
Bab. 75
Jika Kendra berpikir kalau malam keduanya dengan Dilla akan lebih mudah, sungguh pria itu sangat salah besar. Karena apa? Justru untuk malam kedua bagi mereka Kendra harus berusaha sangat keras.
Bagaimana tidak, jika wanita yang masih nyaman dalam lelapnya itu beberapa kali memukul Kendra. Seolah Kendra itu bagai nyamuk yang sedang mengganggu tidurnya. Di tambah lagi ketika mulut nakal Kendra yang mengulum bulatan mungil berwarna kemerahan di dada Dilla. Sudah tidak terhitung wajah dan kepala Kendra kena pukulan serta tamparan dari pemiliknya.
Apa Kendra tetap lanjut dengan semangat yang menggelora? Oh ... jelas gairaahnya yang tadi menggebu, sekarang langsung meredup. Bagai bara apa yabg disiram sama pasir.
"Sayaaangg ....!" geram Kendra yang kemudian mencekal tangan Dilla dan menguncinya di atas kepala wanita itu.
Antara tubuh nya yang terasa sangat lelah dan juga rasa kantuk tak tertahan, membuat Dilla sangat malas untuk beranjak dari alam mimpi. Meskipun samar-samar Dilla merasakan sentuhan yang begitu nyata di tubuhnya. Bahkan dinginnya ac pun mulai terasa begitu jelas.
"Kalau kamu terus menolakku, lalu bagaimana caraku bertemu dengan Dedek, Yaang? Aku pingin banget ngenalin diri sebagai ayahnya," rengek Kendra seperti orang gila.
Tinggal main masuk saja, makai percakapan segala macam. Karena beranggapan tidak mau memperk*sa istrinya sendiri dan ingin membangunkan Dilla dengan caranya. Namun nyatanya yang dibangunkan sangat susah sekali. Padahal bagian atas tubuh Dilla sudah sangat polos. Sebuah benang yang disebut kain itu pun sudah Kendra hilangkan.
"Ntar kalau nggak aku jengukin, yang ada dia nggak kenal sam ayahnya sendiri loh! Masa iya nanti pas dia keluar manggil aku dengan sebutan om? Kan ya nggak lucu. Efek nggak pernah dijunguk sama sekali."
Kendra masih setia bermonolog sendiri sembari tetap dalam posisinya yang masih mengunci pergerakan tangan Dilla dan mengungkung wanita itu di bawahnya.
Dalam posisi ini, sungguh sebenarnya semakin membuat Kendra tersiksa. Posisi Dilla yang begitu menggoda dengan dua bukit yang semakin menjulang ke arahnya. Lagi dan lagi untuk yang ke sekian kali benda itu menantang Kendra.
Pria itu melepas tangannya dan merambah ke bawah. Meremas dua benda yang sedari tadi menantang. Menyesapnya dengan sangat kasar. Tidak peduli Dilla marah sekarang ini. Karena tujuannya sangat baik. Yakni menjenguk sang anak. Dan biasanya tujuan yang baik itu akan mendapat jalan, bukan?
Begitulah isi di kepala Kendra saat ini. Benar-benar pria itu sudah sangat tidak tahan untuk melakukan ahem-ahem dengan sang istri.
Rupanya, perbuatan Kendra tidak sampai di situ saja. Meskipun saat ini rasanya seperti melakukannya dengan boneka, sebab tidak mendapat respon. Kendra pun dengan kasar dan menggebu menyerang bibir Dilla yang terbuka. Terdengar suara desahaan lirih dari mulut itu. Membuat Kendra menaikkan alisnya serta tersenyum miring.
"Ck! Aku tahu kamu berpura-pura tidur, Yaang. Biar aku lepasin, kan?" kekeh Kendra. "Nggak semudah itu mau ngelabuhin aku," imbuh Kendra lagi yang semakin brutal.
Sementara itu di sisi lain. Bohong jika Dilla tidak merasakan apapun. Tubuhnya masih sangat peka dan bekerja sangat normal. Merasakan sentuhan demi sentuhan yang diberi oleh Kendea, jelas tubuhnya akan merespon dengan sangat baik. Bahkan suara laknatnya pun ingin lolos. Namun, sekuat tenaga Dilla berusaha untuk tidak membuka mulutnya, meskipun itu gagal. Apalagi ketika Kendra dengan sangat tidak sabarannya langsung membenamkan wajahnya di pusat inti dan menggodanya dengan lidah.
"Eemmhhhhh ....!"
Itulah suara laknat Dilla yang ingin dia sembunyikan. Akan tetapi rupanya ia tidak tahan dan tangannya secara refleks menjambak rambut Kendra. Membuat orang yang begitu nakal di bawah sana mengangkat satu alisnya dengan senyum seringai.
"Kamu harus dihukum, Yaang," ujar Kendra tanpa beralih dari sana.
Butuh es nggak nih kalian, Yaang? Yuta kok merasa gerah, ya? wkwkwk kaboorr