ingat itu, Kak. Roda itu berputar, tidak selamanya orang akan berada di atas. Dia akan berada di bawah juga, jika Allah sudah menghendaki, harta tidak berarti apa-apa. Jadi untuk apa dibanggakan. Meskipun aku hanya orang miskin dan tidak punya apa-apa, aku sangat menghargai wanita.''
Dari teras Cassandra dan Lolita hanya mendengarkan percakapan kedua orang itu. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain bersabar menunggu hukum yang akan bertindak.
Setelah selesai bicara dengan Novan, Yunan mengajak istri dan kakaknya untuk meninggalkan tempat itu. Mereka langsung menuju hotel tempat penginapan. Sebab, Cassandra terlihat begitu lelah untuk melakukan perjalanan kembali. Harus beristirahat dan memastikan bahwa Novan akan diseret ke polisi..
Dalam perjalanan hanya terdengar isakan dari Lolita. Aldo pun tak bicara sepatah kata pun. Sepertinya bocah itu masih trauma. Terbukti setiap kali disentuh, ia sangat terkejut.
"Sejak kapan papa kamu melakukan seperti itu, Nak?'' tanya Yunan memastikan.
Aldo menggeleng cepat. Raut wajahnya terlihat sangat pucat seperti orang yang ketakutan.
'''Aldo kamu sudah besar, jawab yang jujur,'' tanya Yunan kembali mendesak. ''Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang jahat sama kamu.''
Aldo menundukkan kepala. Setelah beberapa saat hening, Ia menceritakan apa yang terjadi di rumahnya beberapa bulan terakhir ini. Ternyata Novan mulai marah-marah saat perusahaannya dinyatakan bangkrut. Setiap hari pria itu menjual aset-aset yang dimiliki hingga habis. Rumah mewah, mobil dan beberapa aset lainnya pun terjual habis. Itu yang ia dengar dari papa dan mamanya saat bertengkar.
''Beberapa kali papa juga pernah memukul mama, Om,'' lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
''Apa benar itu, Kak? Kenapa kemarin kakak gak cerita padaku?'' tanya Cassandra.
Lolita mengusap air matanya yang terus saja mengalir. Ia mencoba kuat seperti Cassandra yang dulu memang tidak pernah disayangi oleh ibunya namun bisa berdiri sendiri.
''Aku pikir setelah mendapatkan uang, Mas Novan tidak akan marah-marah lagi, Ndra. Aku kira dia akan kembali seperti dulu lagi, tapi aku salah, justru dia lebih kasar dan menganggap aku ini perempuan lemah. Sebenarnya waktu itu aku ingin lari, Tapi kasihan Aldo,'' papar Lolita jujur.
Berarti waktu datang, Kak Lolita sudah dalam keadaan tertekan.
Tanpa disadari, mobil berhenti di depan hotel terdekat. Mereka langsung masuk ke kamar yang dipesan. Yunan juga memesankan makanan untuk kakak ipar dan keponakannya, sedangkan Cassandra segera berbaring. Entahlah, ia benar-benar sudah tak sanggup untuk menopang tubuhnya, terlalu lemas.
''Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?'' Yunan terlihat cemas melihat Cassandra yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Nggak pa-pa, Kak. Cuma butuh istirahat sebentar,'' ucapnya dengan suara lemah dan pelan-pelan memejamkan mata.