Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 53. Sepupu Barbar



Bab. 53


Sontak dosen itu pun langsung memukul lengan Dilla di saat Dilla sudah sampai di depannya.


"Bisa-bisanya kamu seperti itu. Duduk kembali!" perintah dosen itu sambil menahan geram agar tidak terlalu menyakiti adik sepupunya.


"Katanya suruh keluar?" goda Dilla yang justru semakin menantang sepupunya tersebut.


"Duduk atau kuambil semua?" tantang dosen itu menatap penuh arti. Membuat Dilla yang semula tersenyum senang karena bisa bercanda dengan sepupunya lagi, kini berubah besengut.


"Nggak lucu!" balas Dilla namun berbalik arah juga. Kembali ke tempat duduknya.


Dosen itu pun tersenyum menyeringai. Senang sekali bisa mengatur adik sepupunya ini yang sesuai dengan cerita omnya. Sangat susah diatur.


Dilla yang tidak bersemangat mengikuti materi dosen tersebut, wanita itu beberapa kali menghela napas malas. Bahkan tidak satu pun yang dia dengarkan.


"Lo kenal dengan dosen killer ini, Dill?" tanya Amira. "Kan ini pertemuan lo dengannya. Pas dia masuk, lo-nya nggak masuk waktu itu. Terus kalau nggak salah dia baru balik dari luar negeri, kan?" cecar Amira yang bingung.


Dilla menaruh kepalanya di atas meja. Cuaca siang ini terasa begitu panas. Sehingga membuat kepalanya terasa pusing.


"Kenal lah. Orang dia kakak sepupu gue. Kayaknya dia sengaja di suruh pulang sama papa deh," tebak Dilla yang kemudian langsung menegapkan tubuhnya.


"Buat?" tanya Amira masih penasaran.


"Ya buat didik gue di perusahaan sama ngawasin gue di kampus lah!" jawab Dilla kesal.


Jika Rahuella pulang, itu artinya hidupnya mulai saat ini tidak akan bisa tenang. Karena hanya wanita itu yang bisa mengatur Dilla tanpa paksaan. Melainkan menggunakan kekerasan seperti tadi. Dan bodohnya Dilla selalu tidak bisa melawan ucapan Ella, sapaan wanita yang berbeda lima tahun dari Dilla.


"Jangan ngobrol di jam pelajaran saya!"


Seketika membuat keadaan kelas semakin hening. Sedangkan Dilla melayangkan tatapan yang sangat tajam, pun di balas demikian oleh Rahuella sembari menaikkan alisnya.


Dilla mendengkus kesal. Mau tidak mau dia harus mematuhi peraturan Rahuella di jam pelajaran dia.


'Awas aja nanti kalau sudah sampai rumah. Bakalan gue bales.' gumam Dilla penuh dendam pada sepupunya sendiri.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang pria berpakaian rapi dan bersiap untuk keluar dari rumahnya. Penampilan pria itu lebih formal dari sebelumnya. Karena jika sebelumnya hanya mengenakan kaos oblong dan juga celana kinos selutut. Kini pria iru mengenakan setelah kemeja dan dipadukan dengan jas warna senada. Rambut yang disisir rapi ke belakang, semakin menambah daya pikat pria itu.


"Ganteng bener anak Mama. Mau ke mana jam segini, Kend? Bukannya tadi nggak masuk ke kantor?" tanya bu Mawar pada putranya.


"Ada meeting bentar, Ma. Palingan ntar jam makan siang juga udah selesai," jawab Kendra.


"Nggak jemput Dilla?" tanya bu Mawar sembari mengingatkan. Karena bu Mawar pernah merasakan hamil muda dan itu rasanya selalu ingin diperhatikan.


"Nanti kalau selesai aku jemput. Kalau nggak bisa ya aku titipin ke Nofan," balas Kendra. "Tapi semisal Biru bisa ngatasin ya Kendra sendiri yang jemput." jelas Kendra.


Bu Mawar menggeleng kepala di barengi dengan helaan napas pelan.


"Wanita hamil itu emosinya tidak menentu, Kend. Kamu harus lebih perhatian dan lebih peka. Kalau bisa jadi cenayang juga nggak apa-apa. Soalnya, apa yang diucapkan oleh ibu hamil itu biasanya beda dengan apa yanga ada di hatinya." beritahu bu Mawar sesuai dengan pengalamannya.


Kendra membenarkan hal tersebut. Akan tetapi meeting kali ini tidak bisa Biru handle. Sebab pria itu juga memiliki tugasnya sendiri.


"Nanti Kendra usahakan, Ma," jawab Kendra yang kemudian langsung pamit.


"Hati-hati di jalan. Ingat, kalau sama Dilla jangan ngebut dan bawa dia ke rumah. Mama pingin ngobrol sama dia. Kalau di kampus nggak bisa leluasa," ucap bu Mawar yang di angguki oleh Kendra.