
Bab. 86
Dilla tidak bisa kabur jauh dari Kendra. Karena dirinya tadi ke kantor suaminya dengan mengendarai taxi, hingga ia agak kesulitan mau langsung pulang. Harus pesan lewat online atau menunggu taxi yang lewat. Sedangkan suaminya itu terus mengejarnya dengan kecepatan penuh, mungkin.
Dan di sinilah Dilla berakhir. Di dalam mobil suaminya sendiri. Namun, wanita itu tetap kukuh pada pendiriannya yang ingin puasa bicara sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tentu saja, Kendra tidak tinggal diam. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah mereka, Kendra menawari Dilla apa saja yang pria itu lihat. Dari jajanan yang dijual oleh abang-abang di pinggir jalan, di mana yang selama ini menjadi selera Dilla. Hingga makan dan belanja di sebuah mall ternama yang ada dk Jakarta.
Akan tetapi, semuanya sia-sia. Sebab Dilla menolaknya dengan lirikan sinis nya tanpa mau membuka mulutnya barang sedikit saja.
"Ayang ... mau sampai kapan kamu diemin aku kayak gini?" tanya Kendra dengan pasrah.
Dia tidak tahan jika Dilla mendiami dirinya sepanjang perjalanan mereka pulang hingga sampai di rumah mereka saat ini. Pria itu bahkan bersikap sangat manis sedari tadi. Namun, tetap saja tidak merubah pendirian Dilla sedikit pun.
Dilla yang berjalan lebih dulu dari Kendra pun segera masuk ke kamar. Lalu melepas semua pakaiannya di damping ranjang, membuat Kendra menelan salivanya dengan susah. Ingin rasanya memeluk dan menindih sang istri, akan tetapi nyali Kendra menciut di kala melihat kilatan amarah yang terpancar dari mata Dilla.
"Yaang ... mandi bareng, ya? Biar cep—"
"Ogah!" tolak Dilla mentah-mentah.
Sekalinya bersuara, sungguh mengejutkan Kendra. Bahkan wanita itu menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras. Untung saja pintunya terbuat dari kayu. Coba kalau dari kaca sama seperti pembatas yang ada di dalamnya, sudah jelas Kendra bisa menyusul Dilla masuk ke dalam. Karena bisa dipastikan pintu itu bakalan hancur berkeping jika di tutup dengan cara barusan.
Bagaimana tidak, seorang wanita merupakan kelemahan terbesar bagi seorang laki-laki. Di tambah lagi mereka orang yang sangat di sayangi. Terlebih juga jika menuruni sifat Dilla. Ah ... Kendra tidak bisa membayangkan nasibnya ke depan bakalan seperti apa.
"Wanita barbar memang sangat menggoda. Tapi jika anak sendiri yang barbar? Yang ada aku bakalan jadi the next Papa Atmadja." kekeh Kendra.
Sembari menunggu sang istri mandi, Kendra memunguti pakaian Dilla yang tergeletak begitu saja di lantai.
"Mau heran, tapi sayang banget. Udah deh, Ken. Terima aja nasib lo yang manis ini," ucap Kendra di saat mau mengeluh. Bisa-bisanya dirinya yang membereskan kamar berantakan akibat ulang sang istri. Bahkan wanita itu tadi langsung melempar bukunya ke atas kasur.
Baru juga ingin merebahkan tubuhnya sebentar sebelum menghadapi tingkah Dilla yang sangat unik, Kendra mendengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"Apa, Yaang?" tanya Kendra yang segera berlari menuju pintu kamar mandi. Dengan pelan, membuka pintu tersebut dan melihat istrinya yang sudah memakai jubah mandi sedang bersandar di wastafel.
Sedangkan Dilla menatap manja ke arah Kendra sembari mengulurkan kedua tangannya.
"Gendooong ..." pinta wanita itu dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Membuat Kendra melongo.
Bukannya senang, karena Kendra yakin setelah ini masih akan ada badai yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Menurut pengalaman dirinya mengenal Dilla sejauh ini.