
Bab. 58
Dopen.
Ada syaratnya.
Membaca pesan itu, Dilla mendengkus kesal. Kalau saja perutnya mau makan dari tangan orang lain, bukan pemberian pria itu. Mungkin sudah Dilla lakukan dari awal mengetahui ia hamil.
Namun anehnya, ia hampir tidak bisa makan makanan yang bukan pemberian Kendra. Apa-apa maunya pria itu yang membelikan. Entah dia beli di mana, terserah. Yang penting pria itu yang datang dan memberikan kepada dirinya makanan tersebut.
"Ck! Kenapa ribet banget sih jadi orang. Pantas saja dia juga rewel banget," omel Dilla yang kemudian mengusap perutnya. "Kamu tuh jangan niruin sikap Papimu, Dek. Harusnya nurut kalau Mami mau makan apa aja itu ya diterima. Nggak malah pilih-pilih. Jadinya gini, kan? Papimu bakalan minta apa lagi ke Mami," ucap Dilla pada jabang bayinya yang masih berada di dalam kandungan.
Tidak mau urusan perutnya semakin ribet, lantas Dilla menelpon orang yang membuat siangnya begitu menyebalkan.
"Dasar, nggak peka banget. Nggak tau apa kalau orang hamil itu gampang laper!" semprot Dilla ketika sambungan teleponnya terhubung dan mendapat sahutan dari seberang sana.
Bukannya mendapat balasan yang ingin Dilla dengar, Dilla justru mendapat kekehan dari Kendra di seberang sana. Pria itu seolah senang sekali melihat dirinya dalam keadaan lapar.
"Mas, saya tuh udah laper banget. Buruan beliin dan di bawa ke sini," rengek Dilla dengan nada manja.
Beruntung ia saat ini sendirian tanpa dikawal kedua sahabatnya. Karena mereka pamit pulang lebih dulu.
Seperti biasa, Amira harus segera mengisi acara di cafe, karena kebetulan ada yang sedang ulang tahun dan diadakan sore nanti, sedangkan Alex harus membuka tokonya lebih awal. Agar mendapat pembeli yang lebih banyak dari sebelumnya.
Sementara Dilla? Dia harus menunggu jemputan dan tidak bisa menyuruh sopirnya. Bukan karena tidak diberi fasilitas lagi. Tetapi entah kenapa ia ingin lebih lama berada di dekat Kendra. Mendapat perhatian pria itu membuat Dilla nyaman.
"Aku sedang ada penumpang, gimana dong?" sahut Kendra dari seberang sana.
"Bilang aja sama penumpang kamu, kalau kamu sedang ada urusan!" kesal Dilla yang tidak sabaran. Lebih lagi pria itu malah memilih untuk mengantarkan penumpangnya daripada dirinya.
"Ck! Jomblo sih emang jomblo. Tapi kan kamu udah mau jadi Bapak. Harusnya juga perhatiin anak kamu dong, Mas! Dia sedang lapar. Tahu sendiri dari pagi cuma makan rujak manis doang, loh!"
Kendra semakin tertawa. Sepertinya pria itu sangat suka sekali mendengar Dilla yang marah-marah seperti ini.
"Bukannya dia anak kamu?" goda Kendra dari seberang sana.
"Mas!" sentak Dilla.
Pria itu tahu kebiasaan dan kelemahan Dilla yang tidak bisa makan jika bukan dari Kendra. Dia benar-benar sengaja sekali memanfaatkan keadaan.
"Ck! Kenapa kamu nyebelin banget sih. Tinggal belikan kau makanan, beres kan!"
Dilla mulai emosi, bahkan napasnya terdengar menggebu. Kalau saja Kendra ada di sana, mungkin bisa melihat tanduk Dilla yang sudah keluar. Siap menyeruduk mangsanya.
"Ya maunya gimana, Dilla. Ini aku masih nganterin penumpang," elak Kendra yang tentu saja berbohong. Bahkan mobil yang Kendra kemudikan pun sudah sampai di kawasan kampus.
Dilla yang sangat kesal dan jengkel, lantas berdiri sembari memegang ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Ya udah, bilang aja kalau istrimu sedang ngidam. Beres, kan? Bikin emosi aja dari tadi."
Dilla berusaha untuk mengontrol emosinya sendiri di kala tersadar bahwa dirinya tidak boleh seperti ini. Karena akan mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya. Beberapa kali Dilla menarik napas panjang, mencoba untuk menstabilkan emosinya.
"Oke! Dikabulkan secepatnya!" sahut Kendra terdengar begitu semangat. Membuat Dilla bingung di tempatnya saat ini.
"Hah? Apanya?" tanya Dilla tidak mengerti maksud dari perkataan Kendra. Namun sayangnya sambungan telepon di antara mereka sudah diputus secara sepihak oleh Kendra. Membuat Dilla semakin geram.