
Novan membuka matanya yang masih terasa berat. Pandangannya berkeliling menyusuri ruangan yang sedikit asing. Berhenti pada sosok wanita cantik yang meringkuk di sofa.
Lolita
Memejamkan matanya lagi. Otaknya berputar mengingat apa saja yang terjadi sebelum ia terbaring lemah di brankar itu. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Kisah manis pahit semua semrawut memenuhi pikirannya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bisnisku hancur, semua ini karena kecerobohanku yang sudah terlalu percaya dengan orang lain. Apa Lolita masih mau menerimaku? Tanpa disadari, pertanyaan itu muncul begitu saja.
Suara ketukan pintu mengusik Lolita yang baru beberapa menit terlelap. Terpaksa wanita itu terbangun dan membuka pintu. Sedangkan Novan tetap pura-pura memejamkan mata.
"Cassandra, Yunan. Maaf tadi aku ketiduran." Mengucek matanya dan sedikit menutupnya dengan anak rambut agar kedua adiknya tidak melihat.
"Kakak habis nangis?" terka Cassandra.
Mengangkat dagu Lolita lalu memeluknya. Memberikan sedikit kekuatan supaya tetap tegar menghadapi masalah yang mendera. Suasana kembali mellow kala Lolita mengungkap kesedihannya. Sebagai seorang istri yang disakiti dan diduakan tentu saja ia merasakan sakit yang luar biasa. Hanya saja, tidak ingin semua orang tahu sisi kerapuhannya.
Apalagi beberapa menit yang lalu ia berbicara langsung dengan selingkuhan Novan, dan itu sukses membuatnya semakin hancur berkeping-keping.
"Aku hanya ingat Aldo, Ndra. Selama aku menjaga mas Novan di rumah sakit, tolong jaga dia ya. Katakan padanya, aku akan segera pulang," ucap Lolita di sela-sela tangisnya.
Dada Novan semakin sesak. Bagaimana bisa ia melupakan buah hati yang membutuhkannya. Melupakan dua orang yang sudah menemani hidupnya selama belasan tahun. Menyakiti mereka yang memberikan bahu untuknya.
Bodoh memang, namun itulah yang terjadi. Kini ia hanya bisa meratapi penyesalan. Berharap itu semua berlalu seperti embusan angin.
Cassandra mengangguk. Mengusap kedua pipi kakaknya yang dibasahi dengan kristal bening dan kembali memberikan penyemangat.
"Aku yakin Kakak bisa melewati ini semua, tetap tegar. Kalau Kakak memang sudah tidak tahan dengan kak Novan." Menoleh ke arah Novan yang berbaring lemah di atas brankar. "Minta cerai saja, jangan mau ditindas. Perempuan juga punya hak untuk memilih kebahagiaannya sendiri."
Ucapan Cassandra membuat bulu halus Yunan berdiri. Kepalanya terasa merinding, dadanya bergemuruh hebat. Ada rasa takut yang membuatnya tak bisa berkutik. Diam adalah jalan satu-satunya untuk menghindar dari kesalahan.
Tahu sendiri jika wanita sudah seperti itu, maka apa saja akan menjadi taruhannya. Mereka tak peduli, bahkan seekor gajah pun bisa ditelan hidup-hidup.
Mana mungkin ia berani memberi pembelaan di saat istrinya sedang unjuk gigi untuk menjadi pahlawan wanita. Ah, mengingatkan pada RA Kartini saja. Jika tidak, maka pernikahan yang menjadi tumbalnya.
"Sayang, sepertinya kita harus pulang deh, kasihan Khalisa sudah terlalu lama sama ibu," ucap Yunan mencairkan ketegangan.
Tentu sangat hati-hati ia bicara.
"Ah iya, aku lupa." Menepuk keningnya. Kembali memeluk Lolita dan menepuk punggung sang kakak dengan pelan.
Syukurlah, aku harus lebih hati-hati lagi, aku gak mau menjadi duda. Singa betina sedang mode galak.
Mereka meninggalkan ruangan Novan. Sepanjang berjalan menuju lobi, Yunan tak henti-hentinya menggandeng tangan sang istri. Mengutarakan kata-kata indah dan manis. Menyematkan pujian-pujian konyol yang membuat Cassandra tertawa geli.
"Kita ke mana, nih? Hotel atau vila?" Yunan membukakan pintu untuk Cassandra.
Setelah wanita itu duduk manis, ia membungkukkan badan membantu sang istri memasang seat belt. Memastikan posisinya sudah aman sebelum mobil melaju.
"Bukankah tujuan kita pulang untuk Khalisa, kenapa harus tanya?" celetuk Cassandra masih dengan nada sinis.
"Iya, aku lupa." Pura-pura bodoh demi kesejahteraan rumah tangga yang mulai dibangun kokoh.
Untuk sekarang aku akan mengalah, tapi jangan harap nanti malam kamu yang menang. Tertawa dalam hati.
"Lolita," panggil Novan dengan suara lirih.
Sontak, suara itu membuat Lolita terkejut. Ia bangkit dan bergegas memenuhi panggilan sang suami. Tetap tersenyum meski dalam hati begitu perih setiap kali mengingat perbuatan Novan.
"Apa Mas butuh sesuatu?'' tanya Lolita berusaha lembut. Seperti tidak ada masalah di antara mereka.
Mengusir setumpuk amarah dan kecewa yang menyelimuti. Ingin terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya ingin jungkir balik membenamkan pria itu ke dasar lumpur.
Novan menggeleng tanpa suara. Tangannya mengulur meraih tangan Lolita dan menggenggamnya. Menatap manik mata yang penuh dengan teka-teki. Ada ketulusan dan juga ada kebencian di sana.
"Apa kamu mau memaafkan aku?" Tanya Novan tersendat. Menahan napasnya yang masih terasa berat.
Lolita mengangguk ringan dan tersenyum. Banyak alasan untuk tidak memaafkan Novan, namun Lolita lebih suka meninggalkan pria itu dengan cara yang unik daripada mengundang kekacauan.
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Cepat sembuh."
Mengucapkan kalimat itu dengan semanis mungkin. Membuang rasa kesal yang meledak-ledak di dada. Tidak ingin terlihat rapuh, itu hanya akan membuat Novan besar kepala karena merasa dicintai olehnya.
"Oh ya, maaf aku mengangkat telepon dari Metha. Aku hanya takut tidur kamu terganggu. Kamu bisa menghubungi dia balik." Mengambil ponsel dan memberikan kepada sang pemilik.
Tidak ada jawaban, Novan juga tidak mengambil benda pipihnya dari tangan Lolita. Pria itu memilih untuk diam. Mencerna ucapan Lolita yang terdengar santai.
Kenapa Lolita tidak marah? Tentu saja bingung dengan sikap istrinya kali ini.
Padahal, Lolita sering marah dan membanting semua barang-barang di rumah setiap kali Novan menelpon Metha. Wanita itu juga pernah memohon sang suami meninggalkan simpanannya. Pernah mencoba bunuh diri ketika Novan terang-terangan memiliki wanita lain.
Namun sekarang, semua terlihat berbeda, bahkan dengan santainya menyuruh Novan untuk menghubungi wanita lain di depannya. Wajahnya juga tidak menunjukkan kesedihan, lebih cenderung bahagia.
"Ayolah Mas, kasihan dia mungkin sudah menunggu lama." Meletakkan benda pipih itu ditangan Novan.
Tak lama, Novan mengetik layar ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di telinga.
Sementara Lolita memilih untuk menjauh. Ia kembali duduk di sofa dan pura-pura sibuk dengan majalah di tangannya. takut Novan marah jika pembicaraannya dengan sang kekasih didengar orang lain.
"Halo, Metha," sapa Novan dengan lembut. Melirik sekilas ke arah Lolita.
"Sekarang aku ada di rumah sakit, untuk beberapa hari ini jangan hubungi aku dulu," ucap Novan lalu memutus sambungannya.
Senyum mengembang di sudut bibir Lolita. Ia berdiri dari duduknya lalu menghampiri Novan. Membantu meletakkan ponselnya lagi di meja. Membenarkan selang infus yang sedikit melenceng dari tangan.
"Sekarang kamu makan dulu, setelah itu minum obat."
Membantu Novan bangun kemudian mengambil semangkuk bubur yang diantar suster beberapa menit lalu. Menyuapinya dengan telaten layaknya pasangan yang harmonis.
"Tunggu!" Novan menahan tangan Lolita yang hampir menyuapkan bubur terakhir.
Keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing. Diamnya mereka tiba-tiba membuat suasana sunyi dan tegang. Hanya bunyi monitor yang sesekali menyadarkan Lolita dari lamunannya.
"Kamu kau kembali lagi padaku, kan?" tanya Novan.