
''Terima kasih semuanya, aku pulang dulu ya,'' pamit Lolita kepada semua teman-teman seperjuangan.
''Hati-hati ya, Mbak. Salam untuk Cassandra,'' ucap beberapa orang yang memang sudah mengenal sang model.
''Ah iya, sekarang dia hamil lagi anaknya yang kedua.'' Lolita tak segan mengungkap kehamilan sang adik. Berbagi kebahagiaan pada mereka semua.
"Benarkah?" Bahkan sebagian tak percaya itu.
Lolita mengangguk. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Menyelempang tas lalu keluar dari tempat pemotretan itu. Kakinya berhenti di teras, menepuk keningnya dengan pelan.
''Aku kan gak bawa mobil.''
Hampir saja merogoh ponsel dari tas, seseorang dari arah parkiran tengah memanggil membuat Lolita menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata itu adalah Novan. Entah sejak kapan pria itu datang, membuat Lolita sedikit enggan. Namun, ia tak bisa menghindar jika sudah seperti ini.
''Aku sudah nungguin kamu dari tadi.'' Melihat jam yang melingkar di tangannya. ''Sudah hampir dua jam,'' imbuhnya lagi.
''Tadi kan aku sudah bilang akan pulang sendiri, kenapa kamu jemput segala.'' Lolita memasang wajah judes. Namun, sedikit pun itu tak berpengaruh bagi Novan.
''Ya sudah pulang yuk! Setelah ini aku ada urusan pekerjaan.'' Novan meraih tangan Lolita dan mengajaknya menuju mobil.
Tanpa banyak protes, Lolita pun mengikuti suaminya. Dari lubuk terdalam ia tersentuh dengan perjuangan Novan yang mengharapkannya kembali.
Kali ini mereka tak langsung pulang ke rumah, Novan mengjak Lolita datang ke suatu tempat. Tempat yang mungkin masih ada di benak sang istri.
''Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Lolita lirih. Tentu ia sangat ingat dengan tempat itu.
Novan tersenyum. Ia hanya membuka kaca mobil. Menunjukkan beberapa tempat yang memberikan banyak kenangan bagi mereka berdua.
''Kamu lihat pohon beringin itu?'' Menunjuk pohon beringin besar yang tumbuh di tepi danau.
''Di sana pertama kali aku menembakmu. Pohon itu juga yang menjadi saksi bahwa kamu pernah menolakku tiga kali,'' lanjutnya terkekeh.
Mengenang saat mereka pertama kali menjalin hubungan. Tak dapat dipungkiri, dulu Lolita bukanlah orang yang mudah percaya dengan seorang pria. Butuh perjuangan berat untuk mendapatkannya, bahkan Novan sempat putus asa.
Lolita membisu. Baginya itu sudah tak penting lagi. Toh, semua impiannya sudah hancur saat Novan memiliki wanita lain. Harapan-harapannya runtuh seketika. Masa depan yang dirancang dengan sebaik mungkin telah pupus dengan hadirnya orang ketiga.
''Aku mau pulang,'' ucap Lolita tanpa menatap.
Untuk saat ini ia benar-benar tidak ingin mengingat masa lalu indah itu. Baginya hanya ingin mandiri dan fokus bekerja, membiayai Aldo.
''Yakin, kamu gak mau turun?'' tanya Novan memastikan.
''Gak, aku capek.'' Sejenak, Novan memejamkan mata. Mungkin ini memang belum waktu yang tepat untuk meluluhkan hati sang istri.
''Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.''
Melajukan mobilnya menuju rumah Margareth.
Setelah mengantar Lolita pulang, Novan kembali ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum usai.
''Selamat sore, Pak. Maaf, saya hanya ingin memberitahu bahwa pengajuan permohonan Bapak di PT cahaya ditolak," ucap seorang wanita yang bernama Cindy, dia adalah sekretaris baru Novan.
''Apa? Kalau begitu kita harus mencari perusahaan lain." Novan duduk di kursi kebesarannya.
Ia membuka laptop dan mulai mencari data-data perusahaan terbesar di kota tempat tinggalnya.
''Erlan Abimanyu. Baiklah, atur pertemuan dengan perusahaan Pak Erlan. Pasti dia mau menerima kita.'' Yakin.
Cindy langsung menghubungi perusahaan yang dikatakan Novan, namun ia tak langsung bicara dengan sang pemilik, melainkan dengan sekretarisnya.
''Katanya, besok kita harus datang ke perusahaan beliau,'' ucap Cindy seperti yang di katakan wanita di ujung telepon.
''Baik. Aku setuju.'' Tanpa pikir panjang, Novan langsung menyetujuinya, berharap Erlan bisa membantunya seperti yang diinginkan.
***
Perlahan Yunan membuka matanya yang masih terasa berat. Menoleh ke arah samping. Ternyata Cassandra sudah tidak ada. Beralih mengedarkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Tak lama kemudian disusul suara orang muntah di dalamnya.
Secepat kilat hembusan angin, Yunan turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Menghampiri Cassandra yang sibuk menumpahkan isi perutnya.
''Kamu gak pa-pa, Sayang?'' Memijat tengkuk leher sang istri dengan lembut.
''Aku gak apa-apa, cuma mual sedikit,'' jawab Cassandra sembari mencuci mulutnya dengan air mengalir.
Menatap bayangan wajahnya dari pantulan cermin lalu tersenyum melihat kekhawatiran Yunan. Berbalik badan hingga bersihadap dengan sang suami. Tangannya mengulur, melingkar di leher pria tampan itu.
''Hari ini aku pingin jalan-jalan sama kamu,'' pinta Cassandra manja.
Semenjak menikah, ini pertama kalinya wanita itu terlihat sangat manja dan kekanak-kanakan. Namun, ini membuat Yunan semakin bahagia. Statusnya sebagai seorang suami kembali hidup.
''Oke. Aku akan menemani kamu ke manapun kamu pergi.'' Mengangkat tubuh Cassandra dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Membaringkannya di atas ranjang dengan pelan. Mencium keningnya dengan lembut. Lantas, mengambil ponselnya yang berdering berulang kali.
''Maaf, Pak. Hari ini ada pertemuan dengan klien,'' ucap suara cempreng dari ujung telepon.
''Jam berapa?'' tanya Yunan serius.
Pasalnya, ia sudah berjanji untuk menemani Cassandra dan tidak mungkin ingkar janji.
''Jam sebelas, Pak,'' jawab suara itu lagi.
''Siapa namanya dan di mana? Langsung tanyakan apa yang akan dibahas?" tanya Yunan bertubi-tubi.
''Novan Jauhari. Katanya dia akan mengajak Bapak kerja sama dengan perusahaannya yang baru dirintis satu bulan yang lalu.''
Novan Jauhari. Bukankah itu nama kak Novan, suaminya kak Lolita? Yunan hanya bicara dalam hati.
Jika sudah tahu begini, ia sangat malas bertemu dengan kakak iparnya itu. Bukan apa-apa, hanya tidak ingin dipandang karena kedudukannya yang sudah bersinar. Ia ingin tetap sama seperti dulu, hanya pria biasa.
''Kamu saja yang datang. Hari ini istriku ingin jalan-jalan denganku," jawab Yunan tegas. Lalu, memutus sambungan dan meletakkan ponselnya di atas meja.
Kembali, mendekati Cassandra yang sudah berbaring lemah. Mendekapnya penuh dengan cinta dan kehangatan. Tak lupa menyapa anaknya yang baru akan hadir.
''Kalau pertemuan itu sangat penting, pergilah! Kita bisa jalan-jalan di lain waktu.'' Sebagai istri seorang CEO, Cassandra sangat pengertian dengan kesibukan suaminya.
''Tidak, Sayang. Kamu lebih penting dari apa pun. Lagipula klien itu kak Novan, aku malas sekali bertemu dengan dia," jawab Yunan cuek.
Kedua alis Cassandra saling terpaut. Menepuk lengan sang suami yang sangat nakal sudah mengabaikan saudara iparnya.
"Biarkan dia menerima pelajaran dariku dulu, tapi aku janji akan tetap membantunya." Yunan memejamkan matanya lagi. Masih ngantuk karena semalam begadang menemani sang istri.